Lagu Usang

8 01 2013

Aku ingat lagu ini. Lagu dari DVD bajakan ditumpukan koleksimu yang mulai menggunung. Kau putar dalam DVD playermu yang sudah usang. Ternyata semua lagunya macet. Gambarnya kotak-kotak saja dengan suara yang terbata-bata. Padahal kita sangat bersemangat ingin bernyanyi karena kesempatan ini jarang terjadi. Biasanya kita hanya jalan-jalan di siang yang panas ke rental computer untuk mengetik tugas atau ke perpustakaan yang menyebalkan itu. Penjaganya yang bermuka masam, bukunya yang jadul berdebu, ruangannya yang suram. Selain kamu, semuanya sangat menyebalkan.

_MG_4114

Photo by Rahmad Doni

Lagu ini lagu kesukaan kita. Kita ulang kita ulang dan kita ulang lagi. Ketika bagian reff datang, seperti slow motion adegan sinetron episode terakhir, kita saling memandang dengan mesra sambil terus bernyanyi. Aku paling suka adegan ini. Suka sekali. lebih suka daripada coklat karena mengingatnya mendatangkan dopamine yang lebih.

Hari ini, sore ini, sekali lagi kudengarkan lagi setelah sekian lama lupa. Tapi bukan dari DVD bajakanmu. Bukan juga dari DVD player itu bukan juga bersama kamu.

Disampingku ada dia. Pria yang pundaknya kini jadi sandaranku. Pria yang akan berlari sambil tersenyum mencarikan nangka kesukaanku di subuh buta. Pria yang menemaniku mengaluni lagu ini dalam diam karena dia tidak begitu menyukainya. Dia hanya terlalu menyukaiku. Dia bersabar. Tersenyum dari kejauhan dengan kesibukannya sendiri.

Bayangan kita mengambang di luar jendela sebelah kiriku. Lalu aku mulai menangis sendiri. Aku tak mau lama. Lagu ini hampir habis. Tangisku juga harus selesai.

Aku tau pada akhirnya akan kehilangan. Kau tak kan kutemukan lagi. Pergi bersama lagu-lagu yang kita ingat. Lalu larut dalam hujan yang selalu jatuh lebih deras di bulan desember.

Kau ada. Hanya saja dengan cara yang berbeda. Bukan dengan memanjakanku. Bukan dengan membuatkanku segelas teh hangat di sore yang berembun. Bukan dengan memelukku terus-terusan. Kau ada dan selalu ada disaat apa saja untuk apa saja. Ya begitu.

Tak taukah kau aku berusaha? Berusaha agar segalanya kembali kesemula? Seperti aku tak mengingat apa-apa. Tapi ternyata aku tak bisa lagi mencinta seperti yang kau suka. Mencintaimu bak raja.

Seperti lagu favorit kita, aku akan mengulang kisah ini sekali lagi. Ulang dan ulang lagi. Tapi aku selalu saja terpaku di reff yang sama, klimaks yang sama. Karena ternyata syairnya memang itu-itu saja.

Sayang, haruskah kita menyanyikan lagu yang sama lagi? Lagu yang sudah hapal di luar kepala dari syair sampai gayanya? Lalu berhenti lagi di bagian yang sama?

Sayang, apa sebaiknya kita berganti nada? Lalu mendengarkannya dengan orang yang berbeda? Aku pastikan semua tak lagi sama. Apa kau mau mencoba?

Tapi bila kau tak suka, coba kau putar lagi lagu kesukaan kita dan pastikan aku masih ada.


Actions

Information

4 responses

10 01 2013
tia

mendengarkan lagu usang dengan orang yang baru hanya akan menambah keberadaan “orang lama”…..

10 01 2013
sonyawinanda

Yes. Absolutely. Tapi kenapa ya?

10 01 2013
Riesna

nggak juga sih, tergantung kitanya..🙂
kenangan itu pasti ada kan? nggak akan kita lupa, gimana kita menyikapinya aja sih..
but anyway, this post is just sweet.. been there..🙂

10 01 2013
sonyawinanda

Kenangan tidak akan berubah menjadi apapun jika kita tidak melakukan apapun thdpnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s