DeJavu

26 08 2013

Senin, 26 Agustus 2013

Selamat pagi sayang,

Lama tak menulis untukmu. Bukan, aku bukan melupakanmu. Atau amnesia terhadap janji-janjiku. Bukan.  hanya saja belakangan pikiranku disibukkan oleh hal-hal yang seharusnya tak perlu dipikirkan. Setidaknya tidak sedalam ini.

Seharusnya ini tak perlu kuceritakan padamu atau siapapun karena ini menyangkut masa lalu yang belum ada kamu. Ini bersifat agak rahasia dan memalukan. I will look like a weak jerk after telling you this!

Seperti sikap yang baik untuk masa lalu, bukan disesali tapi dipelajari. Mengucapkan tak semudah melakukannya, kan?

“Jika ada sesuatu yang ingin kamu ubah di masa lalu, maka sekarang adalah saat yang tepat .You don’t need a time machine!” begitu katamu ketika aku terus-terusan mengeluh.

This is a dejavu.

Five years ago, when i was too young and stupid to realize that I should not be in that path. I should get out before it’s too late.

And you know honey? I was late. I hurted him, you and them. But the one who hurted the most is me.

Saat itu aku tak mampu memutuskan apa-apa untuk hidupku. Semua langkah yang kuambil adalah untuk menyenangkan orang lain. Aku tak suka menjadi tidak disukai. Aku pemuas semua orang. Dermawan sekali ya? Bodoh lebih tepatnya.

Sayangnya, aku tetaplah manusia biasa dengan banyak keinginan-keinginan egois. Aku merasa semua ini diluar kemampuanku.

Aku harus mengambil keputusan terpenting dalam hidupku. Aku ketakutan. Aku takut suatu hari nanti akan menyesalinya. Suatu hari nanti akan menjadi manusia sombong yang tak bersyukur. Setiap malam datang tubuhku gemetaran. Badanku panas dingin, padahal aku tak sakit sama sekali.

Meski demikian, aku melakukannya! Ya, itu pertama kalinya aku memutuskan sendiri ke mana arah hidupku. Tanpa instruksi orang lain. Tanpa arahan siapapun. Anehnya, aku bernapas lega. Napas kebebasan pertamaku.  Sejak hari itu, aku tak pernah menangis dibalik bantal lagi. Tak lagi sengaja memutar video lucu pengalih perhatian. Tidak.

Sekarang, hal serupa terjadi.

Aku menjadi diriku yang dulu lagi, pengecut dengan wajah arogan. Khawatir akan kesusahan. Khawatir akan ditinggalkan. Khawatir apa yang kupilih adalah salah. Khawatir aku sudah menjadi gila.

Tapi bukankah tidak ada salah atau benar dalam pilihan? It’s just about what path and journey you prefer. If you feel tired, stop for a while, take a deep breath and look around. You will see there are many people envy to what you have. Now, you may start to walk again. Every moment in your life is too precious to be regretted.

Hahahha… ternyata berbicara kalimat-kalimat positif pada diri sendiri seperti tadi tidak begitu membantu. Tubuhku masih saja bergetar hebat. Bahkan sesuatu yang dingin mulai merasuki tulang belakangku.

Ah, aku rasa aku lebih butuh kamu. Ya, kamu. Berjanjilah tidak meninggalkanku. Jadilah tua dan gemuk bersamaku. Oke, baik, kita tidak akan gemuk. Sebaliknya, kita akan kaya, sehat dan memiliki banyak cucu. Kita akan jogging ke bukit di belakang rumah setiap pukul 5 pagi (ini janji yang mengerikan).

Tapi hari minggu tetap jadi hari menonton kartun dan bermalas-malasan di balik selimut, kan? Oh, syukurlah!


Actions

Information

One response

3 09 2013
Sean Ochan

hidup adalah untuk memilih, setiap pilihan ada resikonya.. oleh karena itu, perhatikan dan pertimbangkan resiko terlebih dahulu sebelum memilih. jika kamu merasa sanggup menghadapi resikonya, maka ambil pilihan tersebut, jika tidak sanggup maka tinggalkan.. keep spirit..!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s