Teman tak perlu bersama

8 12 2011

“Kita tetap bersama kan? meski suatu hari nanti aku melakukan sesuatu yang sangat-sangat tidak kamu suka?”

“Ya tentu saja. Aku tidak akan mencari tau kenapa kau melakukannya. Aku tak peduli, kita tetap teman,”

Itu percakapanku dengan seseorang di masa lalu. Sebutannya masih seseorang karena aku masih ragu memberi label apa padanya. Saudara? Sahabat? Atau sekedar teman?

Jika dikatakan saudara, kami sama sekali bukan. Kami terbentuk dari sel telur dan sperma yang berbeda. Tak ada hubungannya dengan persoalan darah itu. Tapi rasanya bisa sedekat darah. Jika dikatakan sahabat, rasanya lebih. Apalagi jika definisi sahabat adalah satu level di atas teman. Jika teman, ya kita memang teman, meski dengan hubungan teman yang tak biasa.

Tak seperti hubungan pertemanan pada umumnya, kita jarang bersama, jarang bicara, jarang jalan bersama, jarang shopping bersama, jarang mengikuti kuliah yang sama, ya begitu, serba jarang. Meski demikian, entah apa yang menghubungkan kita, karena rasanya ada semacam tali yang mengikat ujung jari kelingking kami dan menghubungkan keduanya. Kata dekat rasanya tak cukup mewakili.

Bahkan kita punya gank yang berbeda. Mereka dekat, sangat dekat malah. Sering bersama dan melakukan ini itu bersama-sama. Tak ada aku di sana. Begitupun aku. Aku punya gank berbeda dengannya. Kita juga melakukan ini itu bersama. Tak ada dia. Tapi semua itu jadi terlupa ketika kita mulai bicara.

“Nanti malam kita makan enak ya, aku mau bicara,” begitu bunyi pesan singkatnya.

“Oke, tapi kamu yang traktir ya. Lagi kere nih. Aku mau makan mewah dan tempatnya asik buat ngobrol minimal 5 jam ya,” balasku semena-mena. Tapi anehnya dia mengiyakan saja dengan ikhlas. Ah, ini salah satu gayanya yang paling kusuka. Mengiyakan semua keinginanku!

Lalu kita terjebak pada pembicaraan yang sama. Topik ini telah jadi ‘most talk’ sejak 2 tahun terakhir dan kita tetap saja ber-api-api membicarakannya. Ah, aku rindu membicarakan topik ini. Tapi aku tak bisa membicarakannya lagi karena semuanya sudah terlanjur berakhir.  Dan aku akan terlalu sedih untuk membicarakannya.

Kebiasaan makan ‘enak’ dan bicara ini jadi semacam ritual pertemuan kita. Dan terjadi di waktu yang tak biasa. Karena dikehidupan nyata, kita punya hidup yang jauh berbeda. Jika tak mood pulang, kita akan menginap di suatu tempat yang tak akan pernah menolak kita. Rumah kedua kita. Bergadang sampai pagi (meski dia selalu tertidur jam 9 malam lalu terbangun lagi jam 2 dini hari untuk membenarkan letak tas nya yang jadi bantal!!!). Dan aku menonton film yang baru di download sendirian dengan mata merah.

Ketika membicarakan sesuatu, aku merasa sangat tau dengan apa yg sedang dirasakannya. Maksudku bukan sekedar tau yang seperti itu. Paham dan mengerti alasan-alasan tak masuk akal terhadap hal-hal yang dialaminya. Mungkin karena aku orang yang jarang terkejut. Menurutku semuanya mungkin saja. Dan aku bisa menjelaskan itu padanya. Di sisi lain, dia selalu bisa mengurai pertanyaan-pertanyaan yang selalu menggangguku.

Kita berbeda

Pada dasarnya kita adalah dua orang perempuan yang sangat berbeda. Baik fisik, karakter, kecendrungan, ketertarikan dan ketidaksukaan. Dia memiliki wajah tenang dan menenangkan. Senyumnya selalu terlihat tulus dan kalem. Sebaliknya, aku punya wajah nakal dan senyum jahil. Aku selalu meledak-ledak jika terlalu senang, sedih atau dapat ide baru. Dan dia? Dia selalu bisa membicarakan semuanya dengan ekspresi biasa saja!

Aku selalu tertarik dengan tantangan-tantangan baru. Ingin mencobanya. Sedangkan dia dengan senyum tenang akan berkata,

“Aku sudah nyaman begini. Aku rasa aku akan meneruskannya saja,”

Ya, begitulah, jika dia sudah menemukan kenyamanan, tak sedikitpun akan berpaling dari itu. Sampai mati mungkin.

Satu lagi, kita menyukai tipe lelaki berbeda (sukurlah). Dia cenderung suka lelaki berpenampilan sederhana, bersahaja dan terlihat sedikit cerdas. Dia suka nice guy. Dan aku? Aku lebih suka bad boy. Lelaki yang sedikit tempramen, protektif dan romantis, tau cara memperlakukan perempuan. Vino G Sebastian lah… dia tak suka belanja. Sedangkan aku? akan melakukannya seharian!

Tapi kita punya sedikit persamaan. Kita selalu menangis sesenggukan semalaman karena masalah yang sebenarnya sudah selesai. Lalu kita menelepon dan bergantian menceritakan cerita lucu. Kemudian menutup telepon dan berkata,

“Terimakasih sudah membuatku tertawa setelah tangis yang melelahkan ini”

Satu lagi, kita sama-sama punya ingatan yang sama jika mendengar lagu ‘no other’ nya suju. Ah, aku merindukanmu.

Teman… di surat ini aku akan mengaku.

Aku merasa bersalah tak terlalu mendengarkanmu dulu. Karena ternyata kau benar. Dengan keras kepala dan mata tertutup, aku tetap melangkah ke sana. Aku terjatuh, seperti yang sudah kau ramalkan jauh-jauh hari. Tapi mimpi kanak-kanak kita masih terlalu banyak. Kita akan disibukkan untuk menjadikannya nyata. Kuharap kau masih memegang kata-katamu dulu. ‘kita akan tetap bersama apapun yang terjadi’  karena aku tak mau melakukannya sendiri.


Actions

Information

7 responses

8 12 2011
dedisupendra

Saya menjadi begitu melankolis ketika membaca ini. Sungguh, kawan-kawan selalu membuat saya galau dan terjerat di palun rindu yang tak pernah lepas.

9 12 2011
sonyawinanda

hehhehe.. aku hanya rindu lalu menuliskannya… kau pasti punya cerita berbeda dengan aroma rindu yang sama…

9 12 2011
elldaysgallery

Dia selalu bisa membicarakan semuanya dengan ekspresi biasa saja!

is iit???? am i???? hahahaha…..
maaf hingga saat ini aku masih berfikir no LDR even for friends, friendship or in relationship… we r together or end… that’s it… tapi kayaknya aku mikir ulang deh…. LDR friends… ini jaman canggih broo.. ok we’ll be friend whenever and whereever….

kita mungkin masih bisa bicara enak dalam jarak jauh, tapi tidak MAKAN ENAK!!!! hu’uh…
damn! i miss u too

9 12 2011
sonyawinanda

like what i promise to you. i will make a writting about you.
ahahhaha….. no LDR even for friends!
i miss u too…
let’s make our dream comes true….

12 12 2011
tutihandriani

Long distance is killing me, long distance is colouring me..😀
‘karena berjarak rasa rindu itu ada’

12 12 2011
sonyawinanda

so you like it. but don’t feel comfortable with it honey

12 12 2011
tutihandriani

tengah berusaha berdamai dengan keadaan. huhu.. klise

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s