Kekasih kedua

11 11 2011

Ah, hidup memang peristiwa acak ibarat puzzle yang suatu hari nanti akan menemukan pola dan maknanya sendiri. Dan kamu adalah salah satu puzzle hidup yang belum kuketahui pola dan maknanya. Sekarang aku hanya bisa mensyukurinya.

Saraf-saraf ingatanku kembali lagi pada hari-hari bebas itu. Hari aku tak jadi siapa-siapa. Tak bertopeng. Hanya jadi aku. Mengatakan saja apa yang mau aku katakan. Melakukan saja apa yang ingin aku lakukan. Dan kau tak pernah menyalahkanku. Aku yang selalu berubah-ubah sesuka hati. Kau hanya datang dan mendengarkan ocehan tak jelasku. Kau selalu tertawa saat kubutuhkan. Tawa spontan. Menyenangkan mendengar tawa itu.

Photo by Rahmad Doni

 

when you happy like a fool

let it take you over

there is nothing to complain about

this is a good life

Rambut kribo itu. Mata kecil yang selalu membentuk senyum itu. Gaya bicara setengah cadel dan muka sedikit berjerawat itu. Perut sedikit buncit itu. Itu-itu terus kaset video yang diputar berulang-ulang di otak ku. Dia, puzzle lain dalam hidupku.

Laju vespanya perlahan. Mengistirahatkanku dari hiruk pikuk Kota yang maunya serba cepat. Tapi dengannya tak perlu segera. Menikmati adalah rohnya. Menikmati angin malam yang membelai lembut rambutku. Merasakan khidmatnya melodi hempasan gelombang. Mengagumi lampu-lampu jalan di gelapnya malam. Hal remeh yang selalu ingin aku nikmati. Dan dia mengabulkannya tanpa kuminta.

Ah, aku menyukainya. Sangat menyukainya. Aku tak mau memikirkan apa-apa lagi jika dengannya. Apa saja bisa kita tertawakan. Mengimajinasikan hal-hal gila yang mungkin suatu saat nanti akan benar-benar kita lakukan. Dia dan aku mulai menyusun rencana.

Dia selalu membalas sms ku. Sebanyak apapun itu. Sesering apapun itu. Telponku pun selalu diangkatnya. Dalam suasana apapun itu. Dia manerimaku. Menerima apa saja aku. Aku yang berubah. Aku yang tak pasti. Aku yang tak menjanjikan apapun. Aku yang rapuh dan kuat sekaligus.

“Aku punya persyaratan tertentu untuk seorang kekasih. Tapi kau punya semuanya. Kau bisa berubah-ubah jadi apa saja. Dan semuanya kugilai,” katanya di suatu sore.

Aku sadar dan benar-benar paham dia jauh dari bayangan sempurna versi genk ku, pria tampan dan mapan. Yang jelas, dia punya cita-cita besar untuk hidupnya. Dan sekarang aku masuk dalam pertimbangannya.

Dia menginginkan aku. Menginginkan seingin-inginnya. Terlepas dari apapun. Hanya ada aku dan dia saja.

Kini dia mulai merasakanku. Perlahan kuberitahu rahasiaku. Siapa aku dan segala kerumitannya. Meski kadang  tak disaat yang tepat, tapi mengertilah, aku hanya ingin kau tau saja. Dan aku tak ingin lupa, penyakit  akut yang sudah lama kuderita. Jadi harus segera kukatakan. Saat itu juga. Saat aku teringat. Siapa saja, tolong sampaikan maafku padanya jika apa yag kukatakan merusak selera makannya. Jika apa yang kukatakan merusak mood senangnya. Aku hanya tak ingin berpura-pura dan menunda. Paling tidak untuk itu.

Sejak saat itu, saat yang akan kuceritakan dibagian lain puzzle ini, aku sudah berhenti berpura-pura. Berhenti menjadi pribadi lain untuk menyenangkan orang lain. Berhenti memilih kata-kata manis saja untuk dikatakan. Lalu menghilangkan makna sesungguhnya. Aku hanya berusaha jujur. itu saja yang kuinginkan.

Memeluknya dari belakang. Merasakan lingkar pinggangnya. Lalu menyandarkan kepalaku sejenak di punggung tangguh itu. Melingkarkan tanganku di lehernya tiba-tiba. Menciumi aroma leher dan tubuhnya perlahan. Memabukkanku dan membuatnya sesak nafas.

Apa dia masih ingat ketika aku tiba-tiba duduk dipangkuannya? Menatapnya lama. Agar dia merasakan rasa terdalamku. Dia sesak nafas lagi. Tak focus. Tepatnya tak focus dengan apapun kecuali aku. Hanya ada aku terpantul di bola matanya yang kecil itu. Tak sanggup untuk diam dan tenang, dilumatnya bibirku segera. Seperti biasa, dia suka yang perlahan. Semakin lama dan lama. Tak ada jeda. Aku tak sadarkan diri. Ya biar saja.

Dan kita masuk ke bagian sedihnya. Dia kekasihku yang lain. Kekasih setelah ada yang terlanjur kukasihi. Kekasih yang harus kuberi tanda “sesudah” di keningnya. Kulabeli angka dua di dadanya. Aku tak menginginkan ini. Sungguh. Lalu aku harus apa? Aku terlalu menyukainya. Terlalu menginginkannya. Tak tau juga kenapa dan apa tepatnya.

Aku egois? Ya tentu saja. Sangat malah. Tapi aku tak akan memaksakan apapun. Hubungan adalah kesepakatan. jika tak sepakat lagi, berarti hubungan itu hanya kata-kata tak bermakna.

Dan kita sudah sepakat. Dia bersedia. Bersedia menyerahkan dirinya padaku. Bersedia menanggung segala resiko yang mungkin. Bersedia tak jadi yang utama. Bersedia menanggung rahasiaku. bersedia kmenggilaiku. Bersedia ku apa-apa kan saja.

Ah, dia benar-benar sudah gila! Hilang kewarasan dan kesadaran! Bagaimana mungkin ada orang yang mau menjadi tak penting di dunia ini? Tak masuk akal.

To be continued…


Actions

Information

2 responses

13 11 2011
Romi Mardela

Ondeh, yo gawat yeh :p

13 11 2011
sonyawinanda

apo nan gawat ko bg?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s