Si Pengkhayal vs Si Realistis

3 12 2011

Cerita hari ini, 3 Desember 11

Kenapa kamu bisa suka sama aku? Kalimat itu sering jadi topik utama kita dulu, bahkan sampai sekarang. Aku lebih sering diam lalu membalikkan pertanyaan itu padamu. karena jujur aku belum tau pasti jawabannya.

Melihat, mengamati lalu menilai. Dan aku putuskan aku menyukaimu dan ingin bersama. Ya, sesederhana itu saja. Tapi seperti kata Steve Jobs dalam biografinya, bahwa kesederhanaan adalah pencapaian tertinggi dan butuh kerja keras untuk membuat sesuatu yang simple untuk betul-betul memahami tantangan di baliknya.

Aku rasa pikiran bawah sadarku (unconscious mind) telah mengumpulkan berbagai macam informasi yang (tanpa kusadari) menuntunku untuk sampai pada sebuah kesimpulan, aku menyukaimu . Dengan alasan yang tak bisa kujelaskan tentu saja.

Itu terjadi pada awal kita bertemu. Aku tak mau menghabiskan banyak waktu untuk berfikir. Ikuti intuisi lebih penting bagiku. Tapi aku percaya apapun yang terjadi di dunia ini ada alasan dibaliknya, hanya belum tau saja. Dan pertanyaan itu mulai kurenungkan.

Setelah dipikir, dirasa dan ditimbang-timbang, jawabannya banyak. Sangat banyak malah. Tapi ada beberapa alasan yang paling sulit kutemukan. Tapi rasanya penting, karena hanya kau yang memilikinya.

Si Pengkhayal vs Si Realistis

Aku adalah seorang pengkhayal ulung. Aku suka bermimpi. Apa saja yang mengilhamiku, seperti buku, film, lagu, video clip, pengalaman seseorang, atau kejadian nyata yang kusaksikan bisa membuatku larut dan lupa dunia nyata. Aku bisa hidup dalam dunia yang kuciptakan sendiri itu. Selamanya mungkin. Dunia khayalanku bermacam-macam. Kadang hanya ada padang rumput dengan bunga-bunga yang tumbuh rendah. Diujungnya sebuah anak sungai mengalir lambat. Aku bisa melakukan apa saja di sana. Berlarian, tidur, lalu mengkhayal lagi. Bebas.

Usai lelah, aku akan tidur di rumah pohon yang sejuk dengan aroma kayu basah yang kental. Hingga esok pagi datang, hamparan salju telah menunggu. Mantel tebal dan sepatu boot menemaniku melahap salju-salju itu.

Disuatu sore gerimis, aku juga pernah berkhayal akan dijemput pangeran berkuda putih. Menyelamatkanku dari dunia penuh konflik dan melelahkan ini. Istirahat sejenak di punggung pangeran itu sambil menikmati hentakan si kuda sepertinya sangat menggoda.

Pangeran itu tak pernah mengeluh, kesal, atau memarahiku karena kebodohanku yang kadang datang bertubi-tubi. Ia hanya tersenyum dan memelukku. Dan kami melanjutkan perjalanan ke negeri antah berantah yang sejuk. Tua di sana. Ya, aku tau semua itu omong kosong bagi sebagian orang. Tapi aku masih percaya. Dia akan datang. Suatu hari nanti. Menjemput dan menyerahkan punggungnya padaku.

Lambat-lambat, ketika aku beranjak dewasa, khayakan-khayalan itu mulai kutinggalkan. Malah aku merasa gila pernah berfikir begitu. Ini dunia logika. Kita realistis saja. Semua hanya tentang kepentingan. Dua manusia bersama karena ada yang mereka manfaatkan satu sama lainnya. Kepentingan. Jika tak lagi butuh. Maka mereka akan saling meninggalkan. Jika pun masih tetap bersama, meski tak lagi membutuhkan, tetap ada alasan-alasan menjijikkan yang membuat mereka terpaksa bersama. Aku sudah berhenti berkhayal.

Lalu kau datang, menggelitik lagi ingatan kanak-kanak itu. Dan membuatnya terasa mungkin. Paling tidak kau menganggap semua itu masuk akal saja. Sempat aku merasa kau sudah gila. Aku melihat refleksi diriku di masa lalu di matamu. Kau masih saja percaya ada yang murni di dunia kotor ini. Usahamu tak mudah. Dan perlahan aku pun percaya. Khayalan itu dimulai lagi.

Satu-persatu puzzle-puzzle ingatan itu kurangkai lagi hingga menjadi mimpi yang sempurna. Makanya aku suka kau sayang….

Dan mulai hari itu aku selalu mendengarmu menyanyi seperti Nidji

Jangan takut lagi. Jangan takut cinta. Jangan takut aku. Cinta yang tulus tak kan menyakiti. Oh…jika kau butuh cinta..aku lah orangnya. Oh… jangan kau takut cinta. Aku kan setia. Oh… jika kau butuh cinta. Pilihlah aku.

Bintaro, kamar nyamuk


Actions

Information

3 responses

15 12 2011
myphotographydesign

great writting

18 12 2011
salmizul fitria

yg susah, melankolis romantis digabungkan dengan Plegmatis!

18 12 2011
sonyawinanda

handee…tu parah mahhh.. mati perlahan tu maaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s