Bintaro-Bogor VS Bintaro-Singapura

18 12 2011

Masih ingat tentang cerita dua orang sepupu yang curhat di sore yang sama? Curhat yang bikin bingung! Ya, sepupu pertama menasehati carilah suami kaya. Sedangkan sepupu kedua menasehati tentang ketidakpentingan uang dan berharganya kehadiran suami.

Hari ini, baru saja, sepupu kedua pulang dari liburannya ke Singapura dan Thailand.

“Haduuuu… nyebeliiin sumpah! Alya nyebelin banget! Aku capeeee banget teh, pengen dikerokin ma dipijitin yaaa,” katanya dengan muka yang benar-benar lelah.

“Iya, tau nih si Alya nangiiiiissss melulu. Masa sampe 4 jam ga diem-diem juga! Padahal kurang seru apa coba liburannya?” si suami menimpali.

Si teteh, baby sitter keponakanku cuma bisa tersenyum dan tertawa kecil. Lalu bertanya apa saja yang dilakukan di negeri jajahan Inggris itu. Si sepupu menjawab dengan muka kesal.

“Ga ada! Cuma ngediemin si Alya nangis dan belanja-belanja kebutuhan dia aja. Kita bener-bener kesel! Dia pengen digendooong terus ga mau turun! Beratnya minta ampun, tangan aku ampe gemeteran. Udah aku marahin, teriakin, pukul juga teteeep ga mau diem,” ceritanya.

“Kasian atuh Alyanya dipukul, pasti kesakitan. Dia emang kurang nyaman kalau di tempat rame, pengennya pulang aja,” jawab teteh.

Si sepupu masih dengan ber-api-api menceritakan kisah liburannya yang melelahkan itu. Mulai dari malunya dia dan si suami di kereta karena anaknya nangis sangat-sangat keras sehingga menganggu penumpang lain. Lalu tentang si anak yang sama sekali tak mau difoto dan maunya digendong sepanjang hari. Belum lagi cerita tentang ompol di pesawat dan tempat-tempat umum yang merepotkan bukan main.

“Kapok deh dua kali liburan begini terus! Besok-besok ditinggal aja! Atau ajak teteh aja. Tapi teteh punya ijazah ma akte kelahiran ga? buat urus paspor,”

Ditanya begitu si teteh bingung. Perempuan 30 tahun asal Tasikmalaya ini tak ingat lagi di mana ijazah SD dan SMP nya, apalagi akte kelahiran.

“Aku ga punya akte kelahiran neng,” jawabnya polos.

Begitulah, liburan yang direncanakan untuk bersenang-senang malah jadi merepotkan. Si sepupu yang wanita karir ini selama 3 hari penuh terpaksa mengurus semua kebutuhan anaknya sendiri. Mulai dari ganti pampers, ganti baju, bikin susu, memandikan dan menggendong dilakukannya sendiri. Si suami tak terlalu banyak membantu, karena anaknya tak terlalu dekat dengan si bapak. Si sepupu benar-benar dibuat stress dan kesal.

Terakhir kali dia mengurusi si anak secara total ketika umurnya 40 hari. Sesudah itu, si anak jadi tanggung jawab teteh. Dia harus bekerja dari jam 8 pagi sampai jam7 malam. Begitu terus dari hari Senin sampai Jumat. Sabtu dan Minggu yang seharusnya bisa jadi 2 hari yang mesra dengan si anak, harus dimanfaatkannya untuk kuliah. Pagi-pagi berangkat, kadang-kadang si anak masih tertidur pulas. Ketika pulang, ia hanya bisa menciumi anaknya yang (lagi-lagi) sedang tidur.  semua itu dilakukannya demi memberikan kehidupan yang layak untuk anak-anaknya kelak. Dia punya 2 orang pembantu rumah tangga yang siap melayani. Yang satu mengurus anak, yang satu lagi mengurus rumah dan tetek bengeknya.

latar belakang keluarga si sepupu yang sederhana, memicunya untuk bekerja lebih keras agar keturunannya nanti tak lagi merasakan kesulitan seperti dirinya di masa lalu. Beruntung dia punya otak yang cerdas dan skill di atas rata-rata. Sehingga dia punya pekerjaan bagus dengan posisi strategis.

di suatu kesempatan, si sepupu tiba-tiba bertanya pada anak semata wayangnya. “Alya anak siapa?” tanya ibunya. “Anak teteh ai,”jawabnya spontan. Sontak jawaban polos itu membuat raut muka yang awalnya senang menjadi tak terdeskripsikan. Sedih, kesal, marah, cemburu, semua bercampur di mukanya yang oval itu. “Lho? trus mamanya siapa?” tanya si ibu kekeh. “Mamanya mama cita,” jawab si anak menyebutkan nama ibunya tanpa huruf ‘r’ dengan logat yang lucu.

Ponakanku ini sangat-sangat cerdas. Umur 2 tahun saja dia sudah hafal berbagai lagu berbahasa inggris. Bisa menyebutkan angka 1-10 dalam bahasa Inggris pula. Juga abjad  (masih dalam bahasa Inggris). Namun, ternyata kata pertama yang keluar dari mulut anak sepintar itu ketika ia baru bisa bicara adalah ‘teteh’ bukan ‘mama’ apalagi ‘papa’.  Beberapa hari setelah itu, usai diajarkan cara menyebutkannya, barulah ia bisa berkata ‘mama’ kepada orang yang benar.

Bintaro-Bogor

Di belahan bumi lain, teteh, aku dan beberapa orang teman menikmati liburan kami dari Bintaro-Depok-Bogor dengan kereta api. Ini kali pertama untuk si baby sitter melakukan perjalanan dengan kereta. Biasanya dia hanya menghabiskan waktu di rumah, pasar, atau mengantar Alya ke sekolahnya (pre-school). Awal naik, mukanya tegang dan waspada. Lihat kiri, lihat kanan. Tapi lama-lama ia menikmati juga.

“Asik juga ya naik kereta. Luas, kursinya warna-warni lagi,” ujarnya senang.

Hari itu sabtu, kereta tak begitu ramai. Masih bisa duduk, ngobrol dan yang paling penting, FOTO-FOTO!!! Semuanya terlihat senang. Kami belanja, wisata kuliner, atau sekedar jalan-jalan saja. Ya..tak begitu banyak mengeluarkan biaya lah. Ongkos kereta AC hanya 6 ribu saja. Makan, di tempat yang sederhana saja. Lalu menertawakan apa saja. Saking senangnya, mungkin kami tertidur sambil tersenyum, hehehe.

Ah, Bintaro-Bogor dan Bintaro-Singapura memang tak bisa disamakan. Singapura jauh lebih gemerlap dengan mall mewah surga belanjanya. Belum lagi tourism spot lainnya yang menyenangkan. Sedangkan Bogor? Hanya ada pasar, mall kecil, becak dan soto enak.  Tapi ternyata Bogor bisa jauuuuhhhh lebih menyenangkan, asal bisa menikmati dan mensyukurinya.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s