Sumpah Air Garam

15 07 2012

Selamat. Selamat berkali-kali untukmu. Perlu perhelatan besar rupanya untuk selamat kali ini karena ini bukan selamat biasa. Ini perkara sumpah yang jadi kenyataan. Selamat untuk mulutmu yang asin. Asin karena sumpah itu kau laknatkan di tepi pantai. Ada sisa-sisa garam di sana. Garam yang hari ini terasa sangat-sangat pahit.

“Kau tak kan pernah bisa bahagia. Aku bersumpah untuk itu. Selamanya kau tak kan menemukan. Kau hanya akan menemukan kesalahan-kesalahan,” ucapmu sambil menangis.

Dan aku sama sekali tak tertarik untuk ikut menangis bersamamu. Aku hanya merasa dingin karena angin laut yang begitu kencang malam itu. Dan sedikit rasa takut. Sedikit saja. Percayalah, saat itu memang hanya sedikit.

Aku takut apa yang kau katakan benar karena tak ada jaminan. Tak pernah ada.

“Dia tidak lebih baik dariku. Aku tau pasti. Tapi aku akan jadi lebih baik untukmu karena aku tau telah menempuh jalan yang salah,” kau melanjutkan dengan mata yang sudah sangat merah.

Tapi malam itu aku seperti batu yang kududuki. Tak bergeming. Tenang saja meski ombak berkali-kali mencoba menghancurkan. Aku batu.

Lalu aku meninggalkanmu.

Itu terakhir kali kita saling melihat. Selebihnya kita mengintip, berpura-pura, lalu mengintip lagi.

Setelahnya semua berjalan begitu indah. Semua sempurna. Dan aku tak lagi mengingat ketakutan sedikitku waktu itu. Aku melupakan lalu lupa.

Namun perlahan, garam-garam yang kau kumpulkan dan kau hadiahkan hari itu mulai terasa asin berlebihan. Bahkan pahit. Yang kau sumpahkan jadi kenyataan. Aku mulai sering menangis. Menangis di tengah malam dengan mulut ditutup bantal agar suaraku teredam. Aku mulai sering murung dan menyalahkan diri sendiri. Aku mulai sering meminta maaf meski aku tau pasti tak bersalah. Aku mulai kehilangan kesenanganku. Atau kata lainnya tak bahagia. Persis seperti yang kau katakan.

Aku mulai takut. Kali ini tak sedikit. Aku takut sekali. Hari ini aku bisa ingat dengan jelas berapa banyak air mata yang kau keluarkan. Hari ini aku bisa ingat dengan jelas bagaimana kau hampir membunuh dirimu sendiri. Hari ini aku bisa ingat dengan sangat-sangat jelas bahwa aku sama sekali tak peduli dengan semua itu. Aku tak mengenali diriku.

Kumohon… batalkan sumpahmu. Aku akan lakukan apapun untuk itu. Aku menunggu. Balas suratku secepatnya.


Actions

Information

2 responses

17 01 2013
sona

Sonya… Malam ini gw tinggalin novel yang sedang gw baca demi baca smua punya lo….

17 01 2013
sonyawinanda

Serius? So how do u think.about my writtings sona?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s