Malam terakhir boneka kayu

22 11 2011

Photo by Rahmad Doni

Ternyata ini masih punggung yang sama. Punggung  tempat ku membenamkan wajah. Punggung tempatku  bersandar, kesal, menangis, tertawa lalu terlelap tak sadarkan diri. Nyamannya masih sama. Aromanya pun tak berubah. Punggung ini masih milik lelaki yang sama. Lelakiku.

Ia tak pernah protes. Tak pernah mencurigaiku dan tak pernah memarahiku. Dia tak seperti kamu. Dia menerimaku.

Bahkan ketika aku sibuk membalasi sms dari ‘nya’ di balik pungung itu. Ia sama sekali tak memelototiku seperti kamu ketika aku sibuk dengan handphone.

Aku terus memeluk punggung kekarmu, bahkan makin erat. Dan aku tau pasti senyummu mengembang. Senyum bahagia tentunya. Karena sudah beberapa lama aku mengharamkan untuk memeluk punggungmu.Rasanya masih tetap sama. Tapi tak lagi ada ikatan emosi dengan pemiliknya. Hambar.

Ah, maafkan aku memelukmu terlalu erat. Sampai kau sesak nafas. Aku hanya terlalu senang dengan balasan sms ini.

Suaramu yang sedang bersemangat bercerita pun hanya sayup-sayup sampai  di telingaku. Tak terdengar. Dan aku pun sepertinya tak terlalu berminat mendengarkan. Sms ini jauh lebih menarik. Lagipula selama ini kau tak pernah mendengarkanku. Meski aku sudah berteriak-teriak hingga parau, kau tetap menceracau.  Sudah saatnya aku memperlakukanmu dengan cara yang sama.

Tidak. Bukan karena aku dendam dan ingin membalasnya. Sungguh bukan itu. Aku hanya merasakan keasyikan. Pantas saja kau tak pernah bersedih. Ternyata begitu menyenangkan bersikap seperti dirimu. Tak mendengarkan, acuh tak acuh, tapi memegang kendali.

Lelakiku, maafkan aku karena aku telah berhenti menjadi perempuan ‘bodoh’ mu. Maafkan aku karena telah berhenti menjadi mesin penyenangmu. Maafkan aku karena tak lagi menjadi boneka kayumu. Maafkan aku karena setelah ini, kau tak kan melihatku lagi.

Tapi kau masih boleh berdoa, kalau aku sesekali akan menjengukmu dan mendengarkan ocehanmu. Kamu masih boleh berdoa kalau aku akan membawakan masakan terenakku saat kau lapar lalu menyuapimu. Kamu masih boleh berdoa aku akan menunggumu di ujung jalan dengan manis memakai gaun merah pemberianmu. Dan akhirnya kau masih boleh berdoa malam ini bukan malam terakhir pelukanku.

Tapi lelakiku, aku juga akan berdoa pada tuhan yang sama, agar doa mu tak pernah dikabulkan. Amin.


Actions

Information

7 responses

22 11 2011
dedisupendra

Kisah yang sadis, Kak. hmm,

22 11 2011
sonyawinanda

ya, begitulah, tapi kadang sadis itu indah kan?haa

23 11 2011
tutihandriani

aku bayangkan ‘lelakimu’.. hmm
agaknya dia akan sangat kesakitan
sadis banarrrr

23 11 2011
sonyawinanda

ya, tapi aku sudah lebih dulu merasakannya

25 11 2011
tutihandriani

ga baik, balas dendam. cukup sekali sj. jangan ulang lagi. hi..

25 11 2011
sonyawinanda

ya. tidak akan.doa kan aku untuk tidak tergoda melakukannya lagi ya

25 11 2011
tutihandriani

yes, i’ll…thumbs up

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s