Nenek dan Tetangga Seberang Jalan

12 10 2015

Nenek dan Tetangga Seberang Jalan

“ Nenek sedang apa? Hampir setiap hari melihat ke arah jendela.”

“Tetangga di seberang jalan kita. Dia tampak kesepian”

Percakapan berhenti di sana. Jika kulanjutkan, nenek tak akan senang. Ya, dia akan bercerita tentang tetangga seberang jalan yang setahuku tidak pernah keluar rumah. Bahkan seperti apa rupanya saja aku tak pernah tahu. Dan aku akan berpanjang lebar dengan segudang analisis berdasarkan logika bahwa sebaiknya ia beristirahat. Ketimbang sepanjang waktu menatap jendela, memperhatikan rumah seorang pensiunan artis.

Dari desas desus yang kudengar antar pembantu rumah tangga, rumah itu sudah lama sekali dijual namun entah mengapa begitu sulit laku. Seperti yang diceritakan Marsiah yang selalu ingin dipanggil Marisa. Ia pernah melihat jendela di kamar paling selatan di rumah itu diterangi cahaya lampu. Waktu itu malam minggu, ia habis pacaran dengan salah seorang satpam kompleks kami yang paling gagah menurutnya. Ya, Marisa memang diberi waktu khusus setiap malam minggu untuk pacaran karena itu persyaratan yang ia ajukan saat resmi diterima kerja. Selain waktu cuti 24 hari setahun lengkap dengan uang cuti. Ditambah lagi ia menawar gaji di atas rata-rata karena ia bisa memasak dan mengurus anak sekaligus. Jika tidak, ia bisa saja pergi dan di luar sana puluhan majikan memperebutkannya.

Ia bercerita terlalu bersemangat hingga air ludahnya menyembur ke wajahku. “Aku berani bersumpah, lampu kamarnya menyala dan ada bayangan orang melintas.”. Saat itu memang sudah lewat tengah malam. Ia dan pacarnya biasanya bertemu di sebuah tanah kosong tak jauh dari rumahnya dengan sebuah pohon besar yang menaungi. Tadinya beberapa remaja yang tinggal di balik tembok tinggi komplek, yang kami sebut ‘kampung’ juga ikut pacaran di sana. Namun pacar Marisa adalah satpam yang berpengaruh. Mereka semua diusir dan otomatis lokasi itu ekslusif untuk mereka berdua. Memadu kasih kadang membuatmu lupa waktu, tak terkecuali bagi Marisa. Ia panik. Ternyata sudah lewat pukul 12 malam. Harusnya pukul 10 ia sudah di rumah. Ia dan si satpam bergegas pergi. Sepanjang perjalanan pulang mereka masih saja bermesraan. Rumahnya berjarak sekitar 500 meter dari tanah kosong tepat di sebelah rumahku. Tiba-tiba pacarnya meremas payudara Marisa. Mereka pun berhenti agar lebih kosentrasi. Posisi mereka tepat di depan rumahku. Semula semua gelap. Bahkan lampu jalan pun sedang rusak hingga menambah gelap malam itu. Seketika Marisa terbelalak dan berteriak. Ia melihat lampu kamar tiba-tiba hidup dan sesosok perempuan melintas. Ia hanya bisa mematung. Kakinya tak mampu bergerak mengikuti perintah otaknya. Sementara si pacar kabur dengan kecepatan lari seorang atlet. Usai kejadian itu mereka bertengkar. Marisa kesal lelaki yang selalu memujinya seksi itu meninggalkannya begitu saja di pinggir jalan, menyelamatkan diri sendiri. Hubungan mereka porak poranda.

Lain Marisa, lain Inayah. Perempuan yang belum pernah bertemu kedua orang tuanya itu mengatakan bahwa ia pernah melihat seorang perempuan tua menyiram tanaman di malam hari. Ia bahkan menyapanya. Perempuan itu menyunggingkan senyum. Sepertinya ia sudah tak bergigi lagi, senyumnya jadi agak menakutkan. Setelah mereka berdua bercerita, yang lain berganti-gantian bercerita Seperti sedang ikut lomba. Siapa yang paling aneh, paling menakutkan, paling mencengangkan, paling mutakhir! Tapi bagiku, semuanya bualan. Perempuan-perempuan itu hanya ingin yang lain mengagumi cerita mereka. Dongeng mereka tepatnya.

Rumah itu persis di depan rumahku. Jadi sedikit banyak aku tahu bahwa belum ada yang menempati rumah itu semenjak pembeli terakhirnya pindah, pasangan muda dengan satu orang anak kira-kira berumur tiga atau empat tahun. Mereka sering berpergian. Jarang sekali ada di rumah untuk waktu yang lama. Makanya aku sering kesal kalau nenek sudah bicara ngalor-ngidul tentang rumah itu. Kuakui, bentuknya memang agak seram. Luasnya dua kali lipat rumahku. Cat nya sudah mengelupas di sana-sini, membuatnya terlihat kumal dan suram. Ada sebuah pohon besar dengan tanaman-tanaman tak terurus. Beberapa pot pecah berserakan. Rumput liar mulai tumbuh menjalar-jalar memakan teras. Tapi tak berarti semua kombinasi itu lantas membuatnya menjadi rumah hantu, bukan?

Orang-orang hanya butuh desas-desus sebagai hiburan di sela-sela kesibukan mereka yang monoton. Soal kebenaran? Ah, mereka tak terlalu peduli. Kebenaran seringkali menyakitkan. Sedangkan otak mereka sudah terlalu sakit untuk menerima penyakit tambahan. Bagi kami, para pembantu, tak ada bedanya dengan majikan. Kami bangun pagi-pagi sekali. Seorang asisten rumah tangga biasanya mematikan lampu, membuka tirai dan jendela agar udara segar bertukar dengan karbondioksida busuk yang dihasilkan manusia tidur. Lalu menyiapkan sarapan sebelum para tuan berangkat ke kantor. Bagi Baby Sitter tentu memandikan anak, menyiapkan keperluan sekolah lalu mengantar mereka jika tak ada jemputan. Usai itu, kami bisa lebih santai. Menyapu dan mengepel rumah lalu menyiapkan makan malam. Selebihnya? Kami menonton televisi di sofa ditemani teh hangat dan cemilan dari luar negeri. Atau menelepon rekan sejawat dan pacar sambil tertawa-tawa sekerasnya. Tapi jangan tanya soal majikan kami. Mereka bahkan bangun lebih pagi dan sampai di rumah lagi pukul sepuluh hingga tengah malam. Muka mereka seperti pakaian kotor yang belum dicuci berhari-hari. Kadang mereka sudah terlalu lelah untuk makan malam. Seringnya langsung masuk kamar dan tidur seperti orang mati. Makanan yang kami buat susah payah pun terbuang sia-sia karena si majikan makan di jalan, di dalam mobil yang terjebak macet. Kota gila!

Sungguh aku tak mampu mencerna perilaku majikanku. Mencari uang dengan mengerjakan suruhan orang lain lalu membayar orang lain lagi untuk melakukan suruhannya. Padahal mereka tidak menyukainya. Kalau aku? Tak perlu ditanya, aku suka sekali memasak dan beberes rumah. Ada semacam ledakan kecil dihatiku saat orang lain lahap memakan masakanku. Dan aku puas sekali melihat rumah yang kinclong tanpa debu. Mahakarya para arsitek ini terlihat lebih memukau karena kepiawaianku menjaga dan merawatnya.

Sayang, merawat barang-barang tak serupa dengan merawat manusia apalagi orang tua. Butuh kemahiran tertentu. Terutama kemahiran memakai telingamu dengan baik. Minggu ini nenek lagi-lagi ditinggal berdua denganku. Bapak dan Ibu harus ke luar negeri. Untuk urusan pekerjaan yang tidak kami mengerti. Karena itulah aku dan nenek yang semula selalu berdebat menjadi akrab. Diantara teman-teman yang lain, aku dianggap pembantu paling lancang. Suka melawan. Bagiku itu bukan mendebat melainkan menghidupkan suasana.

Kami menghabiskan waktu bersama. Bercerita, bersenda gurau. Ia sering menceritakan masa mudanya yang gemilang. Bagaimana ia dulu menjadi pejabat tinggi negara yang dihormati. Kemanapun pergi dikawal dua orang bodyguard berbadan tegap. Bahkan ia pernah berselingkuh dengan pengawal pribadinya itu. Katanya karena terbawa suasana apalagi ia kesepian. Ah, nenek! Suaminya seorang pengusaha mebel yang cukup sukses. Cabangnya ada dibeberapa kota di pulau Jawa sehingga membuatnya sering melakukan perjalanan ke luar kota. Mereka jarang bertemu.

Kini, perempuan 70 tahun itu terserang stroke. Suaminya sudah lebih dulu pergi karena kecelakaan. Ia menghentikan semua kegiatan lalu membagi-bagikan warisan pada lima orang anaknya. Berdasarkan kesepakatan keluarga, kini ia tinggal di rumah anak perempuannya yang tertua, yang mendapat warisan terbesar.

“Aku ingin pulang kampung saja. Udaranya lebih segar” Nenek tiba-tiba bicara saat kami duduk-duduk di teras rumah menyaksikan kendaraan yang lalu lalang. Raut mukanya murung. “Kalau di kampung Nenek mau ngapain? Nggak ada orang, nggak ada kerjaan. Lebih baik di sini, ramai,” balasku cepat. “Iya, di sini memang banyak orang, tapi tidak ada yang punya mulut dan telinga. Hanya lalu lalang saja. Di kampung aku bisa menanam wortel dan tomat, bertemu teman-teman lama. Toh kami sudah sama-sama tua, mau apalagi?”. Suaranya sedikit bergetar.

Sudah sejak lama nenek mengutarakan keinginannya pindah ke kampung halamannya di tanah Sumatera. Ia sudah terlalu lama merantau. Ia rindu kembali dan menghabiskan masa tua di tempat ia memulai masa kecil. Para sahabat-sahabat sudah berkumpul di sana. Ia sering menelepon mereka dan merasa semakin iri. Namun anak-anaknya tak pernah setuju. Melepas Ibu mereka sendirian di rumah tua sangatlah beresiko. Lagipula tak ada seorang pun yang bersedia menemani. Masing-masing sudah berkeluarga dan tinggal terpisah-pisah.

Pernah suatu kali terjadi perdebatan hebat antara nenek dan anak-anaknya. “Kalau kalian khawatir, ayo temani Ibu pulang!” Nenek berkata kesal saat Dion, anaknya yang nomor dua bersikeras melarangnya. “Aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan yang sudah kurintis dari nol, Bu. Aku sudah berkeluarga. Kami tidak mungkin hidup di kampung. Anakku tidak mungkin bersekolah di sekolah kampung yang tidak berkualitas.” Dion menjawab dengan suara yang mulai meninggi. “Kamu lupa dulu sekolah di mana? Tapi sepertinya kamu baik-baik saja,” Nenek menjawab dengan nada yang hampir sama tingginya.

“Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat dengan manusia keras kepala seperti Ibu. Yang jelas keselamatan Ibu adalah yang paling penting.” Tutup Dion.

“Keselamatanku atau keselamatan kalian? Kalian tidak mengijinkanku pergi karena takut omongan orang-orang, kan? Bagaimana mungkin lima orang anak sukses dan kaya raya membuang ibu mereka ke kampung sendirian?” Napas nenek mulai tersenggal-senggal. Ia memberi kode padaku untuk memapahnya ke kamar. Yang lain diam tak bergeming. Kata-kata nenek mengambang di udara membuat anak-anak mereka sesak napas.

Usai makan malam, nenek lagi-lagi duduk di depan jendela kamarnya di lantai dua, menatap fokus ke rumah di seberang jalan. Aku mengajaknya bermain uno tapi sepertinya memperhatikan rumah kosong itu jauh lebih menarik. Aku pun mengambil kursi, duduk di sampingnya dan mulai membaca. Belajar untuk ujian kejar paket B minggu depan. Ya, aku memang hanya lulusan SMP dan nenek bersikeras aku harus mendapatkan ijazah SMA lalu kuliah.

“Kamu mau jadi pembantu seumur hidup?” Ujarnya tajam. Kata nenek, sepintar dan semahir apapun, selagi di Indonesia, orang lebih percaya diijazah daripada skill yang aku miliki. Ah, tapi aku belum tahu sanggup atau tidak untuk kuliah. Otak tak sampai, uang apalagi.

Aku tertidur hingga pagi di kursi dengan muka tertutup buku. Kulihat nenek tidak ada. Di kamar mandi, di dapur, di ruang makan, di ruang tamu, seisi rumah kusisir tapi nenek tidak ketemu. Kulihat keluar jendela ternyata nenek sedang menyeberang jalan. Ia ingin ke rumah itu! Aku berlari secepat yang kubisa dan menggamit tangannya.

“Nenek mau apa ke rumah itu?” Tanyaku ketakutan. Aku takut ia ditabrak sepeda motor yang sering melintas ugal-ugalan.

“Ada yang memanggil nenek. Dia mau berteman,” jawabnya santai.

“Teman? Tidak ada orang di sana, Nek. Pemiliknya sudah lama pindah,”

“Ah, tidak mungkin. Kami sering berbalas lambaian tangan dari jendela,”

Kali ini aku benar-benar ketakutan. Kutanyakan kebenarannya ke satpam dan Pak RT. Apakah masih ada yang menghuni rumah itu beberapa waktu belakangan. Jawaban mereka kompak. Pemilik lama masih pemilik sah rumah itu. Mereka hanya sedang melakukan perjalanan bisnis yang sangat lama. Mereka mungkin saja kembali lagi. Rumah itu ternyata masih memiliki tuan. Pada teman-teman aku pun bertanya soal rumah itu. Dan ternyata rumornya sudah menyebar cepat dengan bumbu yang luar biasa. Aku tak bisa percaya.

Aku menasehati Nenek berkali-kali agar jangan menyeberang jalan sendirian apalagi ke rumah itu. Karena memang tidak ada orang di sana. Entah siapa yang dilihat nenek. Ia mulai sering behalusinasi. Aku pun memberitahu majikanku. Ia bilang agar mengunci rumah saja supaya nenek tidak ke mana-mana. Aku menurut.

Tapi kebiasaan nenek tak pernah berubah. Tak sehari pun, usai makan malam, ia lupa untuk duduk khusyuk di depan jendela kamarnya. Tapi aku tak ingin kecolongan lagi. Kukunci seluruh pintu keluar dan menyembunyikannya di tempat yang tak mungkin diketahui nenek. Dan semua ternyata baik-baik saja. Aku tak terlalu mempersoalkan kebiasaannya lagi. Selama ia tidak membahayakan diri.

Tapi dibalik keteraturan, selalu ada hal tak terduga. Ibuku di kampung menelepon. Katanya aku harus segera pulang. Kakak perempuanku akan menikah. Aku pun akan dikenalkan dengan seorang tauke ikan asin di Desa. Mungkin aku akan dinikahkan juga. Tapi aku berjanji pada Nenek hanya sebulan di kampung. Tentu tidak akan menikah. Aku tidak mungkin meninggalkan nenek. Orang tua itu sudah seperti nenekku sendiri. Tapi majikanku punya pendapat lain. Sebulan terlalu lama. ia akan mencarikan pembantu baru untuk mengasuh nenek. Jika aku ingin kembali bekerja lagi di rumah itu, ia akan mempertimbangkannya. Ibuku tak bisa ditawar, begitupun Ibu majikan.

Dua hari sebelum berangkat, penggantiku datang. Masih sangat muda. Aku harus mentransfer semua ilmu dan daftar pekerjaanku selama ini untuk memudahkannya. Tugasnya hanya menjaga dan merawat nenek karena asisten rumah tangga untuk memasak dan bersih-bersih sudah ada. Dipagi hari ia harus membuka tirai jendela nenek dan membuatkannya jus campuran buah dan sayur. Ia harus berolahraga ringan sekaligus terapi. Mirna, begitu panggilannya, juga harus menghapal gerakan terapi karena nenek sering lupa. Lalu nenek makan berat dengan nasi dan lauk disusul dengan obat rutinnya. Pukul satu nenek tidur siang sekitar 1-2 jam. Siapkan cemilan sore nenek berupa buah atau roti yang lembut. Malamnya nenek harus tidur dengan lima bantal sebagai pengganti anak-anaknya. Segelas air putih di meja sisi kiri tempat tidur karena ia sering terbangun ditengah malam, kehausan.

“Satu-satunya manusia yang bisa mendengar dan berbicara di rumah ini akhirnya pergi.” Nenek berkata datar namun aku bisa melihat rona sedih memendar dari matanya.

“Aku akan kembali, Nek. Jaga kesehatan, dengarkan Mirna,” jawabku sambil memeluknya. Aku menangis. Nenek tidak.

Aku pulang ke Tasikmalaya dengan bus yang kunaiki dari terminal Lebak Bulus. Perjalanannya cukup lama, delapan jam. Tapi aku tak bisa tidur. Kutelepon Mirna menanyakan kabar Nenek. ia baik-baik saja, sedang tidur siang. Tapi aku masih tak tenang. Tak beberapa lama aku tertidur karena kelelahan. Tanpa sengaja aku bersandar ke bahu kakek di sampingku. Saat terbangun ia itu terkekeh, “Tidurmu berisik sekali, Nak.” Ternyata aku tidur sambil mengigau tak jelas. Mataku basah.

Dikampung aku tak sempat menelepon. Persiapan pesta ini sungguh melelahkan. Aku harus kesana kemari mengurus detail-detail yang menurutku tak begitu penting. Ibu dan Bapakku terlihat bahagia, anaknya menikah dengan juragan sawit dari Kalimantan. Katanya begitu. Toh kalimantan jauh. Siapa yang tahu? Ditengah-tengah riuh pesta, salah seorang keponakanku berlari sambil memberikan telepon genggam padaku. Katanya ada telepon dari Jakarta. Penting.

Nenek meninggal. Ia pergi saat tidur siang. Bapak dan Ibu di kantor. Mirna ke warung membeli mi ayam. Ia meninggal sendirian, tak merepotkan, seperti keinginannya. Sayangnya ia tidak pernah pulang dan menghabiskan hari-hari terakhir di kampung halamannya yang sejuk itu. Usai pesta aku langsung berangkat ke Jakarta berharap masih bisa menghadiri pemakamannya. Rumahnya penuh sesak orang melayat. Kerabat, sahabat dan kolega nenek saat masih jadi orang penting. Ditambah lagi teman anak-anak dan rekan bisnis mereka. Keluarga ini cukup terkenal rupanya. Tapi mengapa ketika nenek masih hidup, tak satupun terlihat batang hidungnya? Aku takut salah menterjemahkan antara kesedihan dan kelegaan di wajah anak-anaknya. Aku menyalami mereka menyampaikan duka. Majikanku memberiku sepucuk surat yang ternyata ditulis langsung oleh nenek. Ia telah mendaftarkanku di sebuah universitas terbaik di Jakarta dan menanggung biayanya hingga aku lulus. Sera biaya hidup dan bersenang-senang. Aku tak mengerti bagaimana ia melakukannya. Ia hanya diam di rumah seharian. Ah, tapi orang tua seperti dia akan selalu menemukan cara.

Aku rindu nenek. Selama ini takdirku selalu dipilihkan oleh orang lain. Tapi setidaknya nenek memilihkan yang baik. Oh ya, belakangan aku tahu bahwa hanya aku satu-satunya yang ditulisi surat oleh nenek. Soal warisan, semua diurus pengacara keluarga.

Suatu hari, dijalan pulang ke kos-kosan, Marisa menelepon. Katanya komplek sedang geger. Ditemukan mayat perempuan tua yang sudah membusuk di kamar mandi rumah angker itu! Diduga ia adalah Ibu pemilik rumah yang hingga saat ini tidak bisa dihubungi. Keluarga lain pun tak ada. Sepertinya mereka sedang di luar negeri. Barangkali sedang presentasi atau bermimpi.


Actions

Information

One response

12 10 2015
Sleeping Beauty

Ceritanya agak terduga tp dibawakan pake gaya yang keren, jadi tetep seru dan penasaran bacanya. Kena jg sindirannya kalo kasih anak hanya sepanjang jalan. Jadi takut tua dan kesepian dong.
Btw, paket B itu setara SMP. Jd si aku mestinya skrg paket C ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s