Hari Ke #23

12 02 2013

Fiuhhhh…. Akhirnya sampai juga di rumah setelah 5 jam berpetualang bersama bajai, kereta dan teman yang mengumpat.
Sayang, kota ini benar-benar mebuatku gila! memaksaku (mungkin memaksa lebih dari separuh penghuninya) untuk mentolerir segala kegilaan itu. Setiap hari aku harus menjadi orang yang memaklumi bencana manusia, korupsi, banjir, bos yang stress, teman palsu, kemacetan durjana, atau peminta-minta yang menyayat lengannya sendiri di dalam kopaja.
Diantara semua peristiwa absurd itu, aku harus tetap tenang sambil mengecek time line twiter dan status facebook sementara ada seorang pria berumur 30 tahun-an berseragam SMA memaksa meminta uang untuk biaya sekolahnya! Baru tau kalau anak SMA boleh berkumis seperti doyok!

Seperti hari ini, kotaku (ya, aku tidak akan menyebutkan secara gamblang nama kotanya karena yakin semua sudah tau. Kota mana lagi yang bisa membuat semua orang mengumpat tapi tetap cari makan di sana?) diguyur hujan. Mulai pukul 3 sore hingga pukul 7 malam. Yak, hujan 4 jam yang singkat itu sukses membuat banjir dan macet hampir di seluruh bagian kota. Utara, selatan, barat, timur tak ada yang luput. Macet, tepatnya stuck alias tidak jalan sama sekali. Semua orang panik, semua orang ingin pulang. Semua orang mendahulukan dirinya sendiri. Alhasil kita, termasuk aku yang di dalam bajai, hanya bisa menatap nanar lampu-lampu kendaraan bermotor yang berpendar tanpa bergerak seinchi pun.

“Neng, lewat tanah abang ga bisa, banjirnya udah tinggi. Saya takut mesinnya mati. Terserah neng sih mau gimana, tapi sebaiknya kita mutar balik aja cari jalan lain,” kata si abang bajai dengan nada cemas.

“Ya udah, yang mana baiknya aja bang, yang penting saya pulang,” balasku sama takutnya.

Aku bersama seorang teman yang selalu mengeluh disepanjang perjalanan. Ah, semuanya jadi makin horror karena celotehannya yang negatif. Aku memilih tidur saja daripada mendengarkan, toh macet juga ga bisa jalan ke mana-mana, hujan lebat, tak ada payung pula. Anggap saja ini alphard. Ya alphard. Mobil ukuran besar ber-AC dan luar biasa nyaman. Yang namanya nyaman itu kan sumbernya dipikiran. Bajai sempit dan gelap ini juga bisa dibikin asik kok.

Di tengah usaha keras supir bajai menembus kemacetan,
“buarrrrrrrrrrrrrr.!” Bajai kami ditabrak sepeda motor.

Si abang bajai yang memang sudah menahan emosi sejak awal nge-gas, langsung keluar dari bajainya siap menerkam siapa saja di luar sana.

“Monyet lo! Kurang ajar! Punya otak ga sih ambil jalur orang!” repetnya.

Si pengendara sepeda motor diam saja karena tau dia bersalah. Si supir bajai kecewa tak mendapat perlawanan. Ditambah lagi bunyi klakson pengendara lain meraung-raung karena kami semakin membuat jalanan kacau balau.
Dan tiga jam bersama bajai yang berisik itu hanya mengantarku sampai stasiun gondangdia yang normalnya ditempuh 15 menit saja.

Kereta gangguan. Lengkap sudah. Pukul 9 malam akhirnya aku sampai di rumah setelah berdesakan di dalam kereta selama 2 jam.

Sayang, hari ini melelahkan sekali. Coba yang bukain pintu kamu. Aku akan langsung menjatuhkan diri dalam pelukanmu yang bau sabun mandi itu. Lalu tertidur seperti bayi. Esok paginya aku akan bangun dan senyum-senyum sendiri melihat muka lucumu yang masih mengantuk. Tentu saja padatnya stasiun dan bau karbondioksida semalam tak termasuk lagi dalam ingatanku.


Actions

Information

One response

20 02 2013
Riesna

ini paragraf terakhirnya suka banget deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s