Hari ke #1

14 01 2013

Akan tiba suatu detik yg pasti, kita saling berteriak memekakkan,

“Semua ini salahmu! Kita seharusnya bisa lebih baik dari ini,”
Lalu kita berdebat tak berkesudahan sepanjang malam. Setelah kuingat-ingat lagi, semuanya tentang mempertahankan kebenaran pendapatku atau cara pandangmu. Kita cari dan mencari alasannya lagi. Alasan memperkuat pendapat masing-masing tanpa benar-benar mendengarkan satu sama lain. Sembari kau berbicara aku menutup telinga. Ketika aku bercuap, kau berpura-pura menguap. Ah, aku membenci masa itu.

Kau, aku tau pasti betapa luar biasanya cintamu sayang. Kau akan mencari-cari telur penyu di malam sepekat apapun, jika aku benar-benar menginginkannya. kau akan terbangun di lelap tidurmu lalu merayap di kusen jendelaku saat aku bermimpi buruk. Kau tidak pernah mengeluh untuk itu. Namun kali ini ego juga menunjukkan keperkasaannya.
Tapi masih ada tapi. Masih ada ‘kita’ dalam setiap pertengkaran itu. Ada kau. Ada aku. Sukurlah kita tak pernah saling memunggungi. Wajah bulat lucumu masih kulihat jelas. Kau juga masih bisa melihat pantulan dirimu di bola mataku.

Sayang, pada akhirnya kita menutup telepon dengan kesal setelah pembicaraan sialan tadi. Namun sedetik kemudian penyesalan  merambat karena sadar di ujung sana kau sedang tersakiti. Mungkin menangis tersedu-sedu.

Lelakiku, ketahuilah aku tetap sayang kamu bagaimanapun lembabnya tanah hari ini. Aku selalu cinta kau apapun warna langit hari ini. Jadi meski telepon kita terputus, pastikan hati kita tetap terhubung walau kau dan aku mendiamkannya.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s