Steve Jobs dan kita

20 11 2011

Sayang…

Aku ingin menulis lagi. Setelah beberapa hari aku tak menuliskan satu huruf pun untukmu. Rasanya sudah bertahun-tahun saja. Lama. Aku rindu.

Kadang, berbicara lewat rangkaian huruf-huruf ini terasa lebih mudah. Tepatnya, karena yang kusampaikan benar-benar sampai tanpa ada interupsi mendadak yang akan mengaburkan makna. Tapi yah… memang tak ada intonasi-intonasi tertentu. Emosiku tak akan terbaca dari situ. Kau hanya bisa menerka-nerka  emosi dari kata-katanya.

Tapi kurasa kau tak perlu memikirkan emosiku saat menuliskannya. Tapi pikirkanlah apa yang sedang kusampaikan sayang…

Belakangan kita sering berdebat. Berdebat apa saja. Kadang aneh. Kadang tak masuk akal. Kadang tak penting. Kadang bisa sangat-sangat penting.

Kau ingat bagaimana kita memperdebatkan karakter steve jobs yang fenomenal itu? Ya aku tau aku seperti pemujanya waktu itu. Terlihat jelas ya? Hahaha. Aku hanya menyukai karakter pemimpinnya yang mampu mengendalikan apapun dan ia bisa mendapatkan apa yang dia mau. Ya meski dengan sedikit kekerasan dan manipulasi.

Tapi yang paling penting dia punya keyakinannya sendiri dan tak akan terpengaruh apapun hal-hal di luar yang akan menggoyahkan keyakinannya.

Ok.ok.ok. baiklah aku akan berhenti membicaran steve jobs. Paling tidak di surat ini. Karena aku tau kau tak suka. Kau tak perlu cemburu sayang, dia sudah di akhirat sana.

Saat berdebat, kau tak berusaha mengintimidasiku atau dengan bodohnya mengatakan “terserah kau sajalah”, yang berarti kau meremehkanku dan menganggap dirimu telah menang mutlak. Aku senang sayang… kau kekasih, teman, sekaligus musuh yang seimbang.

Ah, aku suka berdebat denganmu, apalagi saat kau menentang kesukaanku pada karakter pendiri Apple itu.

“Tapi itu berarti dia sangat egois. Kadang kita juga harus memikirkan perasaan orang lain yang tersakiti,” bantahmu.

Ya, berdebat memang saling beradu argumen. Namun  bukan untuk membuktikan siapa yang benar dan salah. Melainkan mencari solusi terbaik. Tapi aku mendapatkan lebih dari itu saat berdebat denganmu.

Lewat kalimat-kalimat yang kau sampaikan, aku mengenalmu lebih dekat. Caramu menyampaikan pendapat, menyadarkanku siapa dirimu sebenarnya.

Dan ternyata kita memang berbeda. Sangat berbeda. Aku lebih mementingkan diriku. Sedangkan kau lebih memikirkan persaaan orang lain ketimbang dirimu sendiri. Aku keras kepala. Sedangkan kau tak menyukai ke-keraskepala-an. Aku suka keluar dari “jalur”. Sedangkan kau cenderung melalui jalur yang sudah ada. Karena menurutmu jalur yang telah ada pastilah aman dilewati.

Aku pikir perbedaan kita bagus. Mengimbangi dan melengkapi. Dan sekali lagi, aku benar-benar suka berdebat denganmu sayang…

Bintaro, kamar kipas angin


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s