Kembali Pada yang Tak Ada

27 10 2015

pergi

Akhir tahun 2011 S memutuskan untuk pergi merantau. Meninggalkan Padang. Tempat S bersekolah, bergaul, membuat ikatan pertemanan, tumbuh besar dan jatuh cinta. Hampir seluruh teman-teman S berasal dari Padang dan sekitarnya. Kalaupun ada dari daerah lain, jumlahnya tak banyak dan tak begitu dekat secara pribadi.

S belum pernah bepergian jauh sendirian. Dengan bus apalagi pesawat terbang. Biasanya selalu ditemani kerabat atau teman-teman. Lebih sering dengan pacar yang posesif. Luar Sumatera Barat amat asing bagi S. Meskipun sudah ada internet, buku dan televisi yang menayangkan tentang kota-kota besar itu, tetap saja S tak menghayatinya. S adalah jenis yang perlu mengalami langsung agar paham.

Merantau adalah salah satu hal yang ingin S alami sendiri. Bagi sukunya, Minangkabau, merantau merupakan hal biasa. Terutama bagi anak laki-laki. Keinginan untuk datang ke daerah yang sama sekali baru telah diturunkan dari nenek moyang. Bukan untuk sekedar mencari uang tapi juga ilmu dan pengalaman. Ada yang kembali, kebanyakan menetap dan menikah dengan penduduk asli. Saat para perantau itu pulang sebentar menengok orang tua mereka yang mulai renta, mereka menyebar cerita. Bahkan penampakan mereka saja sudah menjadi topik hangat. Barangkali itu yang membangunkan para anak muda yang setengah teler untuk mengikuti jejak mereka.

Akan tetapi semua alasan tersebut tak berlaku bagi S. Uang dan pengalaman hanya bonus. Merantau adalah usaha (yang diharapkan) dapat mengembalikan harapan dan kepercayaannya. Harapan bahwa hidup bisa lebih baik dari ini. harapan bahwa ia bisa membuat orang lain bahagia. Harapan bahwa selalu ada harapan. Dan tak ada salahnya untuk berharap. Ia ingin bisa percaya lagi pada manusia. Setelah begitu banyak yang mengkhianatinya. Dan siapa tahu dengan pergi ia akan merindukan dan dirindukan. Terdengar pilu dan indah sekaligus.

Ia selalu punya ketertarikan yang kelewat besar untuk mencoba, melepaskan yang sudah ada demi hal abstrak yang asing. Ia kadang jatuh dan gagal. Kadang tertawa lepas walau sebentar. Entah apa yang dicarinya. Tabiat ini terasa ganjil bagi sebagian besar orang dekat S. Ia sering bahkan terlalu sering dilanda kebingungan dalam mengambil keputusan. Ia sendiri tapi tak sendirian. Ia di negeri asing namun selalu dikenali. Ia bebas namun sulit bergerak. S berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Dari satu kota ke kota lain.

Jika kembali ketempat semula kau berawal bisa dikatakan pulang, maka S hari ini melakukannya. Ia pulang menemui Ibu, Ayah dan adik satu-satunya. Sekali lagi, ia membuat orang-orang sekitar bertanya-tanya. Apa yang tengah ia rencanakan? Maka, demi mengurai segala kebingungan-kebingungan itu, S memutuskan untuk menuliskan semua cerita dari perjalanannya, apa yang ia pikirkan, alami dan mengapa akhirnya ia kembali. Semoga para tetangganya yang usil itu membaca tulisan ini. Serta teman-temannya yang hamil segera melahirkan. Amin.

Padang, 26 Okt. 15


Actions

Information

2 responses

28 10 2015
Novri Auliansyah

lama ga berkunjung, ternyata masih rajin menulis..
keren

28 10 2015
sonyawinanda

iya, agar kepala tidak cepat meledak! terimakasih sudah berkunjung sejak lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s