Dia Sempurna, Saya Tidak

4 11 2012
Image

Photo by Rahmad Doni

“Mau seperti mereka jugaaa… Punya karir bagus, cantik, pintar, pasangan baik, keren dan mapan pula. Ah, what a perfect life.”

Suatu hari, kemarin, sekarang atau nanti, mungkin salah satu dari anda pernah terlintas pikiran seperti ini. Saat melihat seseorang dengan kehidupan yang begitu sempurna. Seseorang yang terlihat berkilauan dan tersenyum bahagia dengan semua yang dia punya. Ya, saya pun juga pernah berfikir demikian.

Lalu datang pemikiran bangsat berikutnya.

Why I’m the one who has to fight till death while others just sit beautifully and everything She wants suddenly come?”

Ya begitulah, sepertinya kita satu-satunya makhluk yang harus berdarah-darah mendapatkan apa yang diinginkan. Lalu pikiran-pikiran lanjutan lainnya datang seperti air bah. Menjalar ke mana-mana dan membangun dunianya sendiri. Dunia dengan rasa tidak puas, iri bahkan kesedihan mendalam.

Tapi maukah anda berhenti sejenak dan mengurai pikiran-pikiran tadi?

Merenung sebentar di minggu pagi yang dingin sepertinya ide yang bagus. Ingat lagi, apa saja yang pernah anda lakukan di masa lalu? Apakah itu sesuatu yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain? Apakah anda pernah bermimpi lalu memperjuangkannya sementara yang lain masih tertidur lelap?

Apa anda benar-benar berusaha dengan melakukan? Ataukah baru sampai di episode rencana-rencana luar biasa?

Ya, sebenarnya saya sedang berbicara pada diri saya sendiri. saya dan anda tau semua jawaban pertanyaan tadi.

Sekarang kita sampai pada babak yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Babak yang mungkin menyebalkan. Lalu apakah kita harus menyalahkan atau menyesali seseorang karenanya? Kita dipaksa seseorang tadi untuk mengambil keputusan yang ternyata salah?

Saya rasa di dunia ini tidak ada yang namanya pemaksaan. Semua keputusan yang kita ambil karena kita menginginkannya. Dan ketika kita tak ingin memutuskan, maka orang lain yang melakukannya untuk kita, seperti orang tua, saudara, pasangan atau siapapun lah.

Seorang ustad pernah bilang dalam satu sesi ceramahnya, apa saja yang kita terima sekarang adalah apa yang kita lakukan di masa lalu. Dan kita di masa depan adalah apa yang kita lakukan sekarang. Saya pikir ini berbahaya dan ini benar.

And this world is only for those who want to fight!!!

Sekarang adalah saatnya kita berhenti mengeluh, menyesali, iri dan sedih karena dunia ini hanya untuk orang-orang yang berjuang. Bagi yang menghabiskan energinya untuk sebongkah penyesalan dan rasa iri, perlahan akan tersingkir dan mati.

Sesuatu yang kita peroleh dengan berusaha sekuat tenaga akan terasa sangat manis dan ingatan tentangnya akan abadi. Sebaliknya, sesuatu yang didapatkan dengan mudah, mungkin terasa biasa saja dan mudah dilupakan.

Begitulah hidup, ia untuk dinikmati, apapun yang datang padanya. Susah ataupun senang. Mudah maupun sulit. Semua adalah bagian dari hidup itu sendiri dan semua orang akan merasakannya, siapapun dan apapun levelnya.

Perasaan sedih bagi si kaya sama saja dengan sedih si miskin, sama-sama ada air mata. Senang bagi si cantik tak ada bedanya dengan senang si jelek, sama-sama ada senyum.

Maka bersyukurlah. Karena dengan begitu, kita lebih beruntung dari seseorang yang paling sempurna sekalipun.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s