Kepada Kisah yang Belum Diketahui Akhirnya

6 09 2013

oh_the_big_city_dreams_by_naiveminds

Sayang, aku tak sabar menyelesaikan  surat ini, melipatnya kemudian mengirimnya padamu. Semoga kantor pos di sebelah belum tutup. Belakangan kantor serba oranye itu selalu tutup lebih awal. Bukan pukul tiga sore seperti tulisan kusam yang tertera di pintu kacanya, melainkan pukul  tiga kurang  lima. Lima menit yang mengesalkan.

Banyak hal yang ingin kuceritakan.  Terlalu banyak malah. Sebentar, aku harus mengatur napas terlebih dahulu. Tersenggal-senggal karena tadi aku habis berlari.

Oke, aku mulai.

Ada banyak hal yang membuatku bersemangat belakangan. Berawal dari sebuah percakapan segar dengan seorang sahabat lama. Dia dan aku bisa dikatakan dekat. Hampir bertemu setiap hari. Kami juga punya kemampuan membicarakan apa saja di mana saja (asalkan ada makanan enak). Langit gelap tak menghentikan obrolan kami yang seringkali kelewat seru. Tapi ada satu hal yang kami sepakati sebagai kondisi untuk berpisah, ketika pacar masing-masing menjemput. Biasanya pacarku akan datang lebih dulu. Oh iya, dia sudah jadi mantan pacar sekarang (maaf sayang, aku tak  bermaksud jahat). Aku akan mengitari kota lalu berakhir dengan sepiring soto padang. Sedangkan dia, hmm… aku tak pernah bertanya mengenai hal ini. Dia juga tak terlalu ingin membicarakannya. Terakhir aku mendengar mereka putus. Sahabatku juga tak terlalu ingin membicarakan hal ini. Padahal aku hampir mati karena penasaran. Ah, dia tahu benar cara menyiksaku!

Karena pekerjaan, dia dan aku berjarak ribuan kilometer sekarang. Aku menyapanya beberapa saat sebelum makan siang namun ia malah menjawab dengan wajah yang mengantuk. Aku senang akhirnya bisa bicara lagi dengannya setelah sekian lama. Kami bertukar kabar berbeda. Ia tampaknya masih bermalas-malasan di tempat tidur, aku tidak. Aku lalu mengeluhkan beberapa hal, dia tidak.

“Aku tidak bisa melakukannya,” aku memang suka mengatakan hal yang tidak berhubungan dengan percakapan sebelumnya. Inilah hebatnya dia, bisa mengerti maksudku tanpa penjelasan bertele-tele.

“Kenapa?”

Aku berpikir. Berusaha mendapatkan jawaban yang tepat. Bukan jawaban sebenarnya, melainkan jawaban agar ia memaklumi.

“Karena kamu tidak pernah melakukannya,” dia melanjutkan dengan tidak sabar. Sedikit geram mungkin.

Sebuah suara yang entah darimana, meng-iya-kan perkataannya. Aku rasa itu suara dari pori-pori kulitku. Aku menutup telepon lalu menempelkan pipi kananku di meja kerja. Melamun. Meja ini terasa dingin, kontras dengan kulitku yang selalu hangat.

Tiba-tiba kamu menelepon.

“Nuna melahirkan, anaknya enam. Sayang sekali bukan enam belas seperti harapan,”

Kamu bersemangat sekali saat itu dan aku selalu gampang tertular emosi apa saja yang kamu semburkan. Nuna adalah hamster yang kita beli di pasar murah. Pasangannya mati karena terjebak lem tikus. Ah, siapapun tak suka dikekang, termasuk binatang. Mereka  ingin hidup bebas bukan? Meskipun di luar sana sangat berbahaya. Kaki-kaki kecil mereka lebih suka berlarian. Merasakan hangatnya tanah dan segarnya air. Mereka benci berputar-putar di kotak kayu berukuran kecil itu (aku tahu kau membuatnya dengan susah payah). Apalagi bagi manusia, kotak kayu akan membunuh jiwa mereka perlahan. Mayat hidup dengan pandangan satu arah yang seragam.

Dan di sinilah klimaksnya.

Aku melakukannya! Ya, aku akhirnya berani melakukannya sayang. Aku kehilangan beberapa hal namun aku tak ketakutan sama sekali, melainkan bersemangat. Aku mengalahkan kepengecutanku sendiri. aku bertaruh dengan diriku yang kerdil dan memenangkannya.

Kamu tahu sayang? Ternyata melakukan jauh lebih mudah daripada memikirkannya. Saat aku berpikir, ada banyak sekali bayangan-bayangan buruk yang tiba, membuat lututku goyah. Yayaya, aku kadang memang perempuan pemikir menyebalkan yang selalu khawatir (sekarang aku mengakuinya).

Sayang, aku paham, tak ada pilihan yang benar atau salah di dunia ini. Aku percaya setiap pilihan akan membawa kita pada perjalanan berbeda. Perjalanan yang mendebarkan. Kita tak pernah tahu apa yang akan menghadang di depan namun pemahaman-pemahaman berharga akan datang ketika kita menjalani sesuatu yang diyakini sepenuh hati. Sebaliknya, mendiamkan mimpi dan hanya menjadi pengikut setengah takut yang patuh akan mematikan hati.

Katamu tak seorang pun perlu khawatir ke mana akhir ceritanya. Karena untuk sampai ke suatu tempat, yang kita butuhkan hanyalah tetap berjalan. Berjalan lebih jauh lagi. Seseorang yang berhenti akan tergilas waktu dan dilupakan. Apa yang lebih menyedihkan selain dilupakan?

Jakarta, 6 September 2013


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s