Cerita yang Mungkin Belum Kamu Ketahui, Jan

21 02 2015

Barangkali manusia pertama yang memahami dirimu adalah jiwa yang bersemayam di dalamnya. Yang kedua bisa siapa saja. Mungkin orang tua, sahabat atau kekasih. Tapi bagiku, dia adalah Jan.

Umurnya dan aku berjarak tujuh setengah tahun. Dulu, ibuku sulit sekali mendapat anak. Ia menemui dukun penyubur kandungan di kampungku. Ia rela mendaki bukit dan bermalam di rumah panggung menyeramkan tempat si dukun tinggal. Ia menunggu, berharap sesuatu tumbuh di dalam rahimnya. Ia bersabar berbulan-bulan namun tak terjadi apapun. Ruang itu tetap kosong melompong. Tak ketinggalan ia megikuti program kehamilan yang disarankan dokter. Itu pun tak berhasil. Tak menyerah, ia mengkonsumsi obat-obatan dari MLM yang ia percaya. Hasilnya masih Nihil.

Aku senang masih menjadi ratu dihatinya. Satu-satunya. Aku tak suka tersaingi. Maka kehadiran seorang adik hanya akan mengacaukan keseimbanganku. Ibu selalu mendongengiku cerita-cerita yang dikarangnya sendiri sebelum tidur. Kebanyakan ceritanya tentang binatang. Anehnya intrik yang terjadi dalam ceritanya lebih pas untuk manusia. Tanpa kusadari Ibu selalu menyampaikan pesan rahasia dalam setiap kisahnya. Dan aku percaya sepenuhnya. Apa yang ia ajarkan di masa kecil amat mempengaruhi diriku yang dewasa.

Katanya, dulu aku adalah anak kecil yang paling tidak bisa menerima kenyataan. Bagaimana mungkin air mata yang sudah jatuh dimasukkan lagi ke dalam bola matamu? Begitulah.

Ibu selalu tahu segala hal. Tepatnya harus tahu karena semua orang di rumah ini mengandalkannya. Ia begitu menyayangiku, memperhatikan dan menyediakan segala kebutuhanku. Yang kutahu hanyalah berangkat sekolah dan belajar sebaik-baiknya. ia melakukan semuanya sendirian, mungkin karena tak percaya pada orang lain. Namun akhir-akhir ini ia menanggung  akibatnya sendiri.

Ayahku menitahkan agar ia berhenti bekerja saja. Lebih baik menjaga dan mengurus anak-anak di rumah sementara ia akan mencari nafkah ke negeri jauh. Ibuku menurut. Ayahku tak bisa dibantah. Belakangan aku tahu sewaktu muda ia sangat cantik dan memiliki karir yang bagus.

Ibuku akhirnya pasrah. Ia tak berusaha lagi. Hanya berdoa dan meminta orang-orang mendoakannya. Setelah enam setengah tahun perjuangannya, ia akhirnya mengandung. Bayi itu laki-laki. Hampir setiap hari aku menempelkan telinga pada perut besarnya, berharap mendengar calon adikku itu menyapa. Ada rasa kesal dan iri saat itu. Tampaknya perut Ibuku nyaman sekali. Ia hanya tidur atau bergeliat sekali-sekali. Setiap hari minggu pagi, aku dan Ibu lari  ke lapangan terbang di dekat rumah. Kami membeli telur rebus dan duduk-duduk di taman. Kami mengobrol. Kadang aku tak paham apa yang ia bicarakan. Ia kadang bercerita tentang teman-teman kantor yang ia rindukan. Ia juga bercerita tentang mantan pacarnya yang ganteng luar biasa. Lelaki itu ditemuinya di kota Manado. Mereka saling mencintai dan akan menikah. Sayang, nenekku menentang habis-habisan karena ia tak berdarah Minang. Tuhan mereka pun tak sama. Ibuku sering mengulang-ngulang cerita yang sama. Dan aku selalu mengulang-ngulang pertanyaan yang sama. “Lalu mengapa Ibu akhirnya menikah dengan Ayah?” Wajah Ibu berubah menjadi mimik yang belum bisa kuterjemahkan saat itu.

Setelah hampir 10 bulan, ia akhirnya melahirkan. Ibu berjanji akan mengajakku ke rumah sakit kalau sudah waktunya adikku keluar. Aku ingin menyaksikan prosesnya. Tapi ternyata rasa sakit membuatnya lupa. Aku sedang di sekolah mengerjakan soal matematika, tentang pecahan. Kosentrasiku terpecah. Nenekku mengabari adikku sudah lahir. Aku tak pernah mengerti pecahan. Aku marah pada adikku. Mengapa ia harus lahir ketika aku sedang belajar? Mengapa ia tidak bersabar sampai aku pulang. Setelahnya balas dendamku dimulai. Aku sering membiarkannya jatuh padahal ia belum lancar berjalan. Setelah ia menangis baru aku datang. Meski aku akhirnya dimarahi Ibuku sampai gendang telinga ingin pecah mendengar ceramahnya.

Label baru untukku terpasang. Aku adalah kakak. Aku adalah panutan, contoh, benchmark. Keahlianku berpura-pura berawal saat itu. Berpura-pura mendekati sempurna.

Adikku tumbuh menjadi manusia paling mengesalkan di muka bumi. Ia mengurangi jatah kue ku. Jika merebus mi aku juga harus merebuskan untuknya. Jika aku bermain dengan teman-temanku, dia juga harus diajak. Kalau tidak, ia akan berlari kesembarang arah dan tertabrak mobil. Ibuku bisa gila. Dan itu neraka bagi kami.

Aku memasuki masa puber. Jatuh cinta. Aku ingin bercerita. Tapi dia masih sibuk mengelap ingusnya. Tak berguna. Aku lebih suka sendirian, mengurung diri di kamar, membaca dan mendengarkan musik. Kadang-kadang menulis jurnal. Begitu banyak pertanyaan berseliweran di kepalaku. Dan tak ada sesiapapun mampu menjawab. Pertanyaanku menumpuk. Kepalaku serasa akan meledak.

Suatu sore dihari minggu, Jan, begitu panggilannya, mengetuk pintu kamarku, hal yang jarang sekali dilakukannya. Karena ia hanya akan mendapat semprotan kata-kata pedas dariku setelahnya. Namun hari itu berbeda. Ia mengetuk, pelan dan penuh kesabaran. Tidak berharap tapi membuat aku penasaran. Kubukakan pintu. Kulihat sesosok pria berdiri dihadapanku. Ia bukan anak-anak lagi. Ia tumbuh sangat cepat. Tingginya sudah melebihi aku. Tangannya besar dan berotot. Ia berbau kretek. “Boleh pinjam bukunya, Kak?” ujarnya pelan tapi bulat. Pertanyaannya membuat mataku membesar. Selama ini ia tak pernah ingin menyentuh rak buku yang penuh sesak itu. Aku tahu, inilah saatnya. Saatnya membuka diri. Seharusnya aku tak membiarkan dia dewasa sendiri seperti aku. Mencari-cari di luar sana sementara tak pernah tahu apa yang dicari. Kemungkinan tersesat amat besar jika sendirian.

Kami mulai menjadi teman. Malam hari, saat hingar-bingar rumah tak terdengar, kami pergi. Dan selalu berakhir di bakso kepala sapi atau cafe pinggir jalan yang buka 24 jam. Membicarakan banyak hal. Mulai dari remeh-temeh hingga ide-ide gila untuk menguasai dunia. “Nanti kita akan meninggalkan kota busuk ini, membawa Ibu dan kaya raya,” begitu celotehnya dengan mulut penuh bakso. Aku tertawa dan mengamini. Dengan bersemangat, ia menceritakan betapa ia belum bisa melupakan cinta pertamanya. Sementara pacarnya yang sekarang sangat sempurna. Hanya selalu tak nyambung kalau diajak bicara. Dia dan aku selalu curiga jiwa kami terganggu dan berdoa Ayah tak mengendusnya. Jika iya, kami berdua bisa berakhir di RS jiwa.

Rumah

Rumah kami terletak di sebuah komplek sederhana. Ukurannya minimalis. Ibu dan Ayah menyicilnya dalam jangka 15 tahun. Rumah mungil itu terdiri dari tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan satu kamar mandi. Semuanya serba imut. Cukup karena kami hanya ber-empat, seringnya bertiga. Saking kecilnya, jika kamu menelepon di dalam kamar, seisi rumah bisa mendengar suaramu, walau pintunya ditutup rapat. Bisa kau bayangkan jika satu saja penghuninya berteriak? Kenyataannya, selalu lebih dari satu.

Aku dan Jan menenggelamkan diri dengan banyaknya kegiatan. Aku les ini itu, sebisa mungkin sampai di rumah saat hari sudah gelap. Demikian hal nya dengan Jan. Bedanya ia tak suka les. Ia lebih suka latihan band atau sekedar nongkrong dengan geng nya. Biasanya ia selalu pulang lebih larut.  Kami paling suka hari minggu. Ibuku pergi ke pasar pagi-pagi sekali ditemani Ayah. Kami berdua akan bangun pagi, membuat teh hangat dan menghidupkan televisi. Doraemon, sinchan, detektif conan, surga! Setelahnya kami bersiap jalan dengan pacar masing-masing. Sebisa mungkin saling tak bicara satu sama lain. Begitu rutinitasnya. Kami sudah hapal.

Lama-kelamaan kami makin jarang bicara. Bukan kami tak suka. Secara natural kami adalah dua orang yang sangat cerewet. Tapi di rumah ini kami lebih baik diam. Sudah terlalu ribut dan kami terlalu malas untuk menambahi kebisingannya. Satu-satunya kesempatan ngobrol berdua adalah kedai bakso. Padahal sebelumnya aku sudah makan bakso dengan pacarku. Tapi entah kenapa berbeda. Pacarku selalu membicarakan dirinya. Terus-menerus. Dengan Jan, kami membicarakan rencana-rencana melarikan diri dan mengutuki kekasih yang brengsek. Meski kami tahu itu tidak mungkin, membayangkannya saja sudah memuaskan. Hingga akhirnya kupikir bisa mengandalkannya, menitipinya tanggung jawab yang lebih besar. Menjaga Ibu karena aku memutuskan untuk merantau. Jarak kami yang terlalu jauh membuat ia masih terperangkap dibangku kuliah sementara aku sudah harus bekerja.

Ah, aku paling tak ahli dalam perpisahan. Aku tak bisa menangis. Tepatnya tak suka menangis di depan orang lain. Jadilah aku seperti manusia tanpa hati. Kami tak biasa saling memeluk. Ibu, Ayah dan Jan. Kami hanya bersalaman dan menitipkan beberapa kata nasehat. Sesampainya di tujuan Jan mengirim pesan pendek. “Kak, rumah berisik ini jadi sepi. Kapan kita makan bakso lagi? Aku sedih,” aku merasa bersalah meninggalkan beban berat untuknya sendiri. Aku hanya bisa berdoa semoga ia tak jadi gila.

Sekarang sudah bertahun  kita terpisah. Tampaknya Jan sudah bisa menyesuaikan diri meski ia masih sering mengirimiku pesan pendek yang berisi umpatan-umpatan dan kekesalan-kekesalan. Dan aku akan menambah-nambahinya. Dan kita berdua makin kesal (hahaha) tak membantu!

Kembali

Suatu hari aku kembali. Pulang. Jan tak banyak berubah. Ia masih bau kretek, matanya masih berkantung akibat sering bergadang, kamarnya berantakan, baju kotor bertebaran di mana-mana, ia masih bermasalah dengan kaus kaki yang selalu hanya ada sebelah. Namun ketika kami bicara, aku mulai merasakan perbedaannya. Ia makin pintar. Ia tahu betul yang ia inginkan. Dan ia akan mengusahakannya hingga akhir. Ia akan merantau dan membawa Ibu pergi. Ia tahu apa yang ia lakukan. Satu lagi, ternyata Jan anak yang lucu. Entahlah, mendengarnya bercerita dengan ekspresi datar dan biasa saja sudah membuatku ingin tertawa. Belakangan aku tahu ia pemenang standup comedy di kampusnya.

Jan sudah tumbuh jadi pria dewasa. Ia tidak menangis lagi saat kurebut jatah es krimnya. Ia tidak berlari ke sembarang arah lagi jika tak kuajak bermain. Ia tahu tujuannya. Ia akan mengejar mimpinya sendiri. Suatu hari nanti mungkin kami akan terpisah ribuan kilometer dan memiliki keluarga kecil sendiri. Mungkin istrinya jahat dan tak membiarkan kami terlalu sering tertawa. Tak apa, karena selamanya ia akan tetap menjadi Jan, adik kecilku yang penangis!


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s