Balkon dan Alasan

14 05 2014

“Kenapa aku?” tanyamu menatap langsung dalam bola mataku, memastikan tak ada secarik kebohongan pun lolos. Aku menghindar, mengalihkan pandangan pada kelap-kelip kota Bandung di hadapan kita, salah satu alasan kugilai Kota ini selain makanannya.

“Lampu-lampunya cantik ya, sayang ketutupan pohon. Harusnya kita satu lantai lebih tinggi,” jawabku mencoba mengulur waktu.

“Iya, nanti suruh abang-abangnya nebang,”  kamu tetap berusaha menanggapi tanpa mengurangi mimik seriusmu.

 “Jadi kenapa aku?” ah, kenapa suasananya seperti sedang jurit malam?

“I don’t know,” jawabku sekenanya.

“But everything happens for a reason, semuanya bisa dijelaskan,”

Sayang, kita tak merencanakan akan jatuh cinta pada siapa dan kapan.  Dan  kamu menanyakan alasan. Ya, kamu percaya alasan dan prediksi. Sedangkan aku? Aku percaya hari ini dan rumus pura-pura. Pura-pura tak apa-apa saja, berharap benar-benar tak apa-apa. Jadi kamu mengharapkan jawaban apa?

“Jadi mengapa aku?” berputar lagi ke topik awal. Ah, mengapa sulit sekali membuatmu lupa?

“Aku tak begitu yakin apa alasannya.” aku masih mencoba lari.

“Aku menunggu jawabanmu,”

“Kamu memang selalu begini, Ya?”

“Ya, aku memang semenyebalkan ini, this is me. Man that you know before who really likes to make everyone laughs is just a little part of me.”

Kamu menyulut  rokok untuk entah yang keberapa kalinya.

“Kamu merokok ya?”

 “Sejak di sini aku tak pernah merokok lagi, tapi sepertinya malam ini perlu,”

Ini semakin menarik saja. Perlahan kamu mulai menunjukkan warna yang sesungguhnya. Ini bisa jadi pertanda baik atau malah bencana. Aku memang seorang penggila kejutan namun pengutuk kejutan yang buruk karena akan merusak sisa hariku.

Kamu menunggu, menyisisr satu-persatu bagian wajahku, seakan ada tulisan berjudul ‘alasan’ di sana.  Kamu berhenti lalu menatapku, lagi-lagi menanti sesuatu. Ah, kamu memang penggiring handal dalam pusaran pengaruh kata-katamu. Orang-orang akan menyetujui apa yang kamu inginkan dan berfikir seakan-akan pendapat mereka sendiri adalah dosa.

Aku menunduk ke lantai. Kamu memelukku entah untuk alasan apa. Tapi apakah kita selalu butuh alasan untuk sebuah pelukan? Lagi-lagi alasan!

“Sudahlah tak usah dijawab sekarang” ucapmu tersenyum.

“Tapi nanti?”

“Ya”

Arrggghhhhhhh…

Semua hal memang terjadi karena sebab. Untuk bernapas saja kamu butuh alasan. Tapi mencintaimu? Usahaku harus lebih baik. Terutama menemukan padanan kata yang sangat terbatas ini untuk mewakili maksudku.

Sayang, jika balkon ini adalah kenangan, maka biarkan aku merangkulnya erat lalu menghanyutkannya di sungai depan rumahku. Semoga ia selalu abadi dan mengalir menyusuri lekukan-lekukan ingatanmu dan aku.

 

 

 


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s