Merantau dan Minangkabau

11 12 2011

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang

*Ranah 3 Warna

Merantau. Begitulah kebiasaan masyarakat suku minangkabau dari dulu dan masih bertahan hingga zaman modern sekarang. Terbukti hampir separuh masyarakat Sumatera Barat (yang didominasi suku minangkabau) telah meninggalkan tanah kelahirannya. Terutama lelaki yang belum menikah (bujang).

Karantau madang dihulu,
Babuah babungo balun.
Marantaulah bujang dahulu

Dirumah paguno balun

Kini, merantau tak hanya berlaku untuk kaum pria, wanita minang juga melakukan hal yang sama. Banyak alasan mengapa mereka harus pergi. Bukan karena mereka tak menyukai kehidupan di kampung lalu lari. Sebaliknya merantau adalah bentuk kecintaan dari kampung itu sendiri. Sesungguhnya, dalam kenyataan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Minang, pergi merantau bagi para ’bujang’ dianggap sebagai ’prestasi’ tersendiri. Terlepas dari apakah nanti mereka akan berhasil atau tidak. Merantau bukanlah suatu tindakan untuk menghindar, tapi perbuatan terhormat.

Pemahaman ini didukung dengan adanya ungkapan ataupun pedoman hidup lain, yaitu:

Sayang jo anak dilacuik’i ( Sayang kepada anak dihukum kalau berbuat salah )
Sayang jo kampuang ditinggakan ( Sayang kepada kampung, ditinggalkan )

Di tanah perantauan, mental para perantau muda ini ditempa untuk menerima kondisi-kondisi terjelek diperantauan. Mereka dianjurkan untuk mengutamakan mencari pekerjaan terlebih dahulu. Dan ketika kembali ke tanah kelahirannya, mereka membawa cerita-cerita hebat tentang perjuangan. Hal inilah yang kemudian memacu kaum muda lainnya untuk mengikuti jejak mereka. Kebiasaan merantau pun bak estafet yang selalu diteruskan.

Fenomean merantau ini juga menjadi inspirasi bagi para sastrawan.  Hamka, dalam novelnya Merantau ke Deli, bercerita tentang pengalaman hidup perantau Minang yang pergi ke Deli dan menikah dengan perempuan Jawa. Novelnya yang lain Tenggelamnya Kapal Van der Wijck juga bercerita tentang kisah anak perantau Minang yang pulang kampung. Selain novel karya Hamka, novel karya Marah Rusli, Siti Nurbaya dan Salah Asuhannya Abdul Muis juga menceritakan kisah perantau Minang. Dalam novel-novel tersebut, dikisahkan mengenai persinggungan pemuda perantau Minang dengan adat budaya Barat. Ada pergolakan dan manisnya hidup di sana.

Maka janganlah takut merantau. Banyak pengalaman-pengalaman luar biasa menanti di luar sana. Keluar dari zona nyaman akan mendewasakan. Karena untuk menerima berkah yang lebih besar, terkadang kita harus melepaskan hal kecil dalam genggaman. Ketika sendiri dan harus bertahan dalam kekurangan, kita (manusia) akan berkali lipat lebih cerdas dan kreatif. Selamat merantau.


Actions

Information

5 responses

12 12 2011
dozky

ngeri sonya.. hhahha

12 12 2011
sonyawinanda

apanya yang ngeri?hahha

15 12 2011
dozky

tulisannya

18 12 2011
salmizul fitria

selamat “me_ranjau” (with J)

18 12 2011
sonyawinanda

god damn J!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s