Hari Ke #14

29 01 2013

Dear Doni,
Ini hari terakhir menghilang kita. Kau bangun kesiangan, aku juga.
Lelah perjalanan kita ke tempat antah berantah kemarin masih terasa.
Butuh tidur lebih lama ternyata untuk kembali menstabilkan tubuh. Ah,
aku kerap berkunang-kunang di pagi hari kalau malamnya tidur larut.
Satu lagi penyakitku yang tak kunjung sembuh. Namun ini agak berbeda,
lebih ilmiah daripada sakit lupa, anemia namanya. Kadang membuatmu
kesal kalau kambuh. Ya, aku paham hal ini. Anemia sialan ini memangkas
kebersamaan kita yang memang sudah begitu singkat. Lalu kau mengeluh
sakit pinggang. Sudah tua kita ternyata.

Dear Doni,
Kau ingat makan malam kita yang mesra itu? Makan malam pertama kita di
kotamu. Hari itu hujan tak henti-hentinya jatuh. Aku kedinginan. Kau
juga karena tubuhmu bergetar hebat. Tapi keinginan kita terlalu kuat.
Kau tak perlu takut beku, lenganku akan menghangatkanmu. Waktu itu kita
bicara banyak hal sekaligus mendiamkannya. Memang, tak semua hal harus
dibicarakan, seperti tak semua hal harus disimpan. Karena
kata ’harus’ itu kejam sekali sayang. Namun restoran tak  bisa
menunggui kita yang sedang jatuh cinta sepanjang obrolan malam itu.
Mereka harus tutup kita pun harus pergi. Menyebalkan, lagi-lagi kata
’harus’ muncul.

Dear Doni,
Jarum jam entah kenapa berdetak dua kali lebih cepat sekarang. Sudah
jam tiga sore dan beberapa kerjap lagi aku harus pergi. Tiba-tiba
banyak sekali daftar yang harus dikerjakan jelang 1 jam 45 menit
keberangkatanku. Ada saja remeh temeh manis yang teringat.
“Kamu tinggal lebih lama ya?” ujarmu dengan mata sedih.
Kau tau, sepersekian mili second setelah kau berucap, aku ingin
langsung mengiyakannya.

Dear Doni,
Pada akhirnya aku harus pergi. Kumohon jangan bermata sayu padaku. itu
menyakitkan sayang. Aku tau kotaku sedang hujan lebat. Banjir dan
longsor bisa terjadi di mana saja. Aku tau kau sangat khawatir dan aku
juga sangat menginginkan kita selalu bersama. Kita akan sama-sama.
Percayalah. Namun sebelum itu aku harus kembali. Kembali menata
hidupku sendiri. Hidup yang sedang kupersiapkan untuk kita. Kini,
masih banyak bagiannya yang belum kutemukan. Maukah kau duduk sejenak
untuk bersabar? Setelahnya akan kuserahkan padamu. Mungkin akan sulit
dan rumit namun aku yakin kita mampu.

Dear Doni,
Maaf membuatmu tergesa-gesa mengantarku. Padahal kau sangat tidak
menyukainya. Kau bisa saja memperlambat laju kendaraan lalu
berpura-pura mesinnya rusak. Atau memilih tidur saja yang nyenyak dan
membiarkanku ketinggalan kereta. Namun itu tak pernah terjadi. Kau selalu
tepat janji dan tepat waktu. Terima kasih sayang telah menjadi sangat
baik dan penyabar untuk kita. Berdoalah semua menjadi indah, segera.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s