Hari ke #9

22 01 2013

Selamat pagi Rimbo,

Aneh ya karena baru kali ini ada sapaan sepagi ini dariku. Aku di kantor. Belum beres-beres, belum apa-apa. Aku hanya ingin menulis. Meski belum tau juga mau menulis apa untuk kamu yang pasti masih pulas tidur. Pasti capek ya sayang? Kerja seharian dari pagi hingga tengah malam. Semoga kamu tetap bisa menelusupi kesenangannya ya. Karena semua akan terasa berat ketika kamu tidak menikmatinya.

Disela kelelahan itu, aku akan jadi orang pertama yang membangunkan kamu Rimbo. Menciumi seluruh mukamu tanpa terlewat sampai kamu tersadar. Lalu mataku adalah hal pertama yang kau lihat dan kagumi di pagi bersuhu rendah itu. Aku tau kamu pasti sulit menahan keinginan untuk memelukku kan? Karena jendela kayu kita berembun saking dinginnya. Tenang saja, kulit tropisku akan selalu bisa jadi selimut hangatmu.

Ah, kamu lagi-lagi berhasil menarikku dalam selimut. Mengepungku dengan kedua lengan tangguhmu. Menenggelamkanku hingga aku tak berniat lagi muncul di permukaan. Padahal aku sudah wangi sabun mandi. Tapi
tak apa, ritual pagi kita jauh  lebih menggoda daripada sekedar dandan lalu berangkat kerja.

Jadi senyum-senyum sendiri pagi-pagi begini.

Orang-orang mulai berdatangan sayang. Nanti kita sambung lagi, aku takut ketauan. Eh, pembicaraan tadi hanya rahasia kita berdua ya…

****
Sudah siang. Tapi sedari tadi aku belum lihat matahari. Gelap. Duh, jangan sampai Jakarta hujan lagi. Kota ini sudah terlanjur rapuh. Jika ditambah lagi dengan lembab dan basah berkepanjangan, bisa luruh terbawa arus. Lalu hanya ada puing-puing sebagai bukti kota ini pernah ada.

Rimbo, kau tau kan aku bukan penakut yang akan menangis tersedu-sedu untuk meminta dukungan? Ya aku masih orang yang sama. Tapi kota ini membuatku agak gentar. Tiba-tiba disebuah keramaian bisa terjadi pembunuhan. Pemerkosaan, perampokan, penodongan bukan hal luar biasa di sini. Trust no one! I think that phrase is suitable with this city. Sekarang, di mana-mana kotaku terlihat kecoklatan akibat banjir bercampur tanah dan lumpur. It freaks me out baby. Apalagi belakangan, hampir semua media mengusut sisi buruknya nya saja.

Jadi bicara horror gini siang-siang.

Rimbo, ini hari yang mengantuk. Namun aku membaca cukup banyak. Belajar grammar lagi. Biar ga lupa pelajaran di kampus dulu. Tapi kenapa ya kok rasanya sekarang aku nangkepnya jadi lama? Apa karena jarang
dipake belajar otaknya? Duh, gawaaaatttt…. aku harus mulai serius belajar tiap hari nih. Kau mau jadi alarmku lagi kan sayang? Ini siaga 1 lho.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s