Hari ke #2

15 01 2013

Dear kekasih,

Apa kabar kamu dibalik dinding sana? Apakah dingin menyengat seperti aku di sini?
Ah, kotamu selalu menyenangkan walaupun hujan atau panas terik sekalipun.
Lain denganku. Di sini semua serba ekstrim cenderung menakutkan.
Panasnya keterlaluan dan berkepanjangan. Daun-daun mengering dan tanahnya berbau apik. Aku mau sembunyi di kamar saja kalau begitu. Kulitku bisa menggelap dan kau pasti menertawakanku sampai sakit perut. Wajahku yang oriental akan jadi sangat aneh kalau dipadu warna hitam.
Kekasih, malam ini, kotaku tak henti-hentinya jadi basah. Mereka di luar sana panik ketakutan terjebak banjir. Tapi teman-temanku malah sibuk mengambil gambar dari jendela sedangkan aku meringkuk ketakutan karena petir yang balas membalas. Ya, aku memang suka hujan, badai dan lampu mati tapi aku benci petir. Petir itu mengejarmu dan kau tak pernah tau dari arah mana dia datang.
Hampir semua berita bilang kotaku akan tenggelam. Semua kucar-kacir, panik. Ada yang menggotong televisinya ke rumah tetangga. Ada yang tetap bertahan di atap rumah. Ada yang ke luar kota sekalian melarikan diri, pasrah rumahnya terendam.Hujan mulai tak bersahabat. Tumpah ruah semua.
Ah, diantara semua kechaos-an ini, aku selalu bisa menyelipkan satu dua pikiran nakal. Pikiran yang selalu bisa menghiburku dari keadaan paling nista sekalipun. Hmmm…  tapi aku tak mau bilang. Kau cari tau sendiri ya… I will wait till midnight. You know my house number, don’t you?


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s