Saya Tidak Punya Teman

19 04 2013

 

Semalam seorang teman mengirimkan sebuah pesan pendek. Mata saya sudah sangat mengantuk karena pulang larut malam. Hujan lebat menyiram kota yang dalam hitungan jam langsung merendam. Saya tidak membalas. Ia tidak menyerah. Ping!!! Ping!!!, ia mulai mengusik blackberry saya. Akhirnya saya bangun juga. Saya pikir ini pasti sesuatu yang sungguh penting karena desakannya yang memaksa.

Saya membaca dengan mata setengah tertutup, “Aku punya masalah dalam membina hubungan dengan orang lain. Sejak jaman sekolah aku tidak memiliki banyak teman. Kalaupun ada, aku bukan bagian yang penting dalam hidup mereka. Menurutmu apa masalahku?”

Saya benar-benar bangun membaca pertanyaannya. Jam menunjukkan pukul 23.30 Wib. Dalam jadwal, saya seharusnya sudah memasuki alam yang tidak pernah saya ingat dengan baik, alam tidur. Tidur itu seperti mati. Dan seseorang yang kembali dari kematian biasanya memiliki ingatan yang buruk.

Sejenak saya berfikir harus menjawab apa. Sesungguhnya saya takut. Saya bukanlah orang yang ahli dalam sebuah hubungan. Saya memiliki teman yang kini tidak lagi mau menyapa saya. Saya juga memiliki teman yang kemudian saya pacari lalu memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan saya. Saya juga punya mantan pacar yang memblokir saya dari semua sosial media yang dia punya. Saya bukan contoh yang baik dalam hal ini namun saya harus menjawab.

Saya berfikir keras. Dari semua hubungan yang gagal saya bina, ada beberapa yang terselamatkan. Saya masih memiliki sahabat yang selalu mengangkat telepon saya jam berapapun itu. Dia akan berkata dengan suara parau dan mengantuk.

“Halo? Lo stres ya nelpon gue jam 2 malem gini? Gue kemaren udah begadang ni.”

Seperti tidak mendengarkan, saya akan lanjut menyerocos sepanjang pembicaraan. Tak selang beberapa detik dia akan berkata setengah berteriak.

“Apa? Lo putus? Serius? Gimana ceritanya?”

Hahahha. Begitulah, dia sudah lupa sejak kemarin belum istirahat. Dia akan mendengarkan cerita saya dengan khidmat sampai subuh.

Ketika mood saya sedang tidak baik, saya suka mengingat-ngingat kami sering tertawa-tawa sampai terbatuk-batuk tanpa alasan yang jelas. Saya senyum-senyum sendiri.

Lalu ada empat orang lagi sahabat saya. Kami tumbuh bersama namun tidak selalu bersama-sama. Sejak tubuh kami masih kanak hingga sekarang merencanakan pernikahan. Masing-masing punya prinsip dan caranya sendiri. Tetapi dengan cara yang tidak bisa saya jelaskan, kami memiliki ikatan. Setelah sekian tahun terpisah, kami dipertemukan kembali. What a life!

Saya juga punya sahabat lagi. Aha! Sahabat saya cukup banyak ternyata. Dia adalah teman bercerita topik apa saja, berdebat, ber-ide dan bereksperimen. Dia sahabat yang tidak butuh pengakuan namun selalu ada.

Tiba-tiba blackberry saya teriak lagi.

“I’m waiting for your answer!”

Saya semakin bingung. Apa ya masalah dia? Mengapa dia tidak memiliki sahabat? Saya rasa semua orang punya sahabat tapi kenapa dia tidak? Semua orang bersosialisasi lalu berteman lalu menjadi sahabat.

Dengan diplomatis saya mencoba membalas pertanyaannya dengan pertanyaan lain, “Saya punya banyak sahabat, kenapa kamu tidak?”

“Oya? Menurutmu apa yang dimaksud dengan sahabat? Apakah seseorang yang membicarakan temannya pada orang lain itu masuk kategori sahabat?”

Saya terdiam. Saya pikir sahabat hanya akan membicarakan sahabatnya dengan sahabat yang lain. Tidak akan keluar dari lingkaran. Jadi, tak apalah. Namun jika dengan orang lain, saya tidak bisa terima.

Saya masih menggenggam blackberry yang terus berkedip. Saya belum menjawab. Apa yang salah dengan dirinya, hanya dia sendiri yang bisa menjawab. Bukan saya atau siapapun. Tapi saya harus menjawab.

Saya hanya bisa memikirkan kemungkinan-kemungkinan. Mungkin dia tidak memiliki sahabat karena keputusannya sendiri. mungkin dia memutuskan tak ada seorangpun yang cukup penting baginya. Dengan demikian tidak seorangpun pantas disebut sahabat. Bukankah cara kita memandang diri sendiri memantulkan hal yang sama pada cara pandang orang lain terhadap kita?

Saya rasa itu masalahnya.

Namun saat itu saya tidak berkata demikian. Saya takut jawaban saya akan menutup hatinya yang sudah terbuka untuk seorang sahabat. Jika sekarang dia sedang membaca tulisan ini, saya harap dia mengerti. Kita tidak meminta apalagi memaksa seseorang untuk menjadi teman. Ia datang dari sebuah semangat yang sama. Tawa dan sedih yang senada. Lalu selamanya kita akan mengalir pada syair yang seirama meski dengan kalimat-kalimat berbeda. Dan sahabat tidak pernah menikam di balik punggungmu. Dia langsung menampar tepat di wajahmu.


Actions

Information

16 responses

19 04 2013
dedisupendra

Betul, kak. Sahabat itu bukan seremoni yang butuh diresmikan. Bahkan, saya (menganggap diri saya) punya sahabat yang saya tidak tahu apakah dia juga menganggap saya sahabatnya. Tapi, saya tetap saja menganggapnya sahabat. Perasaan damai merasa punya sahabat itulah yang tidak bisa dinilai dengan kelemahan apapun dari sahabat kita.🙂

20 04 2013
rahmaddoni

Yes I know

22 04 2013
sonyawinanda

betul supen. bahkan kita sama sekali tidak sadar tiba2 kita sudah menjadi sahabat yg baik sekali. tidak seperti hubungan lain, pacaran misalnya. kalau tidak ada seremonialnya maka hubungan itu dianggap tidak ada! menurut saya, sahabat adalah hubungan yang tak menuntut dan tulus. semoga hubungan cinta dengan lawan jenis juga bisa begitu.

27 04 2013
Evi Sri Rezeki (@EviSriRezeki)

Tulisan yang menarik dan menggelitik. Saya setuju. Sahabat adalah bagaimana kita mendefinisikannya. Dan sahabat bisa datang dan pergi, berganti🙂

27 04 2013
sonyawinanda

trims mba evi. setuju!sahabat kadang berawal dari anggapan dan imajinasi, tak perlu disepakati.

4 08 2013
Ken Aditya

apakah memiliki teman atau tidak termasuk adalah pilihan ?

14 08 2013
sonyawinanda

menurut ssaya, kamu tidak berteman karena memilih, tapi dipilih.

28 08 2013
Sanubari

memang sulit hidpu tanpa sahabat atau teman, apalagi diusia muda seperti ini. Hari hari terasa sangat membosankan tanpa mereka. Padahal sewaktu kecil usia sd sampa smp, saya punya beberapa teman yang menyenangkan. Bahkan saya termasuk orang no.2 yang cukup populer dalam kelompok pertemanan tersebut. Tapi entah kenapa sejak usia SMA dimana kami sudah mulai tumbuh lebih dewasa, dalam kurun waktu yang cukup singkat saya kehilangan mereka. Saya benar benar diasingkan. Sejak saat itu, saya merasa trauma untuk mebuka hati, membangun persahaatn baru dengan orang lain. Mungkin ada . Atau a orang yang akrab, tapi iu bukan hal yang berarti bagi mereka, dan lebih banyak kami berbicara didunia maya.

1 09 2013
azuiway

tulisannya keren…🙂

2 09 2013
sonyawinanda

terimakasih sudah datang azuiway.

17 09 2013
Han han

Maaf nih mau numpang curhat
saya kelas 1 sma , saya 1 sekolah dgn shbt saya dr smp . saya dgn shbt saya 1 kelas . dn kami tdk mendapat temen dkt yg bru . smua nya udh pada pnya tmn sndri” , wkt d dktn susah .. rasa nya gak betah d skolah . jd gada motivasi buat smangat bljr , buat msk skolah . k skolah jg rasa nya kayak beban bngt .
aku dn tmn ku ini sprti nya d anggap cuma mau brdua trz . pdhl tdk , aku udh brusaha dktn org lain . hasil nya gabisa , aku ngrsa sekolah itu beban bngt , dan jujur aku ini org nya susah bergaul , tp aku udh brusaha merubah sikap pendiam dn penalh aku ini , hasil nya sama aja . sedih rasa nya , aku liat yg lain pada ama tmn” nya , rame” . tp aku.cuma.brdua . mau nngis rasa nya :((

17 09 2013
sonyawinanda

hai han han, masih berdua dgn sahabatmu? memang ada teman yang datang dan sekedar singgah, ada juga yang tinggal selamanya. semua proses pendewasaan untuk kita. buka diri untuk hal baru, kita tidak akan pernah tahu hal luar biasa apa yg akan kita temui. jadilah pribadi yg menyenangkan dan bermanfaat, teman akan datang, tak perlu undangan.

25 09 2013
Sofi

Di usia hmpir 24 th, aku belum pernah mempunyai seorang sahabat.. Sahabat itu seperti apa c wujudnya… :”-|

5 01 2014
bayu

kalau aku malah gak bisa mempertahankan
awalnya sering ngobrol-ngobrol
lama-lama malah biasa-biasa aja
aku jadi bingung

2 11 2014
RikiArisugawa

Apakah seseorang memiliki sahabat atau tidak adalah sebuah pilihan? Saya rasa tidak…
Bagaimana jika seseorang mencoba membuka diri untuk menjalin suatu hubungan pertemanan namun usaha itu diabaikan? Tidak dihargai?🙂

23 02 2015
heni

Gw dulu pernah punya 1 sahabat waktu SD. Tapi setelah itu, selalu sebatas temen deket aja. Sampe sekarang gw kuliah pun sahabat terbaik gw cuma dia yg dari SD dulu itu. Tapi kita udah lost contact sejak SMP.
Pas kuliah ini saat2 dimana gw gak punya temen sama sekali. Dari dulu gw selalu dikelilingi temen2, tapi selama 4 tahun ini gw kemana2 sendiri.
Gw baru nyadar gw punya social phobia, dan pas jaman kuliah ini lagi parah2nya. Gw bener2 ngumpet deh dari dunia luar. Pengen berubah tapi susah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s