Hari Ke #10

28 01 2013

Lagi-lagi kamu harus baca kata maaf. Suratku terlambat. Jujur, untuk membuat surat yang terlambat itu agak sulit. Aku harus berkosentrasi mengingat. Harus bisa dibedakan mana kejadian mana khayalan karena di otakku, ruangan  mereka sama saja.

Aku suka berimajinasi, membuat skenario hidup sendiri. Menciptakan tokoh, karakter dan alur cerita sendiri. Aneh ya? Namun bagiku itu menyenangkan. Kepalaku ribut sekali rasanya. Mereka bersahut-sahutan. Kadang saling berteriak, kadang bercumbu-cumbuan. Kamu tau? Itu salah satu cara jitu menyelamatkan diri dari kebisingan mengganggu dunia luar.

Duduk manis di kursi hitam berbusa tebal milik Bank nomor 1 di Indonesia ini cukup nyaman. Nyaman untuk memaggil lagi memori dua hari yang lalu (untung hanya aku sendirian di kubikal). Ah, aku memang payah dalam mengingat. Entah kenapa susah sekali sembuhnya penyakit ini. Bagiku, pelupa adalah semacam penyakit. Kau bisa bayangkan sayang, bagaimana aku bisa bertahan hidup dan tidak jadi anak hilang saat pertama kali datang ke Ibukota? Semua karena adrenalin. Sebatang kara dan terpaksa membuat adrenalinku terpacu, menyesuaikan diri lalu menjadi pintar. Hafal jalan, hafal angkutan umum dan rute. Padahal dulu, jalan ke rumahku saja aku lupa. Payah!

Oke, kembali pada surat hari ke 10. Mari kita runut satu persatu kejadiannya. Surat ke sepuluh itu harusnya sampai di hari rabu. Aku masuk kantor seperti biasa. Dengan rute biasa. Naik angkot, kereta lalu disambung kopaja. Hmm… kemudian sampai dengan selamat di kantor. Lalu…. arrrgggghhhh aku ga ingat! Sepertinya kejadianya sama saja, ga ada yang istimewa. Hanya ada gambar-gambar orang yang sama setiap harinya. Tapi yang ini agak buram.

Bagaimana ini? Ingatan hari rabuku tak ada. Tapi untunglah aku masi punya satu ingatan abadi. Ingatan tentang lelaki hebat dan luar biasa yang aku punya.

Sayang, kali ini aku butuh bantuanmu lagi (seperti biasanya). Carikan obat untuk sakit lupa ini. Aku ingin bisa mengingat nama setiap orang yang kukenal beserta informasi deatailnya. Alamatnya, nomor teleponnya, keluarganya, mkanan kesukaannya atau mungkin angka keberuntungannya. I have strong photographic memory but details is my weaknesses. Maybe you know how to handle it honey. Aku merasa jadi oraang yang sombong sekali ketika suatu hari tidak bisa menyebutkan nama seorang teman lama yang kutemui di gerbong kereta. Padahal dia hafal sekali informasi tentang diriku.

“Kamu Sonya kelas 3 IPA 3 yang suka cabut itu ya? Tapi hebat lho kamu waktu lomba debat Bahasa Inggris di Lapangan SMA kita dulu itu,”

See? She knows me well. Sedangkan aku cuma bisa cengar-cengir sambil berkali-kali berterima kasih.

”Wah, makasih banyak. Udah lama banget ya kita ga ketemu. Eh tapi aku ga punya nomor kamu, tolong dicatet ya di handphone ku langsung,”

Cerdas sekali kan? Setelah itu aku selalu mengulangi namanya di setiap percakapan. Tragis.  Bagaimana sayang? Sudah ketemu obatnya? Kalau sudah, kirim surat padaku ya.

 

 


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s