Kembali Pada yang Tak Ada

27 10 2015

pergi

Akhir tahun 2011 S memutuskan untuk pergi merantau. Meninggalkan Padang. Tempat S bersekolah, bergaul, membuat ikatan pertemanan, tumbuh besar dan jatuh cinta. Hampir seluruh teman-teman S berasal dari Padang dan sekitarnya. Kalaupun ada dari daerah lain, jumlahnya tak banyak dan tak begitu dekat secara pribadi.

S belum pernah bepergian jauh sendirian. Dengan bus apalagi pesawat terbang. Biasanya selalu ditemani kerabat atau teman-teman. Lebih sering dengan pacar yang posesif. Luar Sumatera Barat amat asing bagi S. Meskipun sudah ada internet, buku dan televisi yang menayangkan tentang kota-kota besar itu, tetap saja S tak menghayatinya. S adalah jenis yang perlu mengalami langsung agar paham.

Merantau adalah salah satu hal yang ingin S alami sendiri. Bagi sukunya, Minangkabau, merantau merupakan hal biasa. Terutama bagi anak laki-laki. Keinginan untuk datang ke daerah yang sama sekali baru telah diturunkan dari nenek moyang. Bukan untuk sekedar mencari uang tapi juga ilmu dan pengalaman. Ada yang kembali, kebanyakan menetap dan menikah dengan penduduk asli. Saat para perantau itu pulang sebentar menengok orang tua mereka yang mulai renta, mereka menyebar cerita. Bahkan penampakan mereka saja sudah menjadi topik hangat. Barangkali itu yang membangunkan para anak muda yang setengah teler untuk mengikuti jejak mereka.

Akan tetapi semua alasan tersebut tak berlaku bagi S. Uang dan pengalaman hanya bonus. Merantau adalah usaha (yang diharapkan) dapat mengembalikan harapan dan kepercayaannya. Harapan bahwa hidup bisa lebih baik dari ini. harapan bahwa ia bisa membuat orang lain bahagia. Harapan bahwa selalu ada harapan. Dan tak ada salahnya untuk berharap. Ia ingin bisa percaya lagi pada manusia. Setelah begitu banyak yang mengkhianatinya. Dan siapa tahu dengan pergi ia akan merindukan dan dirindukan. Terdengar pilu dan indah sekaligus.

Ia selalu punya ketertarikan yang kelewat besar untuk mencoba, melepaskan yang sudah ada demi hal abstrak yang asing. Ia kadang jatuh dan gagal. Kadang tertawa lepas walau sebentar. Entah apa yang dicarinya. Tabiat ini terasa ganjil bagi sebagian besar orang dekat S. Ia sering bahkan terlalu sering dilanda kebingungan dalam mengambil keputusan. Ia sendiri tapi tak sendirian. Ia di negeri asing namun selalu dikenali. Ia bebas namun sulit bergerak. S berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Dari satu kota ke kota lain.

Jika kembali ketempat semula kau berawal bisa dikatakan pulang, maka S hari ini melakukannya. Ia pulang menemui Ibu, Ayah dan adik satu-satunya. Sekali lagi, ia membuat orang-orang sekitar bertanya-tanya. Apa yang tengah ia rencanakan? Maka, demi mengurai segala kebingungan-kebingungan itu, S memutuskan untuk menuliskan semua cerita dari perjalanannya, apa yang ia pikirkan, alami dan mengapa akhirnya ia kembali. Semoga para tetangganya yang usil itu membaca tulisan ini. Serta teman-temannya yang hamil segera melahirkan. Amin.

Padang, 26 Okt. 15





Nenek dan Tetangga Seberang Jalan

12 10 2015

Nenek dan Tetangga Seberang Jalan

“ Nenek sedang apa? Hampir setiap hari melihat ke arah jendela.”

“Tetangga di seberang jalan kita. Dia tampak kesepian”

Percakapan berhenti di sana. Jika kulanjutkan, nenek tak akan senang. Ya, dia akan bercerita tentang tetangga seberang jalan yang setahuku tidak pernah keluar rumah. Bahkan seperti apa rupanya saja aku tak pernah tahu. Dan aku akan berpanjang lebar dengan segudang analisis berdasarkan logika bahwa sebaiknya ia beristirahat. Ketimbang sepanjang waktu menatap jendela, memperhatikan rumah seorang pensiunan artis.

Dari desas desus yang kudengar antar pembantu rumah tangga, rumah itu sudah lama sekali dijual namun entah mengapa begitu sulit laku. Seperti yang diceritakan Marsiah yang selalu ingin dipanggil Marisa. Ia pernah melihat jendela di kamar paling selatan di rumah itu diterangi cahaya lampu. Waktu itu malam minggu, ia habis pacaran dengan salah seorang satpam kompleks kami yang paling gagah menurutnya. Ya, Marisa memang diberi waktu khusus setiap malam minggu untuk pacaran karena itu persyaratan yang ia ajukan saat resmi diterima kerja. Selain waktu cuti 24 hari setahun lengkap dengan uang cuti. Ditambah lagi ia menawar gaji di atas rata-rata karena ia bisa memasak dan mengurus anak sekaligus. Jika tidak, ia bisa saja pergi dan di luar sana puluhan majikan memperebutkannya.

Ia bercerita terlalu bersemangat hingga air ludahnya menyembur ke wajahku. “Aku berani bersumpah, lampu kamarnya menyala dan ada bayangan orang melintas.”. Saat itu memang sudah lewat tengah malam. Ia dan pacarnya biasanya bertemu di sebuah tanah kosong tak jauh dari rumahnya dengan sebuah pohon besar yang menaungi. Tadinya beberapa remaja yang tinggal di balik tembok tinggi komplek, yang kami sebut ‘kampung’ juga ikut pacaran di sana. Namun pacar Marisa adalah satpam yang berpengaruh. Mereka semua diusir dan otomatis lokasi itu ekslusif untuk mereka berdua. Memadu kasih kadang membuatmu lupa waktu, tak terkecuali bagi Marisa. Ia panik. Ternyata sudah lewat pukul 12 malam. Harusnya pukul 10 ia sudah di rumah. Ia dan si satpam bergegas pergi. Sepanjang perjalanan pulang mereka masih saja bermesraan. Rumahnya berjarak sekitar 500 meter dari tanah kosong tepat di sebelah rumahku. Tiba-tiba pacarnya meremas payudara Marisa. Mereka pun berhenti agar lebih kosentrasi. Posisi mereka tepat di depan rumahku. Semula semua gelap. Bahkan lampu jalan pun sedang rusak hingga menambah gelap malam itu. Seketika Marisa terbelalak dan berteriak. Ia melihat lampu kamar tiba-tiba hidup dan sesosok perempuan melintas. Ia hanya bisa mematung. Kakinya tak mampu bergerak mengikuti perintah otaknya. Sementara si pacar kabur dengan kecepatan lari seorang atlet. Usai kejadian itu mereka bertengkar. Marisa kesal lelaki yang selalu memujinya seksi itu meninggalkannya begitu saja di pinggir jalan, menyelamatkan diri sendiri. Hubungan mereka porak poranda.

Lain Marisa, lain Inayah. Perempuan yang belum pernah bertemu kedua orang tuanya itu mengatakan bahwa ia pernah melihat seorang perempuan tua menyiram tanaman di malam hari. Ia bahkan menyapanya. Perempuan itu menyunggingkan senyum. Sepertinya ia sudah tak bergigi lagi, senyumnya jadi agak menakutkan. Setelah mereka berdua bercerita, yang lain berganti-gantian bercerita Seperti sedang ikut lomba. Siapa yang paling aneh, paling menakutkan, paling mencengangkan, paling mutakhir! Tapi bagiku, semuanya bualan. Perempuan-perempuan itu hanya ingin yang lain mengagumi cerita mereka. Dongeng mereka tepatnya.

Rumah itu persis di depan rumahku. Jadi sedikit banyak aku tahu bahwa belum ada yang menempati rumah itu semenjak pembeli terakhirnya pindah, pasangan muda dengan satu orang anak kira-kira berumur tiga atau empat tahun. Mereka sering berpergian. Jarang sekali ada di rumah untuk waktu yang lama. Makanya aku sering kesal kalau nenek sudah bicara ngalor-ngidul tentang rumah itu. Kuakui, bentuknya memang agak seram. Luasnya dua kali lipat rumahku. Cat nya sudah mengelupas di sana-sini, membuatnya terlihat kumal dan suram. Ada sebuah pohon besar dengan tanaman-tanaman tak terurus. Beberapa pot pecah berserakan. Rumput liar mulai tumbuh menjalar-jalar memakan teras. Tapi tak berarti semua kombinasi itu lantas membuatnya menjadi rumah hantu, bukan?

Orang-orang hanya butuh desas-desus sebagai hiburan di sela-sela kesibukan mereka yang monoton. Soal kebenaran? Ah, mereka tak terlalu peduli. Kebenaran seringkali menyakitkan. Sedangkan otak mereka sudah terlalu sakit untuk menerima penyakit tambahan. Bagi kami, para pembantu, tak ada bedanya dengan majikan. Kami bangun pagi-pagi sekali. Seorang asisten rumah tangga biasanya mematikan lampu, membuka tirai dan jendela agar udara segar bertukar dengan karbondioksida busuk yang dihasilkan manusia tidur. Lalu menyiapkan sarapan sebelum para tuan berangkat ke kantor. Bagi Baby Sitter tentu memandikan anak, menyiapkan keperluan sekolah lalu mengantar mereka jika tak ada jemputan. Usai itu, kami bisa lebih santai. Menyapu dan mengepel rumah lalu menyiapkan makan malam. Selebihnya? Kami menonton televisi di sofa ditemani teh hangat dan cemilan dari luar negeri. Atau menelepon rekan sejawat dan pacar sambil tertawa-tawa sekerasnya. Tapi jangan tanya soal majikan kami. Mereka bahkan bangun lebih pagi dan sampai di rumah lagi pukul sepuluh hingga tengah malam. Muka mereka seperti pakaian kotor yang belum dicuci berhari-hari. Kadang mereka sudah terlalu lelah untuk makan malam. Seringnya langsung masuk kamar dan tidur seperti orang mati. Makanan yang kami buat susah payah pun terbuang sia-sia karena si majikan makan di jalan, di dalam mobil yang terjebak macet. Kota gila!

Sungguh aku tak mampu mencerna perilaku majikanku. Mencari uang dengan mengerjakan suruhan orang lain lalu membayar orang lain lagi untuk melakukan suruhannya. Padahal mereka tidak menyukainya. Kalau aku? Tak perlu ditanya, aku suka sekali memasak dan beberes rumah. Ada semacam ledakan kecil dihatiku saat orang lain lahap memakan masakanku. Dan aku puas sekali melihat rumah yang kinclong tanpa debu. Mahakarya para arsitek ini terlihat lebih memukau karena kepiawaianku menjaga dan merawatnya.

Sayang, merawat barang-barang tak serupa dengan merawat manusia apalagi orang tua. Butuh kemahiran tertentu. Terutama kemahiran memakai telingamu dengan baik. Minggu ini nenek lagi-lagi ditinggal berdua denganku. Bapak dan Ibu harus ke luar negeri. Untuk urusan pekerjaan yang tidak kami mengerti. Karena itulah aku dan nenek yang semula selalu berdebat menjadi akrab. Diantara teman-teman yang lain, aku dianggap pembantu paling lancang. Suka melawan. Bagiku itu bukan mendebat melainkan menghidupkan suasana.

Kami menghabiskan waktu bersama. Bercerita, bersenda gurau. Ia sering menceritakan masa mudanya yang gemilang. Bagaimana ia dulu menjadi pejabat tinggi negara yang dihormati. Kemanapun pergi dikawal dua orang bodyguard berbadan tegap. Bahkan ia pernah berselingkuh dengan pengawal pribadinya itu. Katanya karena terbawa suasana apalagi ia kesepian. Ah, nenek! Suaminya seorang pengusaha mebel yang cukup sukses. Cabangnya ada dibeberapa kota di pulau Jawa sehingga membuatnya sering melakukan perjalanan ke luar kota. Mereka jarang bertemu.

Kini, perempuan 70 tahun itu terserang stroke. Suaminya sudah lebih dulu pergi karena kecelakaan. Ia menghentikan semua kegiatan lalu membagi-bagikan warisan pada lima orang anaknya. Berdasarkan kesepakatan keluarga, kini ia tinggal di rumah anak perempuannya yang tertua, yang mendapat warisan terbesar.

“Aku ingin pulang kampung saja. Udaranya lebih segar” Nenek tiba-tiba bicara saat kami duduk-duduk di teras rumah menyaksikan kendaraan yang lalu lalang. Raut mukanya murung. “Kalau di kampung Nenek mau ngapain? Nggak ada orang, nggak ada kerjaan. Lebih baik di sini, ramai,” balasku cepat. “Iya, di sini memang banyak orang, tapi tidak ada yang punya mulut dan telinga. Hanya lalu lalang saja. Di kampung aku bisa menanam wortel dan tomat, bertemu teman-teman lama. Toh kami sudah sama-sama tua, mau apalagi?”. Suaranya sedikit bergetar.

Sudah sejak lama nenek mengutarakan keinginannya pindah ke kampung halamannya di tanah Sumatera. Ia sudah terlalu lama merantau. Ia rindu kembali dan menghabiskan masa tua di tempat ia memulai masa kecil. Para sahabat-sahabat sudah berkumpul di sana. Ia sering menelepon mereka dan merasa semakin iri. Namun anak-anaknya tak pernah setuju. Melepas Ibu mereka sendirian di rumah tua sangatlah beresiko. Lagipula tak ada seorang pun yang bersedia menemani. Masing-masing sudah berkeluarga dan tinggal terpisah-pisah.

Pernah suatu kali terjadi perdebatan hebat antara nenek dan anak-anaknya. “Kalau kalian khawatir, ayo temani Ibu pulang!” Nenek berkata kesal saat Dion, anaknya yang nomor dua bersikeras melarangnya. “Aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan yang sudah kurintis dari nol, Bu. Aku sudah berkeluarga. Kami tidak mungkin hidup di kampung. Anakku tidak mungkin bersekolah di sekolah kampung yang tidak berkualitas.” Dion menjawab dengan suara yang mulai meninggi. “Kamu lupa dulu sekolah di mana? Tapi sepertinya kamu baik-baik saja,” Nenek menjawab dengan nada yang hampir sama tingginya.

“Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat dengan manusia keras kepala seperti Ibu. Yang jelas keselamatan Ibu adalah yang paling penting.” Tutup Dion.

“Keselamatanku atau keselamatan kalian? Kalian tidak mengijinkanku pergi karena takut omongan orang-orang, kan? Bagaimana mungkin lima orang anak sukses dan kaya raya membuang ibu mereka ke kampung sendirian?” Napas nenek mulai tersenggal-senggal. Ia memberi kode padaku untuk memapahnya ke kamar. Yang lain diam tak bergeming. Kata-kata nenek mengambang di udara membuat anak-anak mereka sesak napas.

Usai makan malam, nenek lagi-lagi duduk di depan jendela kamarnya di lantai dua, menatap fokus ke rumah di seberang jalan. Aku mengajaknya bermain uno tapi sepertinya memperhatikan rumah kosong itu jauh lebih menarik. Aku pun mengambil kursi, duduk di sampingnya dan mulai membaca. Belajar untuk ujian kejar paket B minggu depan. Ya, aku memang hanya lulusan SMP dan nenek bersikeras aku harus mendapatkan ijazah SMA lalu kuliah.

“Kamu mau jadi pembantu seumur hidup?” Ujarnya tajam. Kata nenek, sepintar dan semahir apapun, selagi di Indonesia, orang lebih percaya diijazah daripada skill yang aku miliki. Ah, tapi aku belum tahu sanggup atau tidak untuk kuliah. Otak tak sampai, uang apalagi.

Aku tertidur hingga pagi di kursi dengan muka tertutup buku. Kulihat nenek tidak ada. Di kamar mandi, di dapur, di ruang makan, di ruang tamu, seisi rumah kusisir tapi nenek tidak ketemu. Kulihat keluar jendela ternyata nenek sedang menyeberang jalan. Ia ingin ke rumah itu! Aku berlari secepat yang kubisa dan menggamit tangannya.

“Nenek mau apa ke rumah itu?” Tanyaku ketakutan. Aku takut ia ditabrak sepeda motor yang sering melintas ugal-ugalan.

“Ada yang memanggil nenek. Dia mau berteman,” jawabnya santai.

“Teman? Tidak ada orang di sana, Nek. Pemiliknya sudah lama pindah,”

“Ah, tidak mungkin. Kami sering berbalas lambaian tangan dari jendela,”

Kali ini aku benar-benar ketakutan. Kutanyakan kebenarannya ke satpam dan Pak RT. Apakah masih ada yang menghuni rumah itu beberapa waktu belakangan. Jawaban mereka kompak. Pemilik lama masih pemilik sah rumah itu. Mereka hanya sedang melakukan perjalanan bisnis yang sangat lama. Mereka mungkin saja kembali lagi. Rumah itu ternyata masih memiliki tuan. Pada teman-teman aku pun bertanya soal rumah itu. Dan ternyata rumornya sudah menyebar cepat dengan bumbu yang luar biasa. Aku tak bisa percaya.

Aku menasehati Nenek berkali-kali agar jangan menyeberang jalan sendirian apalagi ke rumah itu. Karena memang tidak ada orang di sana. Entah siapa yang dilihat nenek. Ia mulai sering behalusinasi. Aku pun memberitahu majikanku. Ia bilang agar mengunci rumah saja supaya nenek tidak ke mana-mana. Aku menurut.

Tapi kebiasaan nenek tak pernah berubah. Tak sehari pun, usai makan malam, ia lupa untuk duduk khusyuk di depan jendela kamarnya. Tapi aku tak ingin kecolongan lagi. Kukunci seluruh pintu keluar dan menyembunyikannya di tempat yang tak mungkin diketahui nenek. Dan semua ternyata baik-baik saja. Aku tak terlalu mempersoalkan kebiasaannya lagi. Selama ia tidak membahayakan diri.

Tapi dibalik keteraturan, selalu ada hal tak terduga. Ibuku di kampung menelepon. Katanya aku harus segera pulang. Kakak perempuanku akan menikah. Aku pun akan dikenalkan dengan seorang tauke ikan asin di Desa. Mungkin aku akan dinikahkan juga. Tapi aku berjanji pada Nenek hanya sebulan di kampung. Tentu tidak akan menikah. Aku tidak mungkin meninggalkan nenek. Orang tua itu sudah seperti nenekku sendiri. Tapi majikanku punya pendapat lain. Sebulan terlalu lama. ia akan mencarikan pembantu baru untuk mengasuh nenek. Jika aku ingin kembali bekerja lagi di rumah itu, ia akan mempertimbangkannya. Ibuku tak bisa ditawar, begitupun Ibu majikan.

Dua hari sebelum berangkat, penggantiku datang. Masih sangat muda. Aku harus mentransfer semua ilmu dan daftar pekerjaanku selama ini untuk memudahkannya. Tugasnya hanya menjaga dan merawat nenek karena asisten rumah tangga untuk memasak dan bersih-bersih sudah ada. Dipagi hari ia harus membuka tirai jendela nenek dan membuatkannya jus campuran buah dan sayur. Ia harus berolahraga ringan sekaligus terapi. Mirna, begitu panggilannya, juga harus menghapal gerakan terapi karena nenek sering lupa. Lalu nenek makan berat dengan nasi dan lauk disusul dengan obat rutinnya. Pukul satu nenek tidur siang sekitar 1-2 jam. Siapkan cemilan sore nenek berupa buah atau roti yang lembut. Malamnya nenek harus tidur dengan lima bantal sebagai pengganti anak-anaknya. Segelas air putih di meja sisi kiri tempat tidur karena ia sering terbangun ditengah malam, kehausan.

“Satu-satunya manusia yang bisa mendengar dan berbicara di rumah ini akhirnya pergi.” Nenek berkata datar namun aku bisa melihat rona sedih memendar dari matanya.

“Aku akan kembali, Nek. Jaga kesehatan, dengarkan Mirna,” jawabku sambil memeluknya. Aku menangis. Nenek tidak.

Aku pulang ke Tasikmalaya dengan bus yang kunaiki dari terminal Lebak Bulus. Perjalanannya cukup lama, delapan jam. Tapi aku tak bisa tidur. Kutelepon Mirna menanyakan kabar Nenek. ia baik-baik saja, sedang tidur siang. Tapi aku masih tak tenang. Tak beberapa lama aku tertidur karena kelelahan. Tanpa sengaja aku bersandar ke bahu kakek di sampingku. Saat terbangun ia itu terkekeh, “Tidurmu berisik sekali, Nak.” Ternyata aku tidur sambil mengigau tak jelas. Mataku basah.

Dikampung aku tak sempat menelepon. Persiapan pesta ini sungguh melelahkan. Aku harus kesana kemari mengurus detail-detail yang menurutku tak begitu penting. Ibu dan Bapakku terlihat bahagia, anaknya menikah dengan juragan sawit dari Kalimantan. Katanya begitu. Toh kalimantan jauh. Siapa yang tahu? Ditengah-tengah riuh pesta, salah seorang keponakanku berlari sambil memberikan telepon genggam padaku. Katanya ada telepon dari Jakarta. Penting.

Nenek meninggal. Ia pergi saat tidur siang. Bapak dan Ibu di kantor. Mirna ke warung membeli mi ayam. Ia meninggal sendirian, tak merepotkan, seperti keinginannya. Sayangnya ia tidak pernah pulang dan menghabiskan hari-hari terakhir di kampung halamannya yang sejuk itu. Usai pesta aku langsung berangkat ke Jakarta berharap masih bisa menghadiri pemakamannya. Rumahnya penuh sesak orang melayat. Kerabat, sahabat dan kolega nenek saat masih jadi orang penting. Ditambah lagi teman anak-anak dan rekan bisnis mereka. Keluarga ini cukup terkenal rupanya. Tapi mengapa ketika nenek masih hidup, tak satupun terlihat batang hidungnya? Aku takut salah menterjemahkan antara kesedihan dan kelegaan di wajah anak-anaknya. Aku menyalami mereka menyampaikan duka. Majikanku memberiku sepucuk surat yang ternyata ditulis langsung oleh nenek. Ia telah mendaftarkanku di sebuah universitas terbaik di Jakarta dan menanggung biayanya hingga aku lulus. Sera biaya hidup dan bersenang-senang. Aku tak mengerti bagaimana ia melakukannya. Ia hanya diam di rumah seharian. Ah, tapi orang tua seperti dia akan selalu menemukan cara.

Aku rindu nenek. Selama ini takdirku selalu dipilihkan oleh orang lain. Tapi setidaknya nenek memilihkan yang baik. Oh ya, belakangan aku tahu bahwa hanya aku satu-satunya yang ditulisi surat oleh nenek. Soal warisan, semua diurus pengacara keluarga.

Suatu hari, dijalan pulang ke kos-kosan, Marisa menelepon. Katanya komplek sedang geger. Ditemukan mayat perempuan tua yang sudah membusuk di kamar mandi rumah angker itu! Diduga ia adalah Ibu pemilik rumah yang hingga saat ini tidak bisa dihubungi. Keluarga lain pun tak ada. Sepertinya mereka sedang di luar negeri. Barangkali sedang presentasi atau bermimpi.





Cerita yang Mungkin Belum Kamu Ketahui, Jan

21 02 2015

Barangkali manusia pertama yang memahami dirimu adalah jiwa yang bersemayam di dalamnya. Yang kedua bisa siapa saja. Mungkin orang tua, sahabat atau kekasih. Tapi bagiku, dia adalah Jan.

Umurnya dan aku berjarak tujuh setengah tahun. Dulu, ibuku sulit sekali mendapat anak. Ia menemui dukun penyubur kandungan di kampungku. Ia rela mendaki bukit dan bermalam di rumah panggung menyeramkan tempat si dukun tinggal. Ia menunggu, berharap sesuatu tumbuh di dalam rahimnya. Ia bersabar berbulan-bulan namun tak terjadi apapun. Ruang itu tetap kosong melompong. Tak ketinggalan ia megikuti program kehamilan yang disarankan dokter. Itu pun tak berhasil. Tak menyerah, ia mengkonsumsi obat-obatan dari MLM yang ia percaya. Hasilnya masih Nihil.

Aku senang masih menjadi ratu dihatinya. Satu-satunya. Aku tak suka tersaingi. Maka kehadiran seorang adik hanya akan mengacaukan keseimbanganku. Ibu selalu mendongengiku cerita-cerita yang dikarangnya sendiri sebelum tidur. Kebanyakan ceritanya tentang binatang. Anehnya intrik yang terjadi dalam ceritanya lebih pas untuk manusia. Tanpa kusadari Ibu selalu menyampaikan pesan rahasia dalam setiap kisahnya. Dan aku percaya sepenuhnya. Apa yang ia ajarkan di masa kecil amat mempengaruhi diriku yang dewasa.

Katanya, dulu aku adalah anak kecil yang paling tidak bisa menerima kenyataan. Bagaimana mungkin air mata yang sudah jatuh dimasukkan lagi ke dalam bola matamu? Begitulah.

Ibu selalu tahu segala hal. Tepatnya harus tahu karena semua orang di rumah ini mengandalkannya. Ia begitu menyayangiku, memperhatikan dan menyediakan segala kebutuhanku. Yang kutahu hanyalah berangkat sekolah dan belajar sebaik-baiknya. ia melakukan semuanya sendirian, mungkin karena tak percaya pada orang lain. Namun akhir-akhir ini ia menanggung  akibatnya sendiri.

Ayahku menitahkan agar ia berhenti bekerja saja. Lebih baik menjaga dan mengurus anak-anak di rumah sementara ia akan mencari nafkah ke negeri jauh. Ibuku menurut. Ayahku tak bisa dibantah. Belakangan aku tahu sewaktu muda ia sangat cantik dan memiliki karir yang bagus.

Ibuku akhirnya pasrah. Ia tak berusaha lagi. Hanya berdoa dan meminta orang-orang mendoakannya. Setelah enam setengah tahun perjuangannya, ia akhirnya mengandung. Bayi itu laki-laki. Hampir setiap hari aku menempelkan telinga pada perut besarnya, berharap mendengar calon adikku itu menyapa. Ada rasa kesal dan iri saat itu. Tampaknya perut Ibuku nyaman sekali. Ia hanya tidur atau bergeliat sekali-sekali. Setiap hari minggu pagi, aku dan Ibu lari  ke lapangan terbang di dekat rumah. Kami membeli telur rebus dan duduk-duduk di taman. Kami mengobrol. Kadang aku tak paham apa yang ia bicarakan. Ia kadang bercerita tentang teman-teman kantor yang ia rindukan. Ia juga bercerita tentang mantan pacarnya yang ganteng luar biasa. Lelaki itu ditemuinya di kota Manado. Mereka saling mencintai dan akan menikah. Sayang, nenekku menentang habis-habisan karena ia tak berdarah Minang. Tuhan mereka pun tak sama. Ibuku sering mengulang-ngulang cerita yang sama. Dan aku selalu mengulang-ngulang pertanyaan yang sama. “Lalu mengapa Ibu akhirnya menikah dengan Ayah?” Wajah Ibu berubah menjadi mimik yang belum bisa kuterjemahkan saat itu.

Setelah hampir 10 bulan, ia akhirnya melahirkan. Ibu berjanji akan mengajakku ke rumah sakit kalau sudah waktunya adikku keluar. Aku ingin menyaksikan prosesnya. Tapi ternyata rasa sakit membuatnya lupa. Aku sedang di sekolah mengerjakan soal matematika, tentang pecahan. Kosentrasiku terpecah. Nenekku mengabari adikku sudah lahir. Aku tak pernah mengerti pecahan. Aku marah pada adikku. Mengapa ia harus lahir ketika aku sedang belajar? Mengapa ia tidak bersabar sampai aku pulang. Setelahnya balas dendamku dimulai. Aku sering membiarkannya jatuh padahal ia belum lancar berjalan. Setelah ia menangis baru aku datang. Meski aku akhirnya dimarahi Ibuku sampai gendang telinga ingin pecah mendengar ceramahnya.

Label baru untukku terpasang. Aku adalah kakak. Aku adalah panutan, contoh, benchmark. Keahlianku berpura-pura berawal saat itu. Berpura-pura mendekati sempurna.

Adikku tumbuh menjadi manusia paling mengesalkan di muka bumi. Ia mengurangi jatah kue ku. Jika merebus mi aku juga harus merebuskan untuknya. Jika aku bermain dengan teman-temanku, dia juga harus diajak. Kalau tidak, ia akan berlari kesembarang arah dan tertabrak mobil. Ibuku bisa gila. Dan itu neraka bagi kami.

Aku memasuki masa puber. Jatuh cinta. Aku ingin bercerita. Tapi dia masih sibuk mengelap ingusnya. Tak berguna. Aku lebih suka sendirian, mengurung diri di kamar, membaca dan mendengarkan musik. Kadang-kadang menulis jurnal. Begitu banyak pertanyaan berseliweran di kepalaku. Dan tak ada sesiapapun mampu menjawab. Pertanyaanku menumpuk. Kepalaku serasa akan meledak.

Suatu sore dihari minggu, Jan, begitu panggilannya, mengetuk pintu kamarku, hal yang jarang sekali dilakukannya. Karena ia hanya akan mendapat semprotan kata-kata pedas dariku setelahnya. Namun hari itu berbeda. Ia mengetuk, pelan dan penuh kesabaran. Tidak berharap tapi membuat aku penasaran. Kubukakan pintu. Kulihat sesosok pria berdiri dihadapanku. Ia bukan anak-anak lagi. Ia tumbuh sangat cepat. Tingginya sudah melebihi aku. Tangannya besar dan berotot. Ia berbau kretek. “Boleh pinjam bukunya, Kak?” ujarnya pelan tapi bulat. Pertanyaannya membuat mataku membesar. Selama ini ia tak pernah ingin menyentuh rak buku yang penuh sesak itu. Aku tahu, inilah saatnya. Saatnya membuka diri. Seharusnya aku tak membiarkan dia dewasa sendiri seperti aku. Mencari-cari di luar sana sementara tak pernah tahu apa yang dicari. Kemungkinan tersesat amat besar jika sendirian.

Kami mulai menjadi teman. Malam hari, saat hingar-bingar rumah tak terdengar, kami pergi. Dan selalu berakhir di bakso kepala sapi atau cafe pinggir jalan yang buka 24 jam. Membicarakan banyak hal. Mulai dari remeh-temeh hingga ide-ide gila untuk menguasai dunia. “Nanti kita akan meninggalkan kota busuk ini, membawa Ibu dan kaya raya,” begitu celotehnya dengan mulut penuh bakso. Aku tertawa dan mengamini. Dengan bersemangat, ia menceritakan betapa ia belum bisa melupakan cinta pertamanya. Sementara pacarnya yang sekarang sangat sempurna. Hanya selalu tak nyambung kalau diajak bicara. Dia dan aku selalu curiga jiwa kami terganggu dan berdoa Ayah tak mengendusnya. Jika iya, kami berdua bisa berakhir di RS jiwa.

Rumah

Rumah kami terletak di sebuah komplek sederhana. Ukurannya minimalis. Ibu dan Ayah menyicilnya dalam jangka 15 tahun. Rumah mungil itu terdiri dari tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan satu kamar mandi. Semuanya serba imut. Cukup karena kami hanya ber-empat, seringnya bertiga. Saking kecilnya, jika kamu menelepon di dalam kamar, seisi rumah bisa mendengar suaramu, walau pintunya ditutup rapat. Bisa kau bayangkan jika satu saja penghuninya berteriak? Kenyataannya, selalu lebih dari satu.

Aku dan Jan menenggelamkan diri dengan banyaknya kegiatan. Aku les ini itu, sebisa mungkin sampai di rumah saat hari sudah gelap. Demikian hal nya dengan Jan. Bedanya ia tak suka les. Ia lebih suka latihan band atau sekedar nongkrong dengan geng nya. Biasanya ia selalu pulang lebih larut.  Kami paling suka hari minggu. Ibuku pergi ke pasar pagi-pagi sekali ditemani Ayah. Kami berdua akan bangun pagi, membuat teh hangat dan menghidupkan televisi. Doraemon, sinchan, detektif conan, surga! Setelahnya kami bersiap jalan dengan pacar masing-masing. Sebisa mungkin saling tak bicara satu sama lain. Begitu rutinitasnya. Kami sudah hapal.

Lama-kelamaan kami makin jarang bicara. Bukan kami tak suka. Secara natural kami adalah dua orang yang sangat cerewet. Tapi di rumah ini kami lebih baik diam. Sudah terlalu ribut dan kami terlalu malas untuk menambahi kebisingannya. Satu-satunya kesempatan ngobrol berdua adalah kedai bakso. Padahal sebelumnya aku sudah makan bakso dengan pacarku. Tapi entah kenapa berbeda. Pacarku selalu membicarakan dirinya. Terus-menerus. Dengan Jan, kami membicarakan rencana-rencana melarikan diri dan mengutuki kekasih yang brengsek. Meski kami tahu itu tidak mungkin, membayangkannya saja sudah memuaskan. Hingga akhirnya kupikir bisa mengandalkannya, menitipinya tanggung jawab yang lebih besar. Menjaga Ibu karena aku memutuskan untuk merantau. Jarak kami yang terlalu jauh membuat ia masih terperangkap dibangku kuliah sementara aku sudah harus bekerja.

Ah, aku paling tak ahli dalam perpisahan. Aku tak bisa menangis. Tepatnya tak suka menangis di depan orang lain. Jadilah aku seperti manusia tanpa hati. Kami tak biasa saling memeluk. Ibu, Ayah dan Jan. Kami hanya bersalaman dan menitipkan beberapa kata nasehat. Sesampainya di tujuan Jan mengirim pesan pendek. “Kak, rumah berisik ini jadi sepi. Kapan kita makan bakso lagi? Aku sedih,” aku merasa bersalah meninggalkan beban berat untuknya sendiri. Aku hanya bisa berdoa semoga ia tak jadi gila.

Sekarang sudah bertahun  kita terpisah. Tampaknya Jan sudah bisa menyesuaikan diri meski ia masih sering mengirimiku pesan pendek yang berisi umpatan-umpatan dan kekesalan-kekesalan. Dan aku akan menambah-nambahinya. Dan kita berdua makin kesal (hahaha) tak membantu!

Kembali

Suatu hari aku kembali. Pulang. Jan tak banyak berubah. Ia masih bau kretek, matanya masih berkantung akibat sering bergadang, kamarnya berantakan, baju kotor bertebaran di mana-mana, ia masih bermasalah dengan kaus kaki yang selalu hanya ada sebelah. Namun ketika kami bicara, aku mulai merasakan perbedaannya. Ia makin pintar. Ia tahu betul yang ia inginkan. Dan ia akan mengusahakannya hingga akhir. Ia akan merantau dan membawa Ibu pergi. Ia tahu apa yang ia lakukan. Satu lagi, ternyata Jan anak yang lucu. Entahlah, mendengarnya bercerita dengan ekspresi datar dan biasa saja sudah membuatku ingin tertawa. Belakangan aku tahu ia pemenang standup comedy di kampusnya.

Jan sudah tumbuh jadi pria dewasa. Ia tidak menangis lagi saat kurebut jatah es krimnya. Ia tidak berlari ke sembarang arah lagi jika tak kuajak bermain. Ia tahu tujuannya. Ia akan mengejar mimpinya sendiri. Suatu hari nanti mungkin kami akan terpisah ribuan kilometer dan memiliki keluarga kecil sendiri. Mungkin istrinya jahat dan tak membiarkan kami terlalu sering tertawa. Tak apa, karena selamanya ia akan tetap menjadi Jan, adik kecilku yang penangis!





Kuliah Atau Menikah?

15 09 2014

032Bibirnya bergetar, matanya merah akibat desakan air mata. Tangisnya pecah saat ia mencium tangan sang nenek yang sedari tadi berdiri mematung di sisi kanan mobil pengantar. Perempuan yang sudah uzur itu tak sedikit pun mengedurkan pelukannya, sementara sirine kapal meraung-raung, tanda perpisahan tiba.   

Suasana haru demikian pekat saat Nanik, penerima beasiswa penuh Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) berpamitan pada keluarganya untuk berangkat ke Jakarta, Kamis (28/8).  “ate-ate, parajin abelajar, jhe sampe atinghel sembejheng,” bisik sang nenek dalam bahasa Bawean yang berarti hati-hati, rajin belajar dan jangan meninggalkan solat.

Usianya 18 tahun. Ia anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua adiknya masih duduk di bangku sekolah, masing-masing di Tsanawiyah dan TK. Sejak lahir ia tinggal di sebuah pulau kecil kurang lebih berukuran 400 ribu meter persegi,  bernama Gili. Di peta dunia, pulau tersebut tak terlihat. Dalam peta Indonesia pun hanya berupa titik kecil tanpa nama. Gili dapat ditempuh dalam waktu 30 menit dari Pulau Bawean dengan menggunakan kalotok. Pulau Bawean dikenal juga dengan julukan pulau putri. Konon katanya, nama tersebut tercetus karena mayoritas penghuni pulau ini adalah perempuan. Para lelakinya pergi berlayar mencari nafkah hingga negeri seberang seperti Malaysia dan Singapura.

Baik Bawean maupun Gili, keduanya tercatat sebagai bagian dari Kabupaten Gresik. Gresik dan Bawean hanya berjarak kurang-lebih 120 km perjalanan laut. Atau dapat di tempuh selama empat jam dengan kapal cepat dan 12 jam kapal lambat. Kapal hanya ada tiga kali dalam seminggu. Itupun belum tentu layar tepat waktu. Tergantung keputusan Syahbandar. Jika ia menyatakan gelombang dan angin aman, maka penumpang bisa bernapas lega. Sebaliknya, jika cuaca buruk, bersiaplah memutar langkah.

Kaum perempuan, khususnya di Pulau Gili, kebanyakan memutuskan menikah di usia muda. Bahkan menikah selepas Sekolah Dasar atau Menengah adalah hal biasa. Demikian diungkapkan Teguh, Pengajar Muda Indonesia Mengajar yang bertugas di sana. “Sangat jarang putra-putri Gili melanjutkan sekolah hingga tingkat Universitas. Mereka terkendala biaya dan terbatasnya akses informasi.”

Jika tak ada generator, Gili hanya ditemani cahaya bulan dan bintang di malam hari. Masyarakat di sana belum pernah menikmati aliran listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Pulau yang berpenduduk sekitar seribu jiwa tersebut hanya dialiri listrik dari pukul 18.00 hingga 22.00 WIB. Sumber listrik berasal dari dua generator besar milik pribadi warga,  Wakir dan Masyur. Setiap orang membayar sebesar 100-150 ribu per bulan. Sinyal handphone pun hanya ada di titik-titik tertentu. Maka setelah listrik pudur, warga memilih tidur.

Dibalik segala keterbatasan tersebut, beberapa putra-putri Gili tetap bersemangat melanjutkan pendidikannya, termasuk Nanik. Ia baru saja lulus dari Madrasah Aliyah (MA) Hasan Jufri, Bawean. Menurut Gus Ali, Kepala MA Hasan Jufri, Nanik adalah salah satu siswanya yang berbakat. Ia bahkan aktif mengikuti perlombaan pidato berbahasa Arab.

Namun ia tak berani bermimpi terlalu besar. Ia takut membebani sang Ibu. Semenjak sang Ayah meninggal dunia tahun 2010 yang lalu, sehari-hari ia membantu Ibunya, Haliyah, berjualan makanan ringan di sebuah Madrasah tak jauh dari rumahnya. Begitulah cara sang mereka bertahan hidup. Maka ia menelan dalam-dalam keinginannya untuk kuliah, termasuk cita-citanya menjadi guru.  Namun siapa sangka, ia dinyatakan lulus sebagai mahasiswa (UAI) jurusan Sastra Arab. Ia senang tak terkira mendengar kabar tersebut. Tadinya, jika ia tak lulus, pilihannya adalah menikah.

Namun beasiswa tersebut hanya menanggung keseluruhan biaya SPP. Untuk biaya pendaftaran, transpor, akomodasi dan biaya hidup harus ditanggung sendiri oleh mahasiswa. Haliyah yang semula sangat mendukung putrinya untuk kuliah mulai cemas. “Nanti Nanik tinggal di mana? Di Jakarta pasti serba mahal, tidak seperti di sini.” Ungkapnya khawatir (25/8).

Mendengar hal ini, komunitas peduli Bawean yang digawangi oleh Ali Azhar dan Basit gerak cepat memberi bantuan sebesar Rp 1 juta untuk meringankan beban Nanik. Para pengajar muda Indonesia Mengajar penempatan Bawean, Teguh Wibowo, Danang Nizar, Laila Tri Nurrahcma, Ratna Galih Puspita, Tuti Alfiani dan Sonya Winanda pun turut menyebarkan kabar tersebut di sosial media untuk mencarikan kakak atau orang tua angkat sekaligus  menggalang dana. Usaha tersebut tak sia-sia. Terkumpul dana sebesar Rp 4,1 juta. Uang tersebut dipergunakan untuk biaya pendaftaran awal Rp 1.750.000. Sisanya untuk biaya transportasi ke Jakarta dan biaya hidup selama sebulan pertama di Jakarta.

Dalam waktu singkat, berdatangan para relawan dari Bawean maupun luar Bawean yang berpartisipasi baik dari segi materi maupun tenaga. Para relawan ini menamai diri mereka ‘Sahabat Nanik’. Mereka mulai mengatur rencana proses antar jemput Nanik saat tiba di Ibu Kota, memperkenalkan rute dan tranportasi umum Jakarta, menemani Nanik membeli beberapa kebutuhan kuliah, termasuk mencarikan tempat tinggal selama empat tahun kedepan. Kepala Dinas Pendidikan, Nadlif pun ikut membantu. Demikian banyaknya pihak yang peduli, menepis keraguan Haliyah melepas si sulung. Ia bahkan ikut mengantar Nanik ke Jakarta ditemani Pak Bul, guru Nanik di SDN 02 Sidogedongbatu, Gili.

Nanik, Haliyah dan Pak Bul memang masih terlihat cemas saat masuk ke dalam bus Pahala Kencana tujuan Terminal Lebak Bulus (28/8), namun ada gurat optimis di sana. Memang tak seorang pun mampu memastikan kejadian di masa depan. Mungkin Nanik akan kesulitan dalam perkuliahan atau adaptasi, mungkin ia akan sering bersedih karena rindu pada sang Ibu dan kampung halaman, mungkin juga sempat terlintas kata menyerah. Lalu siapa yang tahu jalan yang akan ia pilih setelah ini. Toh tak ada yang pasti di dunia ini, bukan? Tapi setidaknya, ia dan keluarga telah menjadi satu dari sedikit masyarakat Gili yang mengambil langkah berani melompati batas diri. Setiap orang memiliki keterbatasannya sendiri. Namun yang mampu meraih mimpi bukanlah orang pintar, melainkan yang tak pernah menyerah.





Takdir Bernama Bawean

15 09 2014

077

Hari ketiga, barangkali bukan durasi yang cukup untuk mengenali sebuah desa apalagi memberi penilaian. Maka ini hanyalah cerita.

Sebut aku manusia pada umumnya. Manusia yang selalu ingin tahu alasan-alasan mengapa sesuatu menimpa dirinya. Termasuk mengapa takdir menjatuhkanku di sini. Di pulau yang tak terlihat di peta dunia, titik kecil tak bernama antara Kalimatan dan Jawa Timur di peta Indonesia. Namanya Pulau Bawean yang berarti ada matahari. Terdapat rusa endemik dan buah merah yang rasanya seperti campuran apel dan durian. Landscape laut dan perbukitannya indah. setidaknya demikian informasi yang kudapat di mesin pencari internet. Lalu beberapa informasi tambahan mulai berdatangan. Kaum prianya sangat sedikit. Sebagian besar daerah dihuni oleh perempuan paruh baya. Para lelakinya pergi berlayar. Mungkin bekerja di kapal. Mungkin menjadi TKI di Malaysia. Begitupun dengan anak-anak mereka yang masih di bawah umur, selepas dari Sekolah Dasar, pikiran mereka terserap untuk menjejak negara Malaysia. Cerita-cerita indah tersebar cepat tentang betapa menjanjikannya negeri upin-ipin itu. Mungkin mereka lebih paham Malaysia dibanding Indonesia.

Salah seorang muridku bertanya,

“Ibu asalnya dari mana?” ujarnya ingin tahu.

“Ibu dari pulau Sumatera, ” mata mereka makin melebar karena rasa penasaran.

“Presiden di Sumatera itu siapa Bu?”

Alahmak, mulutku yang bersiap menjawab langsung terkunci. Pulau ini begitu mengundang decak kagum. Setidaknya begitu tanggapan teman-teman yang kukirimi hasil jepretanku beberapa hari yang lalu. Ah, sudahlah, yang jelas kita tetap Indonesia. Kita adalah sama dengan akar sifat keramahan yang sama. Seperti hari ini, aku mengunjungi rumah Pak Lurah, Ibu angkat PM, dan Kepala sekolahku. Mereka semua selalu menyuguhkan makanan dan minuman dan harus dihabiskan! Jika tidak mereka akan marah dan tersinggung. Rasanya mau meledak kekenyangan perut ini. Ada soto khas Bawean yang tak mungkin ditolak, es degan, milo Malaysia yang kutebak stok wajib ada di setiap rumah.

Di rumah, selepas magrib, amak, ibu angkatku membuatkan makan malam yang tak kalah mengundang selera. Dan harus dihabiskan tanpa sisa. Ia selalu memintaku menambah makan karena ia masak banyak sekali. Ia takut selama tinggal di rumahnya akan membuatku kurus tinggal tulang. Ia tak mau kemiskinannya menyusahkanku di sini. Ah, di belahan dunia manapun, Ibu selalu sama! Selalu mengkhawatirkan hal-hal yang menurut anak-anaknya adalah konyol. Aku merindukan Ibuku.

Amak tak mengenyam pendidikan tinggi namun anaknya termasuk satu dari ratusan anak Panyal Pangan, desa penempatanku, yang pendidikannya sampai ke tahap perguruan tinggi. Namanya Halif, ia lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Islam jurusan Pendidikan Agama Islam. Ia akan diwisuda Oktober nanti di Gresik. Amak yang sehari-hari berjualan hasil tanamnya sendiri di pasar, sangat bangga pada anak ke empatnya itu. Sang suami telah tiada sejak 20 tahun silam. Perempuan hebat ini harus bekerja untuk memberi makan lima orang anak, satu orang adik yang cacat dan 3 orang anak  dari adiknya yang berlayar ke Malaysia.

Perasaanku diaduk-aduk.  Dibalik banyak hal yang belum bisa kuterima dengan akal sehat, aku bersyukur bertemu keluarga luar biasa ini. Mungkin Tuhan sedang mengajarkanku dengan caranya. Cara yang tak berterima awalnya namun (semoga) bermakna akhirnya.

20 Juni 2014





Balkon dan Alasan

14 05 2014

“Kenapa aku?” tanyamu menatap langsung dalam bola mataku, memastikan tak ada secarik kebohongan pun lolos. Aku menghindar, mengalihkan pandangan pada kelap-kelip kota Bandung di hadapan kita, salah satu alasan kugilai Kota ini selain makanannya.

“Lampu-lampunya cantik ya, sayang ketutupan pohon. Harusnya kita satu lantai lebih tinggi,” jawabku mencoba mengulur waktu.

“Iya, nanti suruh abang-abangnya nebang,”  kamu tetap berusaha menanggapi tanpa mengurangi mimik seriusmu.

 “Jadi kenapa aku?” ah, kenapa suasananya seperti sedang jurit malam?

“I don’t know,” jawabku sekenanya.

“But everything happens for a reason, semuanya bisa dijelaskan,”

Sayang, kita tak merencanakan akan jatuh cinta pada siapa dan kapan.  Dan  kamu menanyakan alasan. Ya, kamu percaya alasan dan prediksi. Sedangkan aku? Aku percaya hari ini dan rumus pura-pura. Pura-pura tak apa-apa saja, berharap benar-benar tak apa-apa. Jadi kamu mengharapkan jawaban apa?

“Jadi mengapa aku?” berputar lagi ke topik awal. Ah, mengapa sulit sekali membuatmu lupa?

“Aku tak begitu yakin apa alasannya.” aku masih mencoba lari.

“Aku menunggu jawabanmu,”

“Kamu memang selalu begini, Ya?”

“Ya, aku memang semenyebalkan ini, this is me. Man that you know before who really likes to make everyone laughs is just a little part of me.”

Kamu menyulut  rokok untuk entah yang keberapa kalinya.

“Kamu merokok ya?”

 “Sejak di sini aku tak pernah merokok lagi, tapi sepertinya malam ini perlu,”

Ini semakin menarik saja. Perlahan kamu mulai menunjukkan warna yang sesungguhnya. Ini bisa jadi pertanda baik atau malah bencana. Aku memang seorang penggila kejutan namun pengutuk kejutan yang buruk karena akan merusak sisa hariku.

Kamu menunggu, menyisisr satu-persatu bagian wajahku, seakan ada tulisan berjudul ‘alasan’ di sana.  Kamu berhenti lalu menatapku, lagi-lagi menanti sesuatu. Ah, kamu memang penggiring handal dalam pusaran pengaruh kata-katamu. Orang-orang akan menyetujui apa yang kamu inginkan dan berfikir seakan-akan pendapat mereka sendiri adalah dosa.

Aku menunduk ke lantai. Kamu memelukku entah untuk alasan apa. Tapi apakah kita selalu butuh alasan untuk sebuah pelukan? Lagi-lagi alasan!

“Sudahlah tak usah dijawab sekarang” ucapmu tersenyum.

“Tapi nanti?”

“Ya”

Arrggghhhhhhh…

Semua hal memang terjadi karena sebab. Untuk bernapas saja kamu butuh alasan. Tapi mencintaimu? Usahaku harus lebih baik. Terutama menemukan padanan kata yang sangat terbatas ini untuk mewakili maksudku.

Sayang, jika balkon ini adalah kenangan, maka biarkan aku merangkulnya erat lalu menghanyutkannya di sungai depan rumahku. Semoga ia selalu abadi dan mengalir menyusuri lekukan-lekukan ingatanmu dan aku.

 

 

 





Aku Akan Menikah Besok

26 12 2013

IMG_0064“Aku akan menikah besok. Kau harus datang karena ini hari penting.”

Apa? Dia akan menikah. Tunggu, otakku butuh waktu untuk mencerna kata-katanya barusan. Aku pikir orang seperti dia tidak menyukai bayi dan tentu tak mungkin bersemangat dengan ide menikah. Dia akan selamanya jatuh cinta pada mimpi-mimpinya untuk mengubah dunia. Ya, dunia yang diramalkan akan meledak dalam beberapa tahun ke depan. Kupikir dia hanya akan menjalani beberapa kisah romantika sementara kita tetap saling memiliki.

Dia tidak melayangkan undangan seperti pasangan pada umumnya. Hanya sepotong undangan digital dan beberapa foto pra-nikah yang sederhana. Tidak buruk namun mengundang banyak pertanyaan, melenceng dari garis kebiasaan. Mereka bebas melakukan semua itu karena memegang kendali penuh. Meskipun itu keren, aku tetap tak suka shocking news ini.

Kalaupun dia harus menikah, bukan sekarang saatnya, bukan dipenghujung tahun, bukan di saat aku kesepian, bukan disaat usia kami masih 25 tahun! Oke, aku terdengar seperti perempuan egois menyedihkan. Tapi akal sehatku belum mampu mencerna kabar ini dengan baik.

Seorang sahabat yang akan menikah selalu meninggalkan perasaan (seakan-akan) kehilangan. Kita tak terlalu sering menghabiskan waktu bersama tapi anehnya kita selalu bisa berbagi apa saja. Sesuatu yang tidak mungkin kau ceritakan pada ibumu. Entahlah, padanya aku bisa mengatakan apa saja, beban yang terlampau berat, tangis tertahan, kata-kata kasar yang tak pantas diterima penghuni neraka sekalipun, dan kebahagiaan membuncah tentu saja. Dia tak terlihat seperti orang yang terbuka. Dia tak banyak bicara, kadang terlihat canggung dan takut. Tapi kau tahu? Menurutku dia cukup berani dan tahu siapa dirinya. Ia bukan seseorang yang terlalu percaya diri namun ia punya nilai-nilai yang selalu dipatuhinya.

Satu hal yang lebih mengejutkan, dia tak menikah dengan kekasih yang telah dipacarinya selama 5 tahun terakhir. Kekasih yang sangat dicintainya. Kekasih yang selalu jadi bahan pembicaraan utama kami. Ia akan melakukan apapun untuk pria dengan tawa yang menurutku agak aneh itu. Apapun. Ia bersedia menutup mulutnya hingga kiamat daripada memulai pembicaraan-yang-diyakininya akan menyulut pertengkaran. Ia tidak akan mengatakan apa yang seharusnya ia katakan jika hal itu dapat menyakiti prianya. Perasaan itu akan dibawanya hingga neraka.

Ia mampu menjelma jadi apa saja. Ia adalah kekasih, sahabat, ibu, dosen pembimbing, kakak dan adik sekaligus. Ia sangat ahli untuk yang satu ini, tak perlu kuajarkan.

Ia tak keberatan, bahkan tersenyum senang mengantri di gerai makanan cepat saji sementara kekasihnya menanti di sudut meja, mengutak-atik telepon genggam. Ia akan mencarikan obat ketika sang kekasih terserang flu dan membeli payung agar pria itu tak terkena percikan hujan sedikitpun. Ia adalah orang pertama yang menanyakan kabar, mencari tahu bagaimana pria itu memulai hari, menjadi alarm pengingat hal remeh-temeh, sekretaris yang mencatat kegiatan, dan penghuni kotak masuk handphone nya. Baginya, kekasih adalah prioritas yang tak bisa digugat. Apapun yang mulanya penting, akan segera runtuh karenanya.

Ia terlalu tinggi menilai diri. Ia bukan dewi melainkan manusia biasa yang juga mengalami saat-saat sulit. Ia pun butuh semua yang ia berikan. Kau pikir mengapa seseorang selalu berada di dekatmu? membuatmu tertawa di saat kau susah? Sama sepertimu, mereka juga ingin ditemani, dihibur, mereka rindu muka badutmu. Ia menahan diri, menahan yang cukup lama.

Aku sepenuhnya paham bahwa memberi akan membuatmu lebih bahagia. Berbuat baik untuk orang lain dan menyukseskan hidupnya adalah poin indah untuk hatimu.  Tapi apa yang terjadi jika ketidak seimbangan itu berlangsung hingga kau mati? Apa kau tidak pernah sekalipun perlu dibantu? Apa kau selalu bisa melakukan segalanya dengan sempurna sendirian? Apakah selamanya kau akan memasak, meracik obat dan melipat payung? Mungkinkah sekali dalam hidup kau bisa jatuh sakit? Mungkinkah sekali dalam hidup kau ingin duduk dan menanti? Mungkinkah sekali dalam hidup kau ingin diperlakukan seperti ratu?

Dulu, aku bertaruh dengannya bahwa ia tidak berjodoh dengan pria ini tapi ia bersikeras.

“Aku tidak akan putus dengannya. Sedikitpun tidak terbayangkan menghabiskan sisa hidupku dengan pria lain, aku sudah terbiasa begini,”

Itu kalimat paling menyedihkan yang pernah kudengar darinya. Aku hanya tertawa dan memperhatikan bola mata coklat besarnya, menelisik keraguan. Kau tahu apa yang kutemukan? Cinta yang sedih. Ya, cinta memang punya banyak wujud. Ada bahagia, gairah, takut, sedih, cemas, khawatir, cemburu, ragu.  Tapi apa jadinya jika wujudnya hanya satu dan permanen? Ini mulai mengkhawatirkan.

Saat itu kupikir ia adalah perempuan penyuka kesia-siaan, membuang garam ke laut. Tapi ia adalah seseorang yang mematuhi nilai-nilai yang diyakininya, ia tak akan berkhianat. Ia memberi kesempatan pada pria itu, mengulur waktu, berharap sesuatu berubah.

Ah, andai saja pria itu mampu menangkap pesannya…

Jika kau menginginkan kucing, belilah kucing. Jangan berharap seekor tikus yang kautemukan mampu mengeong seperti kucing. Keyakinan kadang membuatmu bodoh.

16Cinta tidak diam. Ia tak mungkin berhenti di satu titik dan membeku selamanya. Ia butuh diperjuangkan, diperbaharui, dinikmati. Jika cintamu membatu, maka kau yang harus bergerak. Ia memutuskan berangkat dari kota yang cukup-tak-mau menerima perubahan itu. Sebenarnya sudah sejak lama kuajak ia pergi dari situ. Tapi ia adalah perempuan yang yakin. Ia tak mungkin menjauh dari prioritas. Jika ia menjauh, maka itu tak akan jadi prioritas lagi.

“Apa rencanamu selanjutnya? Apakah kau akan menikah dengannya?” Suatu hari aku bertanya lewat telepon.

“Entahlah. Kita sudah bicara. ia bercerita panjang lebar tentang rencana hidup ke depan. Ia akan melanjutkan S2 dan mencari pekerjaan paruh waktu untuk mengisi kekosongan jadwal,” jawabnya datar.

“Lalu?” aku masih belum mendapatkan poinnya.

“Kau benar, tak ada aku dalam daftarnya,” suaranya terdengar semakin mengecil, kecewa.

“Kau tak bertanya bagaimana dengan masa depan hubungan kalian?”

“Tentu. Katanya yang harus didahulukan adalah mengejar cita-cita masing-masing, baru berpikir ke arah yang lebih jauh.” Ia berkata takut-takut. Takut aku akan menyemprotnya dengan kata-kata pedas seperti biasa.

Tapi aku berusaha mengendalikan diri, bernapas dan berhitung dari satu sampai sepuluh untuk meredakan emosiku yang meninggi.

“Aku rasa kau sudah paham. Lakukan saja seperti yang dia mau,”

Ia pergi. Pergi mengejar cita-cita seperti pembicaraan terakhir mereka. Ia sampai di kota asing yang membingungkan. Kota yang sangat kejam bagi pendatang linglung. Namun akan menjadi surga bagi pendatang yang pantang menyerah dan tahu apa yang ia mau. Siapapun bisa menjadi apapun di sini, Jakarta.

Ia bertemu seorang pria. Pria ini telah dikenalnya sejak lama. Tapi aku tak begitu mengenalnya, hanya tahu nama. Ia membantu banyak hal dengan sangat sabar. Memosisikan dirinya sebagai tuan rumah yang ramah. Kadang agak berlebihan menurutku. Ia melakukan sesuatu (rasanya tidak hanya sesuatu tapi banyak). Ia pria yang khawatir dan memperhatikan segalanya. Astaga, aku rasa inilah yang selalu dirindukan olehnya. Oleh perempuan yang selalu melakukan dan menyiapkan segalanya. Ia tidak lagi berpijak di kerak bumi, gravitasinya menghilang, ia menginjak langit sekarang! Dan oh, siapa yang bisa menolak menyentuh pelangi sesudah hujan? Jika ada, pastilah dia orang yang sangat congkak.

ia gamang, tak terbiasa menjadi putri. Perlahan ia menyadari, pria ini adalah dia di masa lalu sementara ia bertransformasi menjadi kekasihnya. Mereka saling bertukar peran. Ah, betapa ironis. Ketika kau begitu membenci sesuatu, lama-kelamaan kau akan berubah menjadi sesuatu yang kau dibenci tanpa kau sadari. Karena membenci akan menyita pikiran dan alam bawah sadarmu. Begitulah, kurasa ia mampu melihat dengan jernih sekarang.

Ia berpikir, menimbang-nimbang, merasa-rasa apa yang harus dilakukannya. Tak lama kekasihnya menyusul, berusaha memperbaiki keadaan. Tiba-tiba semua menjadi rumit, menguras emosi dan pikiran. Kekasihnya telah menjadi lelaki berbeda, tak lagi pria yang disesali dan ditinggalkannya. Aku cukup terkesan karena ia tak menjadi gila. Jika ia kembali, semuanya akan lebih mudah.

Sayang, sesuatu yang mudah tak selalu menarik, bukan? Ia meninggalkan kekasihnya dan berencana menikah dengan pria baru itu. Pasangan itu tidak seperti Barbie dan Ken yang selamanya menari indah di lantai dansa lalu berbahagia selamanya. Mereka masih berdebat, bertengkar, mematikan telepon dan bersungut-sungut. Ya, mereka masih seperti itu.

Tak ada yang bisa menjamin pria baru ini lebih baik dari kekasihnya dulu, apakah ia mampu membuatnya lebih bahagia, apakah ia mampu membuatnya tidak mengalami cinta yang sedih lagi, apakah ia mampu menjadi pria hebat. Tuhan pun tak mau memberi jaminan. Hidup adalah proses tanpa henti. Setidaknya kau mau belajar dan memanfaatkan kesempatan yang diberikan padamu. Menurunkan ego dan meluangkan waktumu untuk memahami orang lain. Jika kau hanya berpusat pada dirimu, maka kau akan terlempar. Karena bumi memiliki poros dan kau terlalu tidak berdaya untuk menggantikan.

Bagaimana dengan kasihnya? Oh, jangan tanyakan itu karena ia adalah kepompong yang menjadi kupu-kupu. Menyesali dan memperbaiki kesalahannya, melakukan perjalanan, menguruskan badan, menikmati hidup dan mengejar cita-cita hingga ke negeri jauh. Jika kau mau sedikit memperhatikan, dunia ini memang tak berjalan seperti yang kau inginkan tapi berjalan dengan baik, seimbang.

Kuucapkan selamat atas keputusanmu. Kau tahu pasti aku akan selalu mendukungmu meski kau memutuskan untuk meminum racun sekalipun. Karena aku tahu kau adalah perempuan yang yakin dengan nilai-nilaimu, kau tak akan berkhianat. Aku senang bisa menyebutmu sahabat.