Menjilati Jari, Bukan Berterima Kasih

25 05 2013

Suatu hari di negeri antah berantah, seorang gadis kecil yang belum genap 8 tahun menolong kucing liar yang terluka kakinya. Anak itu membawanya ke rumah diam-diam karena ia tahu ibunya alergi rambut kucing. Ia mulai mengendap-ngendap mencari obat luka. Ia tidak terlalu yakin apakah obat luka manusia bisa dipakai juga untuk kucing. Tapi tak ada yang dapat menghentikannya sekarang.

Ia berhasil menemukan segulung perban dan sebotol kecil betadine. Ia pun beraksi. Si kucing terlihat tidak menyukainya, ia kesakitan. Tetapi perempuan kecil itu yakin apa yang ia lakukan adalah kebaikan, ia membalut perban bak dokter hewan profesional.

Setelah selesai, kucing yang ia beri nama si mata besar itu menjilat-jilati jarinya. Anak kecil itu senang bukan kepalang. Itu pertama kali jari-jari kecilnya dijilati kucing. Seperti ada sentuhan ajaib menjalar dan langsung sampai ke hatinya, mengembangkannya.

Hingga hari ini ia percaya, jilatan itu adalah bentuk rasa terima kasih si kucing untuknya. Tak seperti manusia, kucing tidak mampu mengucapkan terima kasih. Ia baru sadar ternyata berbuat baik itu teramat membahagiakan.

Kini ia telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Ia masih sering melakukan kebaikan. Namun ia berangsur lupa perasaan jari yang dijilat. Semakin dewasa, ia semakin jarang merasakannya. Ia rindu. Maka gadis itu berusaha berbuat baik lebih sering dari biasanya. Berharap mengalami hal yang sama lagi namun usahanya tak kunjung membuahkan hasil.

Berbuat baik tak selalu mendatangkan terima kasih apalagi berbalas dengan kebaikan yang sama.

Gadis itu mulai paham bahwa kaumnya, manusia, tak terlalu suka mengucapkan kata terima kasih. Terima kasih yang yang sebenar-benarnya atas sebuah pertolongan.

Ia bahkan berpikir mungkin kucing juga tidak suka hingga ia memilih menjilati jari saja. Menjilat sepertinya lebih mudah.

Ah, kini ia tak terlalu berharap lagi.

Tetapi, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, gadis itu selalu berdoa ia bisa merasakan kebahagiaan yang sama seperti saat umurnya 8 tahun. Meski tak mendengar kata terima kasih atau jari yang dijilati.


Actions

Information

8 responses

25 05 2013
ulfiarahmi

beberapa kebaikan membuat saya belakangan ini sering mendengarkan TERIMA KASIH, tetapi tidak serasa jari yang dijilati.

25 05 2013
sonyawinanda

Hahhaaa…jarimu sering dijilat? Hmm…mungkin masing2 jilatan mengantarkan perasaan berbeda. Ya, sepertinya demikian.

25 05 2013
bellacitra

Manusia suka lupa 4 kata ka son, tolong, maaf, cinta dan terimakasih🙂 Kadang kebaikan yang kita lakukan sekarang gak bisa dipetik saat itu juga #mendadak bijak,

25 05 2013
sonyawinanda

Hihihi…iya dedek belaaa

25 05 2013
aftaedd

Terima kasih atas tulisan yang cukup menyentil hati saya, kalo di lihat skrang kebanyakan orang emang mudah sekali mengingat kesalah kita, tapi ketika kita pernah berbuat kebaikan, seseorang mudah sekali lupa dgn hal itu. bahkan untuk ucapan trima kasih saja sulit🙂

25 05 2013
sonyawinanda

Sama-sama aftaedd. Satu kesalahan menghapus seribu kebaikan yg pernah kita lakukan. Sepertinya tdk perlu mengharap org lain mngucapkannya,kita saja yg memulai.

26 05 2013
Ricky

Tulisan yang bagus, intinya bila menolong seseorang harus ikhlas jgn mengarapkan sesuatu.. di tunggu tulisan selanjutnya 🙂

26 05 2013
sonyawinanda

Terima kasih sudah membaca uda. Yes. Dan menjadi ikhlas juga ga gampang. Melakukan sesuatu pasti mengharap sesuatu. Bahkan pahala sekalipun. Ngarep juga toh namanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s