guru tanpa kelas

15 11 2011

Tiba-tiba pagi ku yang bergairah tertohok karena sebuah status di jejaring sosial  facebook.“Senangnya hari ini akan mengajar murid-murid tercinta lagi,”.

Status biasa memang. Tak ada yang istimewa. Tak ada kata-kata bijak atau nasehat-nasehat di sana. Bagi yang membacanya sekilas, mungkin hanya menyiratkan kebahagiaan seorang guru yang akan membagikan ilmu pada murid-muridnya. Semangat. Ada sedikit euforia di sana. Tapi yang jelas itu hanya rangkaian kata yang membentuk kalimat sederhana.

Tapi tidak bagiku. Aku terdiam sejenak dan mulai berfikir. Memikirkan sesuatu yang sesungguhnya tak ingin aku pikirkan. Aku adalah seorang guru. Setidaknya aku diciptakan begitu oleh kampusku.

Sebagai seorang sarjana pendidikan yang sudah menamatkan kuliah hampir 6 bulan yang lalu, aku sama sekali tak tertarik menjadi guru. Bukan, bukan karena aku membenci anak-anak atau tak paham dengan bidangku. Bukan. Aku hanya tak menyukai mengajar di sebuah institusi. Rasanya, ya, well, memuakkan.

Mungkin agak kasar, tapi begitulah kenyataannya. Aku memang butuh uang. Dan aku mendapatkan uang jika menjalani profesi yang sesuai dengan gelar yang kudapat dari perjuangan 4 tahun ini. Tapi aku tak nyaman.

Ketika mengajar dan berinteraksi dengan anak-anak dengan berbagai macam karakter itu, aku senang. Sangat malah. Sebagian, aku melihat pantulan diriku pada mereka. Seorang pembangkang yang jahil. Ingin diperhatikan dan sedikit cerdas.

Juga ada anak-anak yang selalu berada di sudut, semakin tersudut dan hampir tak disadari keberadaannya karena terlalu tidak menonjol. Mereka selalu membuatku ingin mengajar. Setiap mereka istimewa dan pantas diperlakukan dengan istimewa pula.

Aku ingin mengajar dengan caraku. Dulu, waktu Praktek Kerja Lapangan (PKL) di sebuah sekolah negeri, aku dimarahi habis-habisan karena tidak menyelesaikan tuntutan silabus untuk minggu itu, alih-alih selalu memainkan games dan bercerita apa saja dengan murid-muridku.

Aku tak melihat mereka senang ketika belajar. Mereka takut dan muak. Kata belajar seakan memiliki synonim dengan neraka. Dan aku ingin mengubah pandangan itu. Tidak mudah memang. Tapi setidaknya aku ingin membuat mereka mencintaiku dulu.

Namun ternyata menuruti tuntutan sylabus jauh lebih penting daripada membangkitkan semangat bocah-bocah itu. Tugas pendidik tak berhenti sampai sylabus saja. Tugasnya bukanlah mengajarkan ilmu tertentu pada muridnya. Melainkan membantu para siswa itu menemukan sendiri apa yang mereka inginkan. Bukan memaksa atau mengekang.

Pendidikan pun tak lagi murni sebagai tempat belajar, berbagi dan tempat mengambangnya perasaan-perasaan lugu ingin tahu. Sekarang tak seperti itu.

Pendidikan mulai diisi kaum kapitalis yang komersil. Diperjual belikan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Posisi pengajar juga dimanfaatkan untuk keuntungan tersebut.

Sampai detik ini aku masih tidak tertarik mengajar di sekolah, tempat les, yayasan, atau institusi pendidikan manapun. Karena menjadi seorang guru tak harus dibatasi oleh ruang kelas yang membosankan.

Dan aku akan mengajar dengan caraku.


Actions

Information

8 responses

15 11 2011
echie

jangaaaaaaaak..love it!!!!!!!

15 11 2011
sonyawinanda

whuahahahah…thanks a lot for reading my blog…

16 11 2011
tutihandriani

catatanmu sangat mewakili sayang.. itu alasannya mengapa aku lebih bertahan dengan ‘dunia’ ku sekarang.
meski kita dididik untuk menjadi pendidik, tapi tak meski di sekolah, bukan?
mari menjadi bermanfaat dimanapun..

16 11 2011
sonyawinanda

yeah..you are totally right

21 11 2011
elldaysgallery

hahahahaha…love this….

21 11 2011
sonyawinanda

galakkkkk….

23 11 2011
Mayang

hidup onyaaaaaaaaa

23 11 2011
sonyawinanda

heduuuuuuuuuuuupppp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s