Mimpiku bukan takdirku

20 03 2013

Hai wanitaku,
Aku yakin kau merindukan sapaan itu.
Karena sudah lama memang.
Aku berdosa karena tidak menghampirimu lagi belakangan ini.
Aku harap kau punya cukup maaf untuk dosaku.
Kali ini aku tidak hanya menyapamu saja, aku akan menyentuhmu sampai ke ubun ubun dan memaksamu mendengar ceritaku.
Wanitaku, kini aku mulai merasa terlalu cepat tua. Ingin rasanya memuda lagi. Ada banyak hal menanti untuk ku jamah tetapi apakah aku punya waktu untuk semua itu?
Ada banyak pertanyaan yang belum kuputuskan kepada siapa akan kutanyakan.  Aku tidak mau mendapat jawaban salah  meskipun semua sama saja.
Aku mulai memangil ingatan ingatan masa kecilku dan memintanya membantu dalam fikiran ku. Aku ingin membenarkan caranya berjalan. Aku ingin menyuruhnya taat peraturan dan membaca buku panduan.
Wanitaku, dulu saat menemukanmu aku sempat berfikir tidak butuh orang lain lagi karena aku punya kamu. Tapi maaf kau hanya manusia yang sedang jatuh cinta, yang akan mengambilkan bulan jika ku minta.
Maaf wanitaku. Bukan menduakan dirimu, aku hanya bermaksud mengurangi bebanmu, ini tidak baik untuk kita. Kita ada di ruang yang penuh dengan awan lembut, jalanan berumput dan dahan berbunga. Tidak ada siapa siapa disana selain aku dan kamu. Tapi ini dunia nyata. Aku punya banyak pertanyaan yang belum kuputuskan pada siapa akan kutanyakan.
Wanitaku, aku sangat sadar dan benar benar ingin. Aku paham aku hanya manusia hayal yang hidup di dunia penuh mimpi. Tapi esok aku akan terbangun dan menjadi manusia seutuhnya. Aku perlu tahu bagaimana caranya melipat selimut, aku perlu tahu caranya membuat sarapan untukmu. Dan itu bukan dari mu karena kau sudah memberitahuku bagaimana caranya.
Wanitaku, kadang aku ingin bermimpi yang lain, menjadi orang terakhir mungkin di dunia ini dan berjualan makanan. Rasanya pasti bahagia sekali bisa melakukannya. Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi sebelumnya atau setelahnya. Lalu terbangun lagi di sampingmu, melipat selimut dan membuatkan mu sarapan
Wanitaku, ini tentang mimpi  dan takdir. Aku rasa kau adalah takdirku bukan mimpiku. Karena mimpi hanya datang saat tidurku tidak lelap.

By Rahmad Doni


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s