kekasih ke dua (part 3)

15 11 2011

***

Tampaknya malam harus bersedia sedikit menunda gelapnya karena kau dan aku masih akan bersama. Usai  episode jagung bakar, perjalanan pun dilanjutkan. Kau dan aku bergabung dengan hiruk pikuk malam itu.

“Ada ayunan, kita berhenti sebentar yuk,” ucapmu tiba-tiba. Dan ayunan itu seperti rangkaian besi tua yang tak pernah diduduki lagi bertahun-tahun.  Sepertinya dugaanku itu benar karena letaknya di pekarangan sebuah bengkel las yang sudah tutup. Bangkrut mungkin.

Kita duduk. Lalu diam sejenak. Tak berisik seperti tadi. Ada sesuatu yang kau pikirkan. Begitu juga aku. Aku yang dari tadi sibuk dengan diamku sedang menimbang-nimbang untuk mengatakannya atau tidak. Aku takut kau akan menjadi terlalu senang saat mendengarnya. Terlalu senang lalu membuatmu lengah. Tak lagi mencintaiku berlebihan seperti sekarang. Aku takut. Karena ketika merasa nyaman, seseorang akan melonggarkan usaha dan penjagaannya. Apalagi lelaki.

Tapi oke, baiklah, aku akan mengatakannya. Resiko apapun itu, akan kuambil.

“Hmmm…ada yang ingin kukatakan,” ucapku sedikit berlagak misterius.

“Ha? Apa? Bilang aja,” jawabmu yang kentara sekali ingin tahu.

Kau memang tak pandai menyembunyikan perasaanmu, apalagi saat denganku. Aku suka.

“Aku sudah putus dengannya,” kataku tanpa ekspresi dan tanpa memandangnya.

Sebuah senyum kecil terlihat saat menutupi gejolak perasaan benar-benar bahagiamu. Dan malam itu menjadi semakin panjang. Ayunan besi karatan ini seperti sofa empuk yang tak ingin ditinggal.

“Artinya tak ada lagi selain aku? hanya aku? dan kini aku tak perlu lagi harap-harap cemas kau akan menghabiskan malam minggu dengan siapa?karena pastinya denganku?” ujarmu memberondongku dengan banyak pertanyaan yang semua jawabannya adalah iya.

Tapi kenyataannya rumah masih menjadi titik balik kita. Terimakasih Tuhan kita masih punya rumah. Masalahnya, rumahku dan rumahmu belum sama. Kita harus mengakhiri malam itu dan berpisah.

Kau dan aku tak boleh menjadi dua orang yang terlalu rakus. Waktu, perhatian, kesempatan, dan perasaan yang tak seharusnya kita dapatkan ini ternyata diberikan berlebih. Kita butuh waktu sendiri-sendiri untuk bersyukur.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s