Pengeluh ulung

13 11 2011

Kau tau tidak, dulunya aku adalah seorang pengeluh ulung. Apa saja bisa kukeluhkan. Bahkan yang tak masuk akal sekalipun. Mulanya aku akan mengeluhkan cuaca hari itu yang panas dan membuatku berkeringat. Lalu aku akan mengeluhkan sarapan yang tidak enak. Selanjutnya aku akan mengeluhkan keterlambatanku. Padahal aku tak akan terlambat seandainya aku bangun lebih cepat. Kemudian aku akan mengeluh tentang ibuku yang tak mengingatkan jam berapa aku harusnya bangun. Ah, masa itu benar-benar memalukan.

Karena mengeluh mendekatkanku dengan seringnya menyalahkan keadaan dan orang lain yang tak bersalah, maka aku meninggalkannya. Mengeluh adalah bodoh. Semua kendali ada padaku. Maka jika semua berjalan tak seperti yang kuinginkan, berarti aku tak pandai mengendalikan. Bodoh. Dan aku tak ingin menjadi bodoh.

Dulu aku juga punya banyak ketakutan. Takut ini, takut itu, takut apa saja. Tapi ternyata, satu-satunya cara menghilangkan ketakutanmu adalah dengan menghadapinya. Aku takut tempat gelap maka lampu selalu kumatikan ketika tidur. Aku takut ketinggian, maka aku mulai memanjat gunung. Aku takut bicara di depan umum, maka aku memilih menjadi guru. Aku takut matematika, maka aku memilih jurusan IPA. Aku takut dengan seorang dosenku, maka aku mendekati dan mengambil mata kuliahnya.

Ya, sekarang tak satupun  lagi jadi ketakutanku. Rumus itu berhasil. Dan mungkin kau bisa mencobanya juga sayang…

Aku tau kau adalah lelaki hebat yang sering terperangkap pada pemikiranmu sendiri. Pikiranmu selalu melampaui masa. Jauh ke depan. Ah, sesungguhnya kau adalah seorang perencana yang baik. Kau brilian dalam mengkhayalkan, merencanakan, mendesain, lalu menjadikannya nyata. Tidakkah kau pikir itu luar biasa? Tak semua orang mampu sepertimu. Bahkan aku.

Maka berhati-hatilah memilih pikiranmu sayang. Lupakan semua yang negatif. Itu tak berguna. Hanya merusakmu saja. Hal-hal negatif adalah sampah. Maka kumohon jangan kau pedulikan.

Apa perlu kupinjamkan tabung kedap suaraku? Maka kau tak akan bisa mendengar apa-apa yang diluar dirimu. Satu-satunya yang bisa kau dengar adalah suara hatimu.

Sayang… apa kau masih ingat tentang mimpi-mimpi gila kita? Apa kau masih ingat tentang rencana kita melarikan diri lalu tersesat?

Sukurlah jika semuanya masih erat diingatannmu.  Maka kumohon jangan gagalkan itu karena keadaan yang busuk. Jangan gagalkan itu karena orang lain yang sama sekali tak mengerti kita. Jangan gagalkan itu karena diriku atau karena dirimu sendiri. Karena aku tak akan memafkannya.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s