Hari Ke #20

4 02 2013

“Bahagia adalah ketika kita tidak berpusat pada diri sendiri namun terlibat dalam berbagai situasi untuk membahagiakan orang lain”

Sedikit kesimpulan dari kuliah 2 jam filsafat etika Franz Magnis Suseno teater Salihara. Kamu mau dengar ceritanya kan sayang? Hahahha… coba bikin nutrisari jeruk dulu. Aku takut kamu bosan lalu tertidur. Bisa jadi kamu tertarik, tapi keburu pusing mendengarkan muntahan kalimat-kalimat yang biasanya tanpa rem dari mulutku.

Filsafat memang bukan hal yang asing bagiku. Hanya saja, aku tidak pernah mendalaminya dengan serius. Cuma membaca. Ya, begitu saja. Tidak mendiskusikan atau memperdebatkannya, tidak terlalu antusias. Namun di sini, aku merasakan  energy, semangat dan kelaparan ilmu.

Sayang, tak perlu pasang mood serius membaca suratku. Kita tak akan membahas filsafat. Nanti akan ada sesi filsafat freak tersendiri. Sampai-sampai kau mual mendengarkanku. Seperti saat aku berkoar tentang Steve Jobs atau Ayu Utami. Sekarang saat kita saja sayang, tak ada sesiapa.

Hmm..aku mulai dari mana ya? Duh, kau tau kan aku pelupa, lagipula obatku juga belum datang. Kalau begitu kita cerita acak saja ya sayang. Mungkin cerita awal jadi penutup atau malah sebaliknya.

Selagi menunggu namaku dipanggil saat pendaftaran, para penulis yang sebelumnya hanya kukenal lewat karya atau nama, sekarang ada wujud aslinya. Kamu tau? Mereka persis seperti apa yg kamu ajarkan padaku! Hampir-hampir sama. Gayanya, dandanannya, cara mereka bicara, melangkah, bersalaman, atau sekedar menyesap cappuccino panas. Semua sama! Ah, aku curiga kau punya ilmu menerawang orang.

Komunitas kreatif itu benar-benar seperti tempat yang sudah kukhayalkan jauh-jauh hari. Bangunan abu-abu yang tidak begitu tinggi. Lalu pohon jambu dan mangga yang tumbuh selang-seling. Berjalan sedikit lagi, akan ada semacam lorong yang terasa magis ketika dilalui. Jika di suatu siang yang terik kau merasa otakmu ikut mendidih, ada barisan kursi kayu coklat berjenjang dipayungi pepohonan rindang. Duduk ditengahnya serasa dalam hutan inspirasi, tinggal petik dan makan.

Di samping kiri bangunan, sebuah café menarik perhatianku. Tempat berkumpul, berdua atau sendiri. Semua pas saja. Pintar sekali pemiliknya mencari lokasi. Sense of business luck ya tinggi nih. Cafenya penuh sayang, aku harus menunggu atau memelototi orang-orang yang makanannya sudah habis tapi masih duduk santai tanpa gelisah. Ya, itu jurus andalanku sejak kuliah supaya dapat kursi di kantin mami.

Celingak-celinguk tak menentu membuatku sibuk menganalisa orang. Kebiasaan nih sayang. Di sudut sebelah kiri, seorang perempuan paruh baya sedang sibuk ketak-ketik di laptopnya ditemani sepiring ubi bakar.  Asyik sekali kelihatannya. Matanya seperti bisa menembus layar komputer jinjing warna putih itu. Tiga meja di sebelah kanan si paruh baya, sepasang kekasih entah suami istri sibuk berpandang-pandangan dalam diam. Hanya mereka dan tuhan yang tahu apa makna tatapan lembut dan langsung itu.  Di meja tengah, beberapan anak muda, mahasiswa mungkin, sedang sibuk berdiskusi dan berdebat. Saking serunya, mereka lupa volume suara sudah di titik maksimal. Tapi jiwa muda memang begitu kan? Yang melarang tumbang! Setua apapun dia.

Ah, aku suka sekali suasana begini. Rasanya mau tinggal berlama-lama. Betah. Mmm…Nanti buatkan untukku juga ya sayang? Yang lebih hebat dari itu tentu saja.

Senangnya menjadi ratu semut seperti ini. Ada sarang yang indah dan nyaman juga persediaan makanan untuk beberapa zaman ke depan.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s