Selamat Ulang Tahun (lagi) Pria yang Tak Ingin Kukenal

22 10 2013

Selamat ulang tahun lagi  pria yang tak ingin kukenal. Rasanya baru kemarin kalimat serupa kuucap. Masih terngiang betapa mengesalkan hari ulang tahunmu setahun yang lalu. Ia memanggil lagi beberapa adegan yang ingin kubuang. Melengkapi perasaan-perasaan yang selalu pura-pura tak kukenali.

Tapi sudahlah, apa saja bisa berubah. Tak terkecuali aku. Ingatan tentangmu mulai memudar dalam kotak ingatan. Ini adalah kabar yang sangat buruk. Aku harus menuliskannya agar tidak lupa sehingga kamu bisa menjenguknya sesekali. Kamu tentu setuju bahwa melupakan adalah hal yang merugikan, bukan?

Ulang tahun kita hanya terpaut 7 hari. Aku dilahirkan lebih dulu tapi kamu selalu mengaku lebih tua. Dua puluh lima tahun lalu, Ibuku membuat janji dengan seorang dokter yang sungguh mati ia percaya. Untuk diketahui, Ibuku sangat sulit mempercayai seseorang. Dokter itu direkomendasikan sahabatnya yang telah lebih dulu melahirkan tiga orang anak yang sehat. Menurut ibu, dokter itu sangat hebat. Terbukti dari rekam jejak yang telah ia selidiki. Ia belum pernah gagal dalam menangani persalinan. Sebagai bonus, dokter itu memiliki senyum bernilai sejuta dolar. Keyakinan ibuku makin bulat. Ia pun memilihnya sebagai takdir.

Tapi sesempurna apapun rencana manusia, ada zat yang lebih berkuasa yang menentukan kenyataan. Kelahiranku ditangani oleh dokter lain yang belum pernah berkenalan dengan ibu namun sangat mengenal dokter ibu. Mereka teman satu angkatan saat kuliah. Ibu tak punya pilihan lain. Ketubannya terlanjur pecah sedangkan dokter ‘takdir’ sedang di luar negeri. Aku lahir lebih cepat dari prediksi awal.

Setelah umurku seminggu, kamu pun lahir. Entah di mana dan entah dengan siapa. Dokter kah? Bidan? Atau dukun beranak? Aku tidak begitu yakin. Kamu belum pernah mendongengiku perihal ini. Yang kutahu, kamu sangat mencintai wanita yang melahirkanmu. Bagimu ia adalah perempuan yang paling penting dalam hidup. Dan kamu akan menjadi bayi yang haus air susu lagi jika mengingat kepergiannya. Kepergian tanpa sempat saling berucap selamat tinggal.

Ah, jalanmu penuh rahasia. Dan aku baru mendengar segelintir saja dongeng soremu. Kamu dan aku duduk di kursi kayu teras rumahmu yang rindang ditemani segelas besar teh hangat dan pisang goreng. Aku merebahkan kepala dipundakmu lalu kamu mulai bercerita. Cerita yang agak aneh, babi dan kucing yang menikah.

“Menurutmu anak mereka akan mirip siapa?” kamu bertanya dengan mimik serius.

“Mungkin babi,” aku menjawab asal.

“Alasannya?” kamu terus bertanya dengan mata ingin tahu.

“Karena dalam rumah tangga, babi lebih dominan. Mungkin karena pengaruh ukuran tubuhnya yang lebih besar,”

“Salah! Mereka tidak punya anak karena si babi divonis mandul,”

Aku benar-benar tak sanggup menahan tawa. Jawabanmu tak terduga. Kita tidak bertengkar atau berdebat. Kamu tidak menyuruhku ini itu. Aku tidak membantah ini itu. Kita menikmati sinar matahari yang pelan-pelan menjadi sangat oranye dan beranjak menghilang di balik bukit. Kamu usap perlahan rambutku yang tidak begitu kamu suka.

Tak jadi soal aku hanya perempuan yang kamu rahasiakan. Tak jadi soal kita tidak pernah jalan berdua ke pusat perbelanjaan yang meski sangat norak, begitu ingin kukunjungi sekali saja denganmu. Tak jadi soal kamu masih menyimpan puluhan foto wanita entah siapa di handphonemu. Sungguh tak jadi soal karena hari itu adalah sore terbaik yang kumiliki denganmu. Sekaligus sore terakhir kita. Kamu tak lagi mendongeng untukku. Kursi kayumu patah, pisangmu berhenti berbuah dan tetanggamu tak lagi berjualan teh. Semua mendukung kita untuk berpisah.

Lelaki yang tak ingin kukenal, kini kamu sudah banyak berubah. Kamu lebih sering merenung dan melakukan pengakuan dosa. Kamu membangun sekolah dan bermain dengan anak-anak. Kamu meluangkan waktu untuk mendengar dan berhenti menyuruh-nyuruh. Kita mulai berbicara panjang lebar walau masih terasa canggung.

Dengan tulus, kuucapkan selamat ulang tahun untukmu. Terima kasih atas dongeng dan ingatan indah yang kamu tinggalkan.

Semoga kita menjadi teman baik. Sekarang, esok dan kapan saja. Jika suatu hari nanti kamu ingin mengungkap rahasia kita, ceritakan dulu padaku bagaimana nasib babi yang mandul itu ya.

 


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s