Mau suami atau uang?

3 12 2011

Masih agak bingung dengan curhat sore dua orang ibu muda ini. Keduanya sepupu saya dengan latar belakang yang berbeda. Hanya saja, mereka curhat di sore yang sama. Dan anehnya topik curhatnya pun sama! Padahal yang satu di Jakarta, yang satu di Pekanbaru.

Pukul 4 sore, ibu muda pertama menelpon saya. Ya, basa-basi biasa aja awalnya.

“Gimana kabar kamu di sana? Udah dapet kerjaan bagus? Enak ga hidup di ibukota? Pacar gimana?” ucapnya memberondong saya dengan berbagai pertanyaan sekaligus.

Langsung saya jawab satu persatu dengan cepat dan singkat saja biar cepat-cepat tuntas. Bukannya  tak senang mendapat telepon dari dia, tapi rasanya hari ini saya kurang bersemangat. Cuaca sangat-sangat panas. Mood kebawa panas deh.

Tanpa diminta dia tiba-tiba memberi nasehat panjang lebar. Wah… bakalan lama nih, padahal saya ingin tidur. Setelah nasehat ngalor ngidul yang tak terlalu saya dengarkan, si sepupu beranak 2 yang berusia 31 tahun itu tiba-tiba menjadi sangat serius.

“Kamu kalau cari calon suami harus hati-hati. Pilih bener-bener. Pilih itu yang udah mapan, kalau bisa sih kaya biar hidup kamu nanti ga susah. Apalagi kalau udah punya anak, ribet banget deh kalau duit pas-pasan,” katanya lantang.

Deg. Kenapa topiknya jadi suami sih?

Sebenarnya saya kurang setuju dengan dia. Tapi saat itu saya mendengarkan saja. Lau dia pun melanjutkan nasehatnya yang lebih tepat disebut curhat.

 

“Memang suami aku waktunya cukup buat keluarga. Kerjanya ga terlalu nyita waktu, jadi dia dekat sama anak-anak. Tapi gajinya kecil, ga bisa memenuhi semua kebutuhan. Aku harus berhemat-hemat. Ga bisa beli barang-barang yang aku mau. Apalagi aku sekarang ga kerja. Semoga kamu ga dapet yang kayak aku,”

Setelah itu dia menutup telepon karena anaknya yang berusia 1,5 tahun terbangun dan menangis. Kata-katanya terngiang-ngiang di telinga saya. Cari suami mapan dan kaya!

Percakapan meja makan

Tak selang beberapa lama, sepupu kedua pulang. Wajahnya lelah. Diletakkannya tas kerja di kamar lalu menenggak segelas air putih cepat-cepat.

“Banyak kerjaan ya kak? Makan dulu yuk, bareng kita,” ujarku menawarkan.

“Hayuk, aku juga udah laper banget ni, males makan di luar. Ga sehat, bikin sakit perut,” jawabnya.

Percakapan meja makan pun dimulai…..

“Alya dari tadi nanya-nanya kakak terus. Pengen sama mama aja makannya, dia teriak itu terus kak,” ujarku memulai percakapan.

“Itu lah, aku masih pengen liburan ni, ngabisin waktu sama Alya lebih lama. Aku kasian sama dia. Tapi gimana lagi kerjaan banyak, deadline juga,” katanya sambil mengunyah makanan dan menerawang.

Jelas sekali dia sangat rindu waktu bersama anak satu-satunya yang masih berumur 2,5 tahun itu. Kedua orang tuanya sibuk kerja. Bahkan sang ayah bekerja di luar negeri, pulang hanya sekali sebulan. Alya kecil hanya tinggal bersama pengasuhnya seharian.

Si sepupu harus mengatasi semua permasalahan sendiri di rumah. Ga kebayang kalau ga ada pembantu dan pengasuh. Dia tidak mungkin bekerja tanpa ada yang mengurus rumah dan mengasuh si anak.

“Tapi aku juga ga mungkin berhenti kerja. Meski gaji si abang sangat-sangat mencukupi, aku juga punya keluarga inti yang masih membutuhkan aku. Mama sama papa sakit-sakitan. Aku ga mungkin minta biaya pengobatan mereka dari abang terus menerus,” dia melanjutkan.

Aku lagi-lagi diam saja mendengar curhat sore itu.

“Yang paling penting itu bukan uangnya, tapi suaminya. Ada ga dia di saat kita membutuhkan? Kehadiran suami di samping kita itu jauh lebih berharga menurut aku. Kalau rejeki kan bisa dicari. Tapi ini udah resiko aku kawin ama si abang. Semoga kamu ga dapet yang kayak aku,” katanya dengan raut muka sedih.

Ah, kedua sepupu itu lagi-lagi mengucapkan kalimat yang sama. ‘semoga kamu ga dapet yang kayak aku’. Lalu aku dapet yang kayak apa?

Apa yang penting?

Kedua nasehat ibu muda ini seakan-akan bertentangan. Namun sesungguhnya semua itu adalah kegelisahan mereka. Dengan kondisi yang bertolak belakang, mereka mengemukakan apa yang belum mereka dapatkan. Ketika sepupu 1 memiliki suami yang selalu ada, ia mulai mengeluhkan ketidak cukupan finansial. Sebaliknya sepupu 2 yang finansialnya sangat mapan, komplain dengan ketidakhadiran sang suami saat dibutuhkan.

Setiap pilihan ada resikonya dan ketidaksempurnaan akan selalu ada di dunia ini.

Jika boleh memilih, siapapun ingin suami yang selalu ada dan banyak uang. Namun semua itu tak akan tercapai tanpa ada ketimpangan terlebih dahulu. Sederhana saja, suami yang banyak uang pastilah pekerja keras. Kalaupun dia memiliki usaha atau perusahaan sendiri (tidak bekerja dengan orang lain) tetap saja waktunya akan tersita untuk mengurus semua itu. Konsekuensinya, waktu untuk keluarga sangat minim.

Sebaliknya, suami yang selalu ada, berkemungkinan adalah pengangguran atau memiliki pekerjaan paruh waktu saja dengan gaji minim.

Ketika dihadapkan dengan dilema seperti ini, perempuan hanya butuh memprioritaskan apa yang penting. Rumah tangga yang seperti apakah yang mereka inginkan? Bergelimangan uang atau bergelimangan suami? Lalu perlu dipertimbangkan lagi apakah ingin bekerja atau tok mau mengurus keluarga saja? Silahkan berfikir dan memilih. Ini hidup anda!


Actions

Information

9 responses

3 12 2011
tutihandriani

kamu pilih mana?

6 12 2011
sonyawinanda

penulis dilarang ditanya..hehehe

5 12 2011
ntifebri

Realitanya…..kebahagiaan sejati ada pada *keluarga sederhana*….mereka selalu bisa tertawa dengan hati tanpa harus ada ketakutan tentang banyak hala….mereka tak menginginkan banyak hal, hanya menginginkan kebahagiaan dan senyum anak2nya…………..#survey

6 12 2011
sonyawinanda

SEDERHANA itu definisinya seperti apa dulu? cukup? setiap orang punya standar kecukupan berbeda-beda. menurut saya akan selalu ada ketimpangan meskipun sedikit.

12 12 2011
dozky

coool!!

12 12 2011
dozky

pilihan saya menerima apa yang ada saja… masuuuk???

12 12 2011
sonyawinanda

ahahahaha… apalah niiiii… mau aja semuaaa

20 12 2011
Septri Lediana

Setuju dengan kalimat : semua orang punya standar kebahagiaan masing-masing. Standar bisa diatur sesuai mau kita. Menurutku bukan pada kriteria si suami idealnya. tapi lebih pada standar kita untuk mendoktrin diri sendiri agar merasa cukup dan bahagia… apalagi untuk sesuatu yang jangka panjang dan tak baik diakhiri seperti pernikahan… berdamai dengan sendiri mungkin… sesuaikan standar.. (selama keadaan masih manusiawi untuk ditolerir)…
kalau sudah milih sendiri… jalani sendiri… siapa yang salah kalau akhirnya tak juga merasa bahagia ??

20 12 2011
sonyawinanda

ya, diri kita sendirilah yang menentukan standar, apapun persoalannya, kesedihan atau kebahagiaan. karena jika berpatok pada orang lain atau semacam kriteria2, tidak akan pernah ada yang benar2 pas dan cukup. yup, berdamai dengan diri sendiri. dan jika masih tak merasa bahagia, saya rasa individu itu harus memikirkan kembali untuk apa dia hidup dan menjalaninya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s