Aku Akan Menikah Besok

26 12 2013

IMG_0064“Aku akan menikah besok. Kau harus datang karena ini hari penting.”

Apa? Dia akan menikah. Tunggu, otakku butuh waktu untuk mencerna kata-katanya barusan. Aku pikir orang seperti dia tidak menyukai bayi dan tentu tak mungkin bersemangat dengan ide menikah. Dia akan selamanya jatuh cinta pada mimpi-mimpinya untuk mengubah dunia. Ya, dunia yang diramalkan akan meledak dalam beberapa tahun ke depan. Kupikir dia hanya akan menjalani beberapa kisah romantika sementara kita tetap saling memiliki.

Dia tidak melayangkan undangan seperti pasangan pada umumnya. Hanya sepotong undangan digital dan beberapa foto pra-nikah yang sederhana. Tidak buruk namun mengundang banyak pertanyaan, melenceng dari garis kebiasaan. Mereka bebas melakukan semua itu karena memegang kendali penuh. Meskipun itu keren, aku tetap tak suka shocking news ini.

Kalaupun dia harus menikah, bukan sekarang saatnya, bukan dipenghujung tahun, bukan di saat aku kesepian, bukan disaat usia kami masih 25 tahun! Oke, aku terdengar seperti perempuan egois menyedihkan. Tapi akal sehatku belum mampu mencerna kabar ini dengan baik.

Seorang sahabat yang akan menikah selalu meninggalkan perasaan (seakan-akan) kehilangan. Kita tak terlalu sering menghabiskan waktu bersama tapi anehnya kita selalu bisa berbagi apa saja. Sesuatu yang tidak mungkin kau ceritakan pada ibumu. Entahlah, padanya aku bisa mengatakan apa saja, beban yang terlampau berat, tangis tertahan, kata-kata kasar yang tak pantas diterima penghuni neraka sekalipun, dan kebahagiaan membuncah tentu saja. Dia tak terlihat seperti orang yang terbuka. Dia tak banyak bicara, kadang terlihat canggung dan takut. Tapi kau tahu? Menurutku dia cukup berani dan tahu siapa dirinya. Ia bukan seseorang yang terlalu percaya diri namun ia punya nilai-nilai yang selalu dipatuhinya.

Satu hal yang lebih mengejutkan, dia tak menikah dengan kekasih yang telah dipacarinya selama 5 tahun terakhir. Kekasih yang sangat dicintainya. Kekasih yang selalu jadi bahan pembicaraan utama kami. Ia akan melakukan apapun untuk pria dengan tawa yang menurutku agak aneh itu. Apapun. Ia bersedia menutup mulutnya hingga kiamat daripada memulai pembicaraan-yang-diyakininya akan menyulut pertengkaran. Ia tidak akan mengatakan apa yang seharusnya ia katakan jika hal itu dapat menyakiti prianya. Perasaan itu akan dibawanya hingga neraka.

Ia mampu menjelma jadi apa saja. Ia adalah kekasih, sahabat, ibu, dosen pembimbing, kakak dan adik sekaligus. Ia sangat ahli untuk yang satu ini, tak perlu kuajarkan.

Ia tak keberatan, bahkan tersenyum senang mengantri di gerai makanan cepat saji sementara kekasihnya menanti di sudut meja, mengutak-atik telepon genggam. Ia akan mencarikan obat ketika sang kekasih terserang flu dan membeli payung agar pria itu tak terkena percikan hujan sedikitpun. Ia adalah orang pertama yang menanyakan kabar, mencari tahu bagaimana pria itu memulai hari, menjadi alarm pengingat hal remeh-temeh, sekretaris yang mencatat kegiatan, dan penghuni kotak masuk handphone nya. Baginya, kekasih adalah prioritas yang tak bisa digugat. Apapun yang mulanya penting, akan segera runtuh karenanya.

Ia terlalu tinggi menilai diri. Ia bukan dewi melainkan manusia biasa yang juga mengalami saat-saat sulit. Ia pun butuh semua yang ia berikan. Kau pikir mengapa seseorang selalu berada di dekatmu? membuatmu tertawa di saat kau susah? Sama sepertimu, mereka juga ingin ditemani, dihibur, mereka rindu muka badutmu. Ia menahan diri, menahan yang cukup lama.

Aku sepenuhnya paham bahwa memberi akan membuatmu lebih bahagia. Berbuat baik untuk orang lain dan menyukseskan hidupnya adalah poin indah untuk hatimu.  Tapi apa yang terjadi jika ketidak seimbangan itu berlangsung hingga kau mati? Apa kau tidak pernah sekalipun perlu dibantu? Apa kau selalu bisa melakukan segalanya dengan sempurna sendirian? Apakah selamanya kau akan memasak, meracik obat dan melipat payung? Mungkinkah sekali dalam hidup kau bisa jatuh sakit? Mungkinkah sekali dalam hidup kau ingin duduk dan menanti? Mungkinkah sekali dalam hidup kau ingin diperlakukan seperti ratu?

Dulu, aku bertaruh dengannya bahwa ia tidak berjodoh dengan pria ini tapi ia bersikeras.

“Aku tidak akan putus dengannya. Sedikitpun tidak terbayangkan menghabiskan sisa hidupku dengan pria lain, aku sudah terbiasa begini,”

Itu kalimat paling menyedihkan yang pernah kudengar darinya. Aku hanya tertawa dan memperhatikan bola mata coklat besarnya, menelisik keraguan. Kau tahu apa yang kutemukan? Cinta yang sedih. Ya, cinta memang punya banyak wujud. Ada bahagia, gairah, takut, sedih, cemas, khawatir, cemburu, ragu.  Tapi apa jadinya jika wujudnya hanya satu dan permanen? Ini mulai mengkhawatirkan.

Saat itu kupikir ia adalah perempuan penyuka kesia-siaan, membuang garam ke laut. Tapi ia adalah seseorang yang mematuhi nilai-nilai yang diyakininya, ia tak akan berkhianat. Ia memberi kesempatan pada pria itu, mengulur waktu, berharap sesuatu berubah.

Ah, andai saja pria itu mampu menangkap pesannya…

Jika kau menginginkan kucing, belilah kucing. Jangan berharap seekor tikus yang kautemukan mampu mengeong seperti kucing. Keyakinan kadang membuatmu bodoh.

16Cinta tidak diam. Ia tak mungkin berhenti di satu titik dan membeku selamanya. Ia butuh diperjuangkan, diperbaharui, dinikmati. Jika cintamu membatu, maka kau yang harus bergerak. Ia memutuskan berangkat dari kota yang cukup-tak-mau menerima perubahan itu. Sebenarnya sudah sejak lama kuajak ia pergi dari situ. Tapi ia adalah perempuan yang yakin. Ia tak mungkin menjauh dari prioritas. Jika ia menjauh, maka itu tak akan jadi prioritas lagi.

“Apa rencanamu selanjutnya? Apakah kau akan menikah dengannya?” Suatu hari aku bertanya lewat telepon.

“Entahlah. Kita sudah bicara. ia bercerita panjang lebar tentang rencana hidup ke depan. Ia akan melanjutkan S2 dan mencari pekerjaan paruh waktu untuk mengisi kekosongan jadwal,” jawabnya datar.

“Lalu?” aku masih belum mendapatkan poinnya.

“Kau benar, tak ada aku dalam daftarnya,” suaranya terdengar semakin mengecil, kecewa.

“Kau tak bertanya bagaimana dengan masa depan hubungan kalian?”

“Tentu. Katanya yang harus didahulukan adalah mengejar cita-cita masing-masing, baru berpikir ke arah yang lebih jauh.” Ia berkata takut-takut. Takut aku akan menyemprotnya dengan kata-kata pedas seperti biasa.

Tapi aku berusaha mengendalikan diri, bernapas dan berhitung dari satu sampai sepuluh untuk meredakan emosiku yang meninggi.

“Aku rasa kau sudah paham. Lakukan saja seperti yang dia mau,”

Ia pergi. Pergi mengejar cita-cita seperti pembicaraan terakhir mereka. Ia sampai di kota asing yang membingungkan. Kota yang sangat kejam bagi pendatang linglung. Namun akan menjadi surga bagi pendatang yang pantang menyerah dan tahu apa yang ia mau. Siapapun bisa menjadi apapun di sini, Jakarta.

Ia bertemu seorang pria. Pria ini telah dikenalnya sejak lama. Tapi aku tak begitu mengenalnya, hanya tahu nama. Ia membantu banyak hal dengan sangat sabar. Memosisikan dirinya sebagai tuan rumah yang ramah. Kadang agak berlebihan menurutku. Ia melakukan sesuatu (rasanya tidak hanya sesuatu tapi banyak). Ia pria yang khawatir dan memperhatikan segalanya. Astaga, aku rasa inilah yang selalu dirindukan olehnya. Oleh perempuan yang selalu melakukan dan menyiapkan segalanya. Ia tidak lagi berpijak di kerak bumi, gravitasinya menghilang, ia menginjak langit sekarang! Dan oh, siapa yang bisa menolak menyentuh pelangi sesudah hujan? Jika ada, pastilah dia orang yang sangat congkak.

ia gamang, tak terbiasa menjadi putri. Perlahan ia menyadari, pria ini adalah dia di masa lalu sementara ia bertransformasi menjadi kekasihnya. Mereka saling bertukar peran. Ah, betapa ironis. Ketika kau begitu membenci sesuatu, lama-kelamaan kau akan berubah menjadi sesuatu yang kau dibenci tanpa kau sadari. Karena membenci akan menyita pikiran dan alam bawah sadarmu. Begitulah, kurasa ia mampu melihat dengan jernih sekarang.

Ia berpikir, menimbang-nimbang, merasa-rasa apa yang harus dilakukannya. Tak lama kekasihnya menyusul, berusaha memperbaiki keadaan. Tiba-tiba semua menjadi rumit, menguras emosi dan pikiran. Kekasihnya telah menjadi lelaki berbeda, tak lagi pria yang disesali dan ditinggalkannya. Aku cukup terkesan karena ia tak menjadi gila. Jika ia kembali, semuanya akan lebih mudah.

Sayang, sesuatu yang mudah tak selalu menarik, bukan? Ia meninggalkan kekasihnya dan berencana menikah dengan pria baru itu. Pasangan itu tidak seperti Barbie dan Ken yang selamanya menari indah di lantai dansa lalu berbahagia selamanya. Mereka masih berdebat, bertengkar, mematikan telepon dan bersungut-sungut. Ya, mereka masih seperti itu.

Tak ada yang bisa menjamin pria baru ini lebih baik dari kekasihnya dulu, apakah ia mampu membuatnya lebih bahagia, apakah ia mampu membuatnya tidak mengalami cinta yang sedih lagi, apakah ia mampu menjadi pria hebat. Tuhan pun tak mau memberi jaminan. Hidup adalah proses tanpa henti. Setidaknya kau mau belajar dan memanfaatkan kesempatan yang diberikan padamu. Menurunkan ego dan meluangkan waktumu untuk memahami orang lain. Jika kau hanya berpusat pada dirimu, maka kau akan terlempar. Karena bumi memiliki poros dan kau terlalu tidak berdaya untuk menggantikan.

Bagaimana dengan kasihnya? Oh, jangan tanyakan itu karena ia adalah kepompong yang menjadi kupu-kupu. Menyesali dan memperbaiki kesalahannya, melakukan perjalanan, menguruskan badan, menikmati hidup dan mengejar cita-cita hingga ke negeri jauh. Jika kau mau sedikit memperhatikan, dunia ini memang tak berjalan seperti yang kau inginkan tapi berjalan dengan baik, seimbang.

Kuucapkan selamat atas keputusanmu. Kau tahu pasti aku akan selalu mendukungmu meski kau memutuskan untuk meminum racun sekalipun. Karena aku tahu kau adalah perempuan yang yakin dengan nilai-nilaimu, kau tak akan berkhianat. Aku senang bisa menyebutmu sahabat.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s