Hujan dan Ceracau

23 11 2011

Malam ini hujan, dan aku mulai memundurkan waktu. Selalu begitu jika hujan turun.  Aku selalu percaya  hujan membawa tetesan-tetesan kenangan. Tak beraturan. Dari berbagai lintas waktu. Tapi entah kenapa, hujan kali ini membawa ingatan yang sama.

Ingatan tentang teriakan-teriakan parau di tepi pantai. Ingatan tentang tangisan-tangisan beku kau dan aku. Ingatan tentang kehilangan, penyesalan, lalu merelakannya.

Aku selalu berdoa agar aku tak pernah lagi mengingatnya.Tapi caraku salah. Semakin kudoakan, semakin kuingat jelas. Sangat jelas malah. Ah, harusnya aku tak pernah berdoa.

Lalu kupandangi terus tetesan air di tepi jendela itu. Mengalir pelan, berhenti lalu megalir lagi hingga akhirnya hilang di tanah meninggalkan jejak basah. Begitulah seharusnya akhir kenangan tentang mu. Tapi sayang kenyataannya tak begitu. Kau tak pernah hilang di tanah meski selalu ada jejak basah.

Kita pernah punya kenangan manis yang akan membuat semut mabuk kepayang. Berjalan bersisian saling mengenggam tangan di sepanjang rel kereta lalu bercerita seandainya rel ini tak ada akhirnya. Kita sama-sama berbisik pada udara agar itu menjadi nyata. Lalu kau membeli secangkir minuman hangat. Ya hanya secangkir. Karena kau hanya sanggup membeli satu. Dan itu untukku. Langkah kita semakin melambat ketika atap rumahku terlihat.

“Malam ini tak boleh berakhir, aku akan meneleponmu hingga kau tertidur” ucapmu tiba-tiba. Pada akhirnya kau melihat langsung ke bola mataku dan berujar pelan bahwa kau mencintaiku.

Di ujung sana kau hanya mendengar desahan nafas yang sayup-sayup. Ya, karena aku sudah tertidur pulas. Kau bilang senang mendengarnya. Seakan ada disisiku mengusap lembut rambut panjangku. Aku tersenyum pada jendela kaca mengingatnya.

Tiba-tiba hujan semakin lebat. Kenangan manis itu menghilang. Terhapus. Kau membentakku. Berkata betapa bodohnya aku sambil berpaling pergi. Aku lalu menangis dan berusaha tak menjadi mati saat itu. Kau juga membiarkanku tersesat di jalan yang tak pernah kulalui sebelumnya. Katamu kau melakukannya agar aku menjadi lebih baik dan berfikir. Tapi aku tak pernah merasa lebih baik. Aku tak pernah pulang sesudah itu.  Aku tersesat selamanya. Aku memecahkan kaca jendela mengingatnya.

Air hujan itu masuk. Membuncah. Kamarku banjir karenanya. Kenangan-kenangan itu mengambang di lantai kamarku. Mataku berkunang-kunang dan aku mulai menceracau.

“Aku tak bisa lagi bersamamu. Aku sakit. Sakit yang teramat sangat. Maka kumohon lepaskan aku,” racauku. Lalu aku mulai tak sadarkan diri. Hal terakhir yang kuingat kau memelukku dan berkata

“Kumohon jangan pergi. Apapun akan kulakukan asalkan kau tetap tinggal,”

Aku tak bereaksi. Kau mulai menjadi gila. Memaki-maki lalu menangis histeris. Kau terlambat. Aku sudah terlanjur mati.


Actions

Information

4 responses

26 11 2011
elldaysgallery

tulisan ini bgs tp aku ga sukaaa

29 11 2011
sonyawinanda

kenapa?

1 09 2013
azuiway

keren mbak (panggil mbak aja ya.. hehe), kayaknya saya mulai ngefans ama tulisan2nya nih, grafis fotonya juga keren

2 09 2013
sonyawinanda

wah, terimakasih ya sudah baca-baca di sini. aku manggilnya apa? mas? atau mba juga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s